Modernitas yang saat ini dianggap telah usang, karatan, dan dituding sebagai akar dari banyak permasalahan – ternyata tidak selamanya payah. Bagi yang terlahir di penghujung abad 20, kata modern memang lebih dipahami sebagai sebuah “kondisi” daripada aliran filsafat – yaitu sebuah tatanan masyarakat yang ditopang oleh kemajuan (progress). Untuk mencapai kondisi idealnya modernitas kerap menampilkan sisi agresif: layaknya kendaraan penghancur, ia melindas berbagai hambatan mulai dari nilai tatanan sosial, jarak, ruang dan juga waktu. Dalam banyak sisi, modernitas adalah sebuah dunia yang dipadatkan sehingga hampir tidak ada ruang tersisa untuk imajinasi – karena setelah sebuah kemajuan tercapai, mereka tidak punya impian selain mencapai kemajuan berikutnya. Entah berapa banyak pujangga yang telah menggambarkan potret hampa masyarakat modern – mulai dari T.S Elliot yang memberikan julukan “hollow men”, atau “angelheaded hipsters” dalam versi Ginsberg, hingga analogi “perjalanan menuju tiang gantungan” yang digambarkan oleh Chinua Achebe dalam Things Fall Apart – kesemuanya memberikan gambaran betapa modernitas adalah lintasan menuju kehancuran. Namun tidak selamanya ia memiliki wajah tanpa ekspresi – kita dapat menemu sisi lain dari modernitas melalui karya-karya Bertolt Brecth, sang figur terkemuka teater modern Jerman. Didalamnya terdapat wajah modernitas yang dapat menjelaskan argumen tanpa kehilangan imanjinasi (walau dengan agresivitas yang sama).

Perkenalkan, Baal – nama tokoh utama sekaligus judul bagi naskah drama Brecht – seorang penyair anarki, begundal kelas satu yang meletakkan kekuatan intelektualitas diatas segalanya. Baal digubah Brecth pada tahun 1918 ketika ia berusia 20 tahun, dan merupakan naskah drama pertamanya (sebelumnya Brecth menulis prosa dan puisi). Selain merupakan karya debut, Baal memiliki tempat penting dalam jajaran karya Brecth karena dua hal: Pertama, Baal menjadi prototipe bagi karakter anti-hero selanjutnya yang dikembangkan oleh Brecth – karakter-karakter khas modernist radikal yang membedah jiwa dan mengkonfrontir rasionalitas kaku demi kemajuan intelektualitas manusia, yang dalam pencapaiannya, tokoh-tokoh Brecht tidak pernah menempuh jalan konvensional. Kedua, melalui Baal, Brecth memperkenalkan gaya teater modern sebagai bentuk kritik atas teater tradisional yang menurutnya “penuh dengan gagasan psikologi murahan”. Gagasan ini menempatkannya sebagai figur utama dalam teater modern, sehingga dalam khasanah darmatugi, nama Brecth disandingkan dengan Shakespeare dan Ibsen. Pada dunia nyata, kehidupan Brecth tidak kalah dramatis. Ia diasingkan dalam waktu lama karena kegiatan politiknya bersama partai komunis di Berlin. Tahun 1933 ia diasingkan ke Denmark, lalu dialihkan ke Amerika Serikat. Setelah perang dunia berakhir dan Nazi kehilangan kekuasaan, Brecth dapat kembali menginjakkan kaki di Jerman. Saat itu adalah tahun 1947, dan setahun kemudian ia mementaskan drama berjudul Herr Puntila und sein Knecht Matti  (Herr Puntila and His Man Matti), mengangkat kisah tentang (ir)rasionalitas yang diusung Hitler dalam mencapai kekuasaannya – sebuah pernyataan kemenangan Brecth atas pandangan politik, dan juga kebebasan artistik.

Sejak permulaan karir, Brecth memilih untuk mengekspos immoralitas (daripada menutupinya). Pandangan ini memberikan hentakkan pada dunia teater Jerman saat itu sehingga drama-drama awalnya kerap menghadapi pelarangan atau sensor yang ketat (Baal yang ditulis tahun 1918 baru dapat dipentaskan sepuluh tahun kemudian). Butuh beberapa waktu bagi Brecth untuk menjelaskan pijakan estetikanya pada publik – bahwa apa yang ia tampilkan berakar dari gagasan filsuf kenamaan Jerman, Friedrich Schiller. Dalam catatannya yang berjudul “The Modern Theatre Is the Epic Theatre” (1930), Brecth mengelaborasi gagasan Schiller tentang estetika modern. Schiller meletakkan secara mutlak kebenaran atas keindahan (the Good is the Beautiful) yang dapat dicapai ketika seseorang memiliki jiwa yang indah (die schöne Seele/the beautiful soul). Karakter dalam karya Brecth pun bernafas dengan cara yang sama – namun, Brecth kemudian mengangkat sebuah realita pahit: bahwa konsepsi keindahan terhalang oleh pemisahan intelektual dan kemampuan imajinatif. “There are some with brains and some without. It makes for a better division of labour”  adalah pembagian kelas ala Brecth yang diletakkan tidak pada kepemilikan modal, tapi pada kemampuan intelektualitas.  Alhasil, keindahan pun memiliki “pembagian kelas”. Baal adalah manifestasi nyata dari gagasan ini: ia adalah jenius dalam berbagai bidang, seni, sains, politik, hukum, astronomi – singkatnya seorang borjuis intelek. Namun di saat yang sama, Baal adalah seorang modernist radikal yang mengejar kemajuan hingga titik paling ekstrem – pengejaran ini membuatnya melakukan sesuatu yang khas modernist: menghilangkan segala hambatan, mulai dari mempermalukan pemuka masyarakat yang ia anggap konvensional, menelantarkan pasangannya yang tengah mengandung, hingga membunuh sahabatnya sendiri. Dalam pandangan masyarakat luas, ia tidak lebih dari berandalan (Punk) dan buronan polisi, seseorang yang tidak memiliki arti dalam tatanan masyarakat. Namun dalam karya Brecht, sosok ini menjelma menjadi pahlawan super yang menempuh jalan terjal menuju kemurnian jiwa – dengan substansi keindahan yang hanya dipahami oleh sesama ubermencsh.

Sepak terjang Baal mengingatkan pada celoteh Bertrand Russel dalam esaynya “Social Cohesion and Human Nature” (1949). Russel menyatakan bahwa untuk mencapai kemajuan seseorang memerlukan inisiatif individu, sedangkan untuk bertahan seseorang membutuhkan kohesivitas sosial. Modernitas radikal Baal sesuai dengan konteks individualitas yang dikemukakan oleh Russel, bahwa tidak ada kemajuan berarti yang akan dihasilkan apabila seseorang tetap berpegang pada nilai-nilai kesepahaman sosial (Russel mencontohkan kohesivitas sosial dalam pola kerja lebah dan semut, tapi harus diakui bahwa dalam kehampaan modernitas, manusia rentan berubah menjadi lebah dan semut). Baal, dalam hal individualitas tidak ada tandingannya. Ia menarik inisiatif individu pada titik paling ekstrim, dimana ia sama sekali terputus dari rasionalitas masyarakat. Pada titik inilah Brecht menampilkan sisi paling kejam dari modernitas, yaitu isolasi. Kesendirian Baal digambarkan Brecth melalui pegembaraannya di hutan Bavaria dan meninggal di sebuah gubug terpencil. Baal adalah tragedi dari modernitas, mungkin karena dianggap “terlalu mengganggu (kesadaran)”, maka naskah ini jarang dipentaskan. Sejak pertama kali ditampilkan pada tahun 1928, tercatat hanya empat kali Baal diproduksi ulang secara luas, salah satunya disutradarai oleh Alan Clarke untuk BBC1 pada tahun 1982. Dalam produksi ini, Baal diperankan oleh aktor ekletik David Bowie. Namun versi ini adalah versi yang diperhalus, karena banyak adegan dalam naskah Brecth yang (masih tetap) dianggap terlalu mengganggu untuk ditayangkan.

Terlepas dari tragedi dalam Baal, modernitas menjadi ciri tersendiri bagi Brecth. Karya-karyanya kemudian dikenal sebagai tonggak teater modern karena mendobrak pendekatan Aristotelian dalam teater tradisional yang menekankan pada bangun jembatan emosional antara penonton dengan para tokoh. Dalam tradisi ini, keberhasilan plot adalah ketika mampu menyatukan emosi penonton dengan sang tokoh, namun Brecth berpandangan lain: the human being is the object of inquiry – oleh karenanya, tokoh dan penonton dibuat berjarak (dalam Baal, berbagai adegan immoral disajikan untuk membangun jarak emosional ini). Dengan keberjarakan, maka teater dapat didekati secara rasional. Perubahan pola ini dilakukan Brecth tidak hanya pada pengubahan plot tapi juga pada tata laku pemain (dimana pemain dapat memberikan interpretasinya atas sang tokoh) dan pengaturan musik yang bertujuan – bukan untuk membangun plot – tapi untuk menggangu penonton agar tidak terlalu tenggelam dalam cerita. Teatre di tangan Brecht menjadi sebuah katalis intelektual, dalam esaynya “On Poetry and Virtuosity” (1951) Brecth menyatakan: “For it is a peculiarity of the theatrical medium that it communicates awarenesses and impulses in the form of pleasure”. Peculiar atau keganjilan multimakna adalah ciri yang akan kita temukan dalam karya-karya Brecth. Salah satu contoh ganjil ini hadir ketika menyaksikan Baal sekarat seorang diri – adegan ini menampilkan kengerian betapa kemajuan (intektual) adalah kutukan atomistik yang menjadikan individu sama sekali terpisah dari masyarakat. Tapi yang memberikan pukulan telak adalah kesadaran seketika: bahwa modernitas adalah sebuah jalan satu arah, jalan manapun yang dipilih (apakah itu kehancuran atomistik ala Baal, atau kehampaan total seperti lebah dan semut), manusia modern seakan dikutuk untuk menghadapi kehancurannya. Dengan teater ganjil inilah, Brecth menampilkan modernitas dalam bentuknya yang paling telanjang.

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?