The Dinner (morandi 's drawer gallery)

“Aku menghormatinya dengan mengajaknya adu argumentasi. Aku menghormatinya dengan menghantam pikiran-pikirannya yang ternyata banyak keliru. Aku pikir dia akan merasa ditantang pikiran dan keyakinannya.”

Cerpen Umar Kayam berjudul Musim Gugur Kembali di Connecticut[1] telah saya baca entah untuk kesekian kalinya. Kali ini saya membacanya di kantin kampus ketika menunggu sesi perkuliahan selanjutnya. Dasar namanya iseng, saya lalu tertarik untuk membandingkan dialog dalam cerpen tersebut dengan percakapan antar mahasiswa masa kini yang notabene adalah pilar intelektual. Bukupun saya tutup, dan terdengarlah percakapan di sekitar (dengan kesadaran penuh bahwa yang diungkap di area publik adalah milik publik, saya meyakinkan diri bahwa apa yang saya lakukan bukanlah pelanggaran privasi): Meja sebelah asyik berbicara tentang film hantu yang sedang up to date, membandingkannya dengan film-film hantu lain yang tidak kalah up to date. Meja lain asyik berbicara tentang “cowo keren” berbintang Sagitarius. Meja lain sepi, tenggelam dalam dunia maya khayali masing-masing. Lalu di meja ujung, terdengar samar-samar perbincangan tentang penyanyi kontemporer yang rupa dan musiknya saya tidak kenali sama sekali.

Sekilas, percakapan di kantin kampus saat ini sama sekali tidak mencerminkan gairah intelektual. Entah jika mahasiswa saat ini memiliki kode budaya dan bahasa politik tersendiri, sehingga mungkin saja ketika mereka membicarakan drama korea, pada dasarnya mereka tengah berpolitik. Toh pemikir sekelas Anthony Giddens saja menyatakan bahwa saat ini politik tidak lagi dikemas dalam bungkus ideologis, tapi berada pada tataran kehidupan keseharian. Bahasa ilmiahnya, Life Politics – sebuah proses aktualisasi politik dalam konteks post-tradisional, dimana penyebaran nilai global memiliki peran dalam menentukan identitas diri[2]. Sehingga hasilnya adalah obrolan kantin kampus masa kini: riuh dengan perebutan ruang identitas – antar berbagai genre film, antar penyanyi kesayangan, antar ustadz favorit, atau antar pejuang kemanusiaan berbagai versi. Namun, sekuat apapun saya coba mengingat dan mencerna, hampir delapan puluh persen dapat dipastikan saya tidak paham apa yang tengah dibicarakan. Akhirnya karena sia-sia, keisengan menguping pun terpaksa saya sudahi. Saya pun kembali ke dunia Umar Kayam dengan berbagai intrik politik didalamnya.

“Ini semua, Bung, yang kukatakan argumentasi berbahaya. Racun Borjuasi! Tidak pernah kau membuat analisis secara konkret, jelas, dan mudah dimengerti. Jalan pikiranmu muter muter. Tidak dialektis, apalagi mampu kasih pengarahan yang tepat. Watak pekerja ilmu yang revolusioner dan progresif, sorry saja, tidak kau miliki!”.

Hampir setengah dari cerpen Musim Gugur Kembali di Connecticut berisi tentang perdebatan ideologis para tahanan politik Himpunan Sarjana Indonesia (HSI) dan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dalam sebuah penjara. Kiranya dengan membaca cerpen ini, pahamlah kita bagaimana situasi dan obrolan yang (dapat) muncul diantara para tawanan politik jika mereka disesakkan dalam satu sel pengap. Berbagai kejadian dan dialog yang menjadi setting cerpen ini, berada dalam kenangan Tono, seorang ex-tahanan politik yang dipenjara atas aktivitasnya dalam pergerakkan organisasi politik di Indonesia era 1960an. Dalam cerpen ini kita diajak memasuki pemikiran Tono – mulai dari sejarah pendidikannya yang mapan di Amerika, pandangan politiknya dan alasan dia bergelut dalam organisasi politik beraliran kiri. Kontestasi ideologi semakin mencuat ketika muncul tokoh Samsu yang senantiasa menjadi lawan seimbang bagi Tono (yang selalu menganggap Tono terlalu liberal). Melalui percakapan kedua tokoh tersebut, sedikit banyak kita dapat merangkum berbagai pandangan tentang liberalisme, sosialisme dan terkhusus sosiopolitik tanah air pada era tersebut.

Rentetan argumentasi ideologis terhenti ketika Tono terbangun dari tidurnya sekaligus dari kenangannya. Kita lalu disuguhi percakapan panjang antara Tono dan Istrinya. Tentang cerita yang baru dirampungkan Tono (selepas dari penjara Tono adalah Tawanan Rumah yang kemudian menulis fiksi yang tidak berhubungan dengan politik sama sekali). Tentang buku. Tentang daster. Tentang makanan. Juga tentang kelahiran bayi yang mereka tunggu. Namun semua itu tidak memberikan kesan bahwa permasalahan sudah usai. Bahkan lelucon yang dilontarkanpun tetap berwarna gelap. Dan klimaks cerpen ini adalah suara ketukan di pintu yang menghentikan percakapan dan gelak tawa. Lalu Tono pun dibawa oleh pasukan bersenjata untuk menghadapi masa lalunya.

“Di depan Tono, di balik jendela depan jip, tidak ada kelabu tembok penjara yang dia begitu kenal. Pohon karet yang dia lihat menjelma pohon marple yang berderet di pedesaan Connecticut. Daunnya yang kuning, merah, coklat, ungu. Bajing melompot diantara daun yang berserakkan di bawah. Dia pun tahu musim gugur telah kembali di Connecticut.”

Lagi-lagi cerpen Umar Kayam membuat saya merinding, walau entah berapa kali saya sudah tamat membacanya, potret hukuman mati Tono tetap mencekam. Kali ini Tono mengingatkan saya akan karakter-karakter gubahan Umar Kayam lain yang memiliki karakter serupa. Sebut saja Bawuk dalam cerpen berjudul sama (Bawuk), atau Sri Sumarah dalam cerpen yang juga berjudul sama (Sri Sumarah). Keduanya digambarkan memiliki karakter kuat untuk mampu bertahan dalam kondisi terburuk yang dapat dibayangkan. Namun saat ini, Tono, Bawuk ataupun Sri Sumarah sudah langka ditemui. Menurut Ulrich Beck realita masa kini dipenuhi dan dibangun oleh “orang-orang lepas kendali”[3]. Penggambaran Beck tentang “orang-orang lepas kendali” ini nampaknya adalah kebalikan dari karakter yang hadir dalam cerpen Umar Kayam yang cenderung mampu menguasai diri. Menurut Beck sistem yang ada menempatkan “orang-orang lepas kendali” pada posisi “sutradara atas panggung identitas, pemegang tali kekang jaringan sosial, dan pengatur komitmen serta keyakinan”[4]. Konsekuensinya adalah bentuk partisipasi politik modern (life politics) yang semakin rentan konflik. Giddens menyatakan, alih-alih mengartikulasikan sebuah gagasan politik, individu yang lepas kendali ini, malah diartikulasikan oleh gagasan tersebut[5]. Hasilnya dapat dibayangkan: sebuah jejaring gagasan dimana masyarakat hanya menjadi katalis, dengan identitas sebagai bahan bakarnya.

Ketika potret masyarakat yang rentan[6] konflik terpampang di depan mata, sungguh saya berharap orang-orang seperti Tono dapat hidup kembali. Kegigihan Tono untuk menggali pemahaman yang ia yakini hingga ke berbagai akar filsafat, membuatnya memiliki argumen kuat dalam setiap perdebatan. Juga tokoh Samsu yang menjadi lawan debat Tono. Layaknya utara-selatan, mereka bersebrangan namun saling menghormati pendapat. Juga pada tokoh-tokoh lain dalam cerpen Umar Kayam, kita menemukan gambaran otensitas yang menurut Giddens mampu menyelematkan masyarakat dari kondisi tanpa daya. Dengan bertanggung jawab atas gagasannya, seseorang akan mengembangkan sisi otentik diri, melalui pemahaman yang lengkap atas sejarah dan perubahan sosial disekitarnya[7]. Dalam salah satu dialog terakhir antara Tono dan Samsu – Tono berujar, “Aku bosan dengan diskusi politik dan kebudayaan”. Kata-kata ini merupakan sebuah metafora akan pencarian otensitas yang dilakukan Tono, sebuah perpisahan pada gagasan yang dirasa tidak lagi sesuai dengan dirinya. Dan andai saja…..andai saja, di kantin kampus ini terdengar seorang mahasiswa berujar “Aku bosan dengan semua obrolan remeh temeh tentang hiburan tidak bermutu ini”, maka dengan senang hati saya akan menjabat tanggannya – dengan jabat tangan yang otentik tentunya, hehe.

Keterangan dan Sumber:

[1] Kayam, Umar, 2003, “Musim Gugur Kembali di Connecticut”, Seribu Kunang-kunang di Manhatan, Grafiti, Jakarta

[2] Giddens, Anthony, 1991, Modernity and Self-identity, Polity Press, London

[3] Beck menggunakan frase “unmoored individual” yang secara harfiah unmoored memiliki padanan kata “baut lepas

[4] Beck, Ulrich, Anthony Giddens, dan Scott Lash, 1994, Reflexive Modernization: Politics, Tradition and Aesthetics in the Modern Social Order, Polity Press, Cambridge

[5] Giddens, ibid.

[6] Beck, Ulrich, 1992, Risk Society: Towards a New Modernity, Sage Publication, London

[7] Giddens, opcit.

3 COMMENTS

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?