This great evil, where does it come from?

How did it steal into the world?

What seed, what root did it grow from? 

Who’s doin’ this? Who’s killin’ us?

Robbing us of life and light…

Oh  my soul let me be in you now, 

Look out through my eyes, 

Look out at the things

you’ve made All things shining [1]

      Hijrah. Rantau. Dalam bahasa Tetum disebut dengan lemorai. Di kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Sumedang Jawa Barat, terdapat sebuah dusun yang ditinggali oleh orang-orang Timor Leste. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan kampung Timor atau Babakan Timor. Awalnya, saya mendengar tentang keberadaan kampung ini sebagai tempat pembuangan orang-orang Timor, mungkin terkait dengan konflik politis yang memuncak di Timor Timur tahun 1999. Dalam bayangan saya, kampung ini dipenuhi oleh mereka yang sekarang menjadi bekas anggota milisi pro-integrasi (Indonesia) seperti Aitarak, Laskaur, Besi Merah Putih yang akrab dengan catatan pelanggaran HAM saat terjadi konflik 1999, yang tidak dapat kembali ke Timor Leste terkait kejahatan yang mereka lakukan. Tiba disana, dusun ini lebih terlihat seperti kompleks pesantren atau asrama yatim-piatu dengan gedung asrama dua tingkat, beberapa ruang kelas, sebuah kantor pengurus, dan rumah-rumah kayu sederhana. Beberapa anak kecil terlihat bermain di halaman sekitar. Anak-anak dengan kulit gelap, tulang rahang yang kuat, dan beberapa diantaranya berambut keriting. Persis seperti gambaran fisik etnis Melanesian yang mendiami wilayah-wilayah timur kepulauan Nusantara. Lalu siapa anak-anak itu? Saya mengira mereka adalah generasi yang terusir dari tanah airnya akibat konflik yang sama sekali tidak dipahami oleh mereka. Konflik yang hidup dan dikobarkan oleh golongan-golongan yang berkepentingan entah untuk apa, yang harus dibayar oleh bocah-bocah yang belum mengerti tentang kenyataan yang harus mereka alami.

            Saya bertemu dengan Pak Arif Marzuki, seorang WNI, juga seorang mualaf yang berasal dari Distrik Baucau, Timor Leste. Nama baptisnya saat dilahirkan adalah Martino Valera. Tentang kampung Timor, ia menjelaskan bahwa ini adalah sebuah lembaga yang dibangun oleh orang-orang Timor perantauan di Jawa Barat sejak 1998 : Yayasan Lemorai Timor Indonesia. Para penggagasnya adalah Pak Arif (Martino Valera) sendiri dan Hasan Basri (Roberto Freitas). Keduanya adalah mahasiswa Timor yang disekolahkan di kota Bandung oleh pemerintah Republik Indonesia sejak tahun 1990-an. Dalam pendiriannya, yayasan ini bertujuan untuk menampung anak-anak Timor yang tidak mampu secara ekonomi untuk dapat mengenyam pendidikan dasar sampai menengah atas. Melihat pada kenyataan bahwa menjelang periode referendum, eskalasi kekerasan dan konflik di Timor Timur sangat tidak memungkinkan untuk memperoleh akses pendidikan, Yayasan Lemorai menjadi pintu masuk bagi generasi Timor untuk memperoleh pendidikan layak.

       Selanjutnya saat tragedi kemanusiaan pecah di Timor Timur pasca referendum 1999, yayasan ini juga menanungi para korban, terutama anak-anak di pengungsiaan Atambua, NTT (walau dalam jumlah sangat kecil) untuk tinggal dan mendapat pendidikan. Prioritas, terutama bagi anak-anak korban konflik ini disebabkan karena kondisi di tempat pengungsiaan sangat rawan bagi pertumbuhan mereka : trauma, derita kehilangan anggota keluarga, pengabaian hak-hak dasar sebagai anak dan masa depan yang tidak menentu. Dengan dana yang tidak begitu banyak juga keterbatasan daya, para pengurus yayasan ini paling tidak dapat membantu sebagian anak-anak yang menjadi korban kekerasan tersebut dengan memberikan tempat tinggal dan lingkungan yang layak untuk mereka tumbuh : pengasuhan, perhatian, dan pendidikan. Tidak hanya sampai jenjang menengah atas, para pengurus juga berusaha menyekolahkan anak-anak tersebut ke jenjang universitas yang ada di wilayah Jawa Barat. Setelah mereka lulus, mereka dipulangkan kembali ke tanah kelahirannya untuk membangun Timor Leste yang sedang bertumbuh sebagai bangsa merdeka. Sebuah tugas mulia. Bahwa kehidupan tidaklah berhenti di titik penderitaan. Bahwa nasionalisme tidaklah mengharap pamrih.

 Matebian, Kejahatan Perang dan Bencana Kelaparan

     Tentang konflik yang mendera Timor Leste selama 24 tahun pendudukan militer Indonesia, Pak Arif (Martino) bercerita panjang. Ia dilahirkan pada tahun 1968 di desa Venilale. Subdistrito Osogori, Distrik Baucau saat Timor Leste masih menjadi koloni Portugal. Kedua orangtuanya yang Katholik mengharapkan agar ia menjadi seorang pastor kelak saat besar nanti. Pastor yang dapat memberikan pelayanan pada Tuhan dan umatnya, dan yang juga dihormati oleh masyarakat karena selalu mengajarkan kebaikan, kasih terhadap sesama, dan perdamaian yang menjadi langka di bumi Lorosae. Ayahnya, Abel Valera adalah seorang Tropaz, tentara pribumi yang berdinas dalam ketentaraan kolonial Portugis. Bekerja untuk penjajah? Saya tidak berani menilai. Karena setiap kita dituntut untuk berlaku adil sejak dalam pikiran. Bahkan orang-orang Ambon dan Jawa yang bergabung dalam tentara KNIL (Belanda) lalu dimobilisasi untuk menginvasi Aceh, mereka hanya orang-orang biasa yang sama membutuhkan nasi atau roti untuk sekedar mengisi perutnya. Iklim penjajahan membuat mereka, termasuk Abel Valera menjadi terasing. Tanpa pendidikan, sang gubernur jenderal membiarkan rakyat koloninya lestari dalam kebodohan, lestari dalam ketidaktahuan.

          Tahun 1975, ketika kekuasaan Portugis di wilayah-wilayah koloninya, termasuk Timor mulai goyah oleh  dampak Revolusi Anyelir di Portugal setahun sebelumnya, Fretilin memproklamasikan kemerdekaan Timor Leste setelah memenangi perang sipil dengan pihak UDT yang menghendaki Timor menjadi protaktorat Portugal. Abel Valera meletakan senjata, ia hanya ingin bertani. Ia dan keluarganya hanyalah orang biasa yang ingin hidup tenang dan damai. Tak peduli dengan siapapun yang selanjutnya berkuasa. Pada bulan Desember tahun yang sama, militer Indonesia mulai melancarkan invasi militer (dalam sandi “Operasi Seroja”) untuk menduduki Timor Timur. Ini merupakan respon Jakarta atas Deklarasi Balibo yang diprakarsai oleh empat partai minoritas (Apodeti, UDT, KOTA, Trabalhista) yang tidak mau mengakui proklamasi Fretilin, sebaliknya ingin berintegrasi dengan Indonesia. Harum kayu cendana ternyata menggugah hasrat Jenderal Suharto untuk ‘mengintegrasikan’ Timor Timur kedalam NKRI lewat invasi militer dan mengenyahkan ‘setan-setan komunis’ Fretilin. Perangpun kembali pecah. Abel Valera tetap tidak ingin mengangkat senjata. Ia jenuh, lelah. Ia hanya ingin memanggul pacul saat pergi dan pulang berladang. Terlebih Martino kecil yang tidak mengerti siapa itu Fretilin, apa itu Deklarasi Balibo, dan kenapa desanya harus menjadi medan tempur.

      Kota Dili jatuh ke tangan militer Indonesia lewat serangan gabungan dari darat, laut dan udara. Bagaimanapun, bagi militer Indonesia, kemenangan masih jauh dan perang tidaklah berjalan dengan cepat dan mudah. Pasukan Falintil (Forcas Armadas de Libertacao Nacional de Timor Leste; sayap bersenjata Fretilin) mundur ke distrik-distrik pedalaman untuk selanjutnya bergerilya di hutan dan gunung. Demi tujuan pendudukan total, militer Indonesia terus berusaha mendesak mereka lewat operasi militer lanjutan di tahun 1978 – 1979 : kampanye pemboman terhadap wilayah pedalaman yang dijadikan basis gerakan Falintil, tanpa memperdulikan berapapun harga yang harus dibayar. Di Gunung Matebian, masih dalam distrik Baucau, Martino kecil beserta keluarganya juga seluruh penduduk desa berbondong-bondong mengungsi, menghindar dari serangan udara yang dilancarkan pesawat-pesawat tempur militer Indonesia terhadap desa-desa penduduk juga lahan pertanian disekitarnya. Berbulan-bulan lamanya mereka bertahan hidup di gua, lembah, dan hutan gunung Matebian, berlindung dari gempuran militer Indonesia. Bagi Martino, deru mesin jet tempur dan baling-baling helikopter Indonesia yang memekak mendekat ke desanya tak lain adalah kengerian yang amat sangat, pertanda bahwa kematian sudah dekat di depan mata. Ia dan penduduk desanya menghambur mencari selamat.

     Saat Pak Arif (Martino) menuturkannya, bayangan di pikiran saya mengarah pada sebuah foto terkenal dari seorang jurnalis pemenang Pulitzer yang menggambarkan bocah-bocah menjerit, berlari ketakutan, menyelamatkan diri dari serangan bom napalm, agent orange pesawat tempur Amerika yang menyasar desa Trang Bang di Vietnam. Mungkin kengerian seperti itu pula yang dialami Martino kecil dan penduduk desa lainnya saat jet dan helikopter tempur militer Indonesia meraung melepaskan tembakan dan memuntahkan bom. Pelarian ke gunung berarti juga harus siap menghadapi derita, berhadapan dengan kematian yang setiap saat mengancam. Seorang adiknya tewas karena kelaparan. Alam Timor sebenarnya subur, tetapi dengan musim kemarau yang lebih panjang, ditambah pengepungan dan pemboman dari militer Indonesia, para exodus tersebut tidak dapat lagi mengolah ladangnya juga tidak dapat banyak mengandalkan bahan makanan dari hutan. Pada akhirnya bencana kematian akibat kelaparan menjadi tak terelakkan. Terlebih, air begitu langka untuk ditemukan saat musim kemarau tiba. Selain adiknya yang menjadi korban, ada beberapa keluarga yang kesemuanya tewas akibat terkurung dalam sebuah gua yang menjadi sasaran pemboman bertubi-tubi dari militer Indonesia. Mereka terkurung tanpa akses untuk keluar, tanpa makanan, juga tanpa air. Menjadi pemandangan yang biasa saat Martino kecil menyusuri hutan Matebian untuk mencari makanan, mayat-mayat penduduk sipil bergelimpangan, tewas karena kelaparan juga serangan bom militer Indonesia. Dalam kondisi seperti itu, penduduk tidak lagi berpikir tentang hidup, melainkan diharuskan memilih kematian dengan cara apa yang akan mereka hadapi : kelaparan, penyakit, atau bom.

    Pengepungan dan pemboman selama berbulan-bulan di Gunung Matebian pada akhirnya berhasil melumpuhkan sisa kekuatan gerilyawan Falintil. Tentara Indonesia merangsek masuk. Kontak dengan penduduk sipil dan upaya merelokasi merekapun dilakukan. Seolah derita di Matebian belum cukup, Martino kecil dan penduduk lainnya harus mengalami isolasi di kamp oleh militer Indonesia. Saat mereka turun gunung, mereka digiring menuju sebuah mercado (bangunan pasar khas kolonial Portugis) untuk dikonsentrasikan dalam semacam kamp pengungsian yang dijaga ketat oleh tentara. Tujuannya adalah menjauhkan penduduk dari gerilyawan Falintil supaya kontak diantara keduanya tidak terjadi. Banyak juga diantara penduduk diinterogasi dan disiksa karena dicurigai menjadi bagian dari gerakan klandestine pendukung Falintil. Di kamp mercado, mereka diberi suplai makanan yang jauh dari cukup oleh tentara. Mereka dilarang untuk pergi mengolah beberapa petak sisa ladangnya yang berbatasan dengan hutan yang luput dari gempuran bom oleh militer. Jika sekali-kali nekat untuk kabur dari kamp, tentara tak akan ragu menembak mati mereka di tempat.

       Kondisi isolasi ketat ini pada dasarnya tidak berbeda dengan yang penduduk alami sebelumnya di gunung dan hutan. Mereka terpasung di tanahnya sendiri. Terperangkap dalam pertempuran antara dua kekuatan yang berebut daulat atas bumi Lorosae. Penderitaan mereka juga diperburuk oleh kontrol militer atas penundaan yang cukup lama terhadap akses bantuan kemanusiaan Palang Merah Internasional (ICRC) dan Catholic Relief Service (CRS) [2]. Hal yang sama yang pernah dilakukan Inggris sewaktu Perang Dunia II dengan tidak memberikan akses bagi Oxfam (Oxford Committee for Famine Relief) terhadap bencana kelaparan di Yunani akibat kebijakan blokade Churchill yang menyebabkan puluhan ribu penduduk sipil tewas karena kelaparan.[3] Kesaksian Martino perihal bencana kelaparan di Matebian juga diperkuat oleh dokumentasi beberapa footage dalam film dokumenter berjudul “Dalan Ba Dame” (The Road to Peace) yang dirilis oleh CAVR (Komisi Penerimaan, Kebenaran, dan Rekonsiliasi Timor Leste). Dalam footage tersebut, gambaran atas bencana yang terjadi di Matebian begitu memilukan. Disitu terekam bagaimana bocah-bocah yang kurus kering, sosok yang hanya terdiri dari tulang berbalut kulit, yang memegang piring kosong mengharap makanan dari seorang biarawati yang diterjunkan dalam penugasan di kamp pengungsian. Derita bocah-bocah itu juga penduduk lainnya adalah harga yang harus dibayar dari sebuah perang penaklukan di Timor Timur. Perang yang menjadikan kejatuhan moral penduduk, melalui bencana kelaparan sebagai jalan demi beroleh pencapaian tujuan taktis militer. Perang dengan kejahatannya yang pada masa itu luput dari perhatian dunia, yang juga sampai hari ini terlupakan dalam narasi sejarah Indonesia.

       Inikah momok yang dihadapi tentara Indonesia saat berhadapan dengan sistem perang gerilya Falintil. Mengorbankan hak-hak dasar penduduk sipil demi tujuan pendudukan, demi berkibarnya merah putih, dan demi lestarinya rezim. Martino kecil dan penduduk lainnya juga tidak tahu harus menyalahkan siapa. Fretilin kah, yang seandainya Xanana Gusmao beserta pasukannya menyerah pada tentara Indonesia, derita kelaparan, pertaruhan nyawa di Matebian dan isolasi di mercado mungkin tidak perlu dialami penduduk. Atau militer Indonesia, kekuatan asing yang sejak dimulainya operasi Seroja, terus mengusik kehidupan penduduk distrik Baucau, juga wilayah lain di bumi Lorosae, yang bahkan harus dibayar oleh banyaknya nyawa penduduk yang menjadi korban perang ataupun akibat bencana kelaparan massif. Mereka hanya pasrah. Hanya bisa menerima kenyataan pahitnya peperangan yang ikut menyeret mereka ke dalam penderitaan. Jika kita merujuk sejarah, bahkan Konvensi Jenewa sendiripun tidak dibuat untuk menghapuskan perang, ia hanya dibentuk agar perang itu sendiri ‘beradab’, memiliki aturan yang fair sesuai prinsip keksatriaan. Dan pada nyatanya, dalam kondisi perang yang keras, dimana bagi tiap prajurit hanya terdapat dua aturan : membunuh atau dibunuh, asas-asas mulia konvensi tersebut tidak selalu diindahkan. Penduduk sipil lah yang selalu rentan menjadi korban. Jatuhnya moral penduduk akibat kelaparan mungkin menjadi tujuan pengepungan oleh militer Indonesia agar setelahnya mereka (para penduduk) berpaling dari kekuatan resistensi Falintil. Namun, bagi mereka, militer Indonesia dengan simbol-simbol yang dibawanya -negara, bendera, dan bahasa- tak lain adalah kekuatan asing yang kehadirannya membawa penderitaan dan trauma mendalam bertahun-tahun sesudahnya.

Lemorai dan Simpul Generasi Timor

     Bencana di Matebian hanya salah satu dari banyak bencana kemanusiaan yang meminta banyak nyawa penduduk Timor. Para penduduk biasa yang tidak mengetahui apa-apa, yang tidak pula memiliki kepentingan atas siapa yang berkuasa di bumi Lorosae. Mereka mungkin tidak menaruh peduli jika baik Fretilin maupun rezim militer Indonesia yang harus memegang daulat atas tanah moyangnya. Mereka hanya ingin hidup tenang dengan ladang, ternak dan kehidupan yang lebih baik setelah penjajah Portugis angkat kaki dari tanah Lorosae, tanah di terbit matahari.

        Bagaimanapun, tragedi di Matebian cukup sudah menjadi kenangan pahit bagi Pak Arif (Martino Valera) dan rekan segenarisnya. Ia tidak menyimpan dendam baik kepada militer Indonesia maupun Fretilin. Ia tahu, bahwa disetiap konflik bersenjata, anak-anaklah yang selalu rentan menjadi korban. Ia mengalaminya sendiri di Matebian, di akhir 1970-an silam. Ia bersyukur masih bisa hidup dan Ia hanya ingin generasi-generasi penerus Timor, anak-anak yang menjadi korban konflik politis di pengungsian Atambua, yang kehilangan anggota keluarganya, yang hak-hak dasarnya tidak terpenuhi, dapat menatap masa depannya dengan harapan, juga impian. Tidak tenggelam dalam kebodohan, ketidaktahuan. Walaupun kini ia berkewarganegaraan Indonesia, Ia yakin, generasi penerus yang dibinanya di Lemorai Timor itu mampu membangun Timor Leste di masa depan, agar dapat berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia yang sama memiliki hak untuk hidup merdeka, lepas dari segala macam bentuk dominasi kolonial. Apa yang ia lakukan tak lain adalah usaha untuk mengikat simpul lewat persamaan nasib diantara generasi yang berbeda, mengatasi batas identitas artifisial yang (kini) dipisahkan oleh garis batas negara.

           Rai Timor, Rai ita nian. Bumi Timor adalah tanah air kita. Kata-kata itulah yang menjelma bagai simpul diantara generasi di Lemorai.

        Seperti hijrahnya Muhammad dari Mekah ke Maddinah, para rantau, lemorai Timor di kecamatan Tanjung Sari ini tak lain adalah bentuk retreat mereka untuk kelak kemudian hari dapat kembali ke tanah airnya dengan kehidupan baru yang lebih baik. Untuk Timor Leste yang bermekar, bersinar.

 

Keterangan :

[1] Kutipan dalam narasi film The Thin Red Line (1998), disutradarai oleh Terrence Malick.

[2] Chega! Laporan Komisi Penerimaan, Kebenaran, dan Rekonsiliasi Timor Leste Vol I. Jakarta : KPG. 2010. Hlm., 252.

[3] Lizzie Collingham, The Taste of War : World War Two and the Battle for Food. London : Penguin Books. 2012. Pg., 167.

[4] Peter Roger, “The Starving Children in East Timor 1979”. (www.thecitizen.org.au).

Keterangan Gambar:

Displace-13.jpg, http://gallery.imagicity.com/ 

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?