“Take a load off, Fanny

Take a load for free

Take a load off, Fanny

And you put the load right on me”

Fanny adalah salah satu karakter yang muncul dalam lagu balada berjudul The Weight milik band legendaris yang menamakan diri mereka secara singkat: The Band. Adapun stanza diatas merupakan chorus yang dinyanyikan berulang dengan fungsi sebagai penggalan verse sekaligus penekanan utama dalam narasi teatrikal yang dibangun. The Weight sendiri telah dibawakan ulang oleh puluhan musisi (mulai dari Aretha Franklin, Diana Ross and The Supremes, Grateful Dead, hingga Weezer) dan digunakan sebagai musik latar dalam sejumlah film (diantaranya Easy Rider dan It Might Get Loud) – membuat Fanny menjadi salah satu karakter fiktif rock and roll paling terkenal dalam sejarah musik modern. Namun Fanny tidak sendiri, dalam lagu gubahan Robbie Robertson ini bertebaran tokoh dengan bermacam karakter: diantaranya Carmen, The Devil, Miss Moses, Luke, Anna Lee dan Crazy Chester – yang bersinggungan dengan tokoh utama (sang penutur yang menggunakan narasi orang pertama) dalam perjalanannya ke Nazareth, sebuah kota di Philadelphia, Amerika.

The Weight tercipta setelah Robbie melakukan perjalanan ke Nazareth untuk mengambil gitar yang di pesannya dari seorang kawan dan karakter-karakter didalamnya adalah sosok yang ia temui selama perjalanan yang kemudian ia tuangkan dalam berbagai bentuk alusi – mulai dari pertemanan Carmen dengan sang Iblis, mitologi “selatan” dengan simbol Miss Moses (mengacu pada cerita pendek William Faulkner), hingga kisah nyata Chester Gila sang “penjaga kota”. Tanpa ekspektasi berlebihan, The Weight lalu ditempatkan sebagai salah satu materi pada Music from Big Pink, album pertama The Band yang dirilis pada tahun 1968. Namun, bersebrangan dengan pandangan para personil The Band yang memandangnya sebagai “just another song”, pendengar memiliki pandangan tersendiri terhadap The Weight dengan menyebutnya sebagai salah satu interpretasi biblical terbaik yang pernah ditulis. Pembacaan ini tidak lain berasal dari penggunaan kata Nazareth (sebuah kota di Israel yang merupakan tempat Jesus dibesarkan), the Devil, judgement day dan load (yang dapat dipadankan sebagai sin atau dosa) – menjadikan (interpretasi) The Weight kental dengan konotasi alkitab.

Robbie sendiri bersikukuh bahwa The Weight sama sekali tidak mengacu pada kisah di alkitab: Nazareth yang ia maksud adalah kota di Amerika, dan karakter-karakternya lebih bersifat “Bunuelist” daripada biblical. Namun kebanyakan pendengar lebih memilih versi interpretasi mereka sendiri, dan malah interpretasi (bebas) ini yang semakin diingat publik. Terlepas dari hiruk pikuk interpretasi lirik, pada dasarnya The Weight adalah sebuah lagu – dan dimanapun sebuah lagu berdiri di atas keharmonisan musik yang diisi lirik (atau lirik yang diiringi musik). Kesadaran ini membawa pemahaman bahwa kekuatan The Weight tidak hanya terletak pada lirik Robbie Robertson, namun juga pada keselarasan harmonisasi nada yang dimainkan para personilnya: pada bass/vokal Rick Danko, melodi penuh penghayatan Richard Manuel, ketukan drum dan hentakan suara Levon Helms dan nada “nyleneh” keyboardist Garth Hudson. Lalu bagaimana menjelaskan keterkaitan lirik dengan (konteks) musik? Dan apakah dalam sebuah lagu, lirik memiliki posisi lebih penting dari musik?.

Jawaban untuk pertanyaan kedua sebetulnya cukup singkat: keduanya saling melengkapi. Tapi hubungan musik dan lirik dalam pertanyaan pertama membutuhkan penjelasan historis yang (sedikit) lebih panjang karena mau tidak mau kita harus merunut jejaknya pada masa Yunani Kuno dan bertemu dengan Sappho, seorang penyair perempuan dari Pulau Lesbos yang hidup sekitar 800 BC. Sappho dikenal sebagai penyair yang membawa warna baru dalam kesusastraan Yunani Kuno – ia melepaskan diri dari bangun puisi epic kepahlawanan ala Homer dengan membuat puisi pendek dengan tema emosi dasar manusia dan kehidupan sehari-hari. Puisi pendek ini – yang kebanyakan ia tulis dalam ritme empat baris – ia bacakan dengan iringan lyre (alat musik mirip harpa), sehingga dari sinilah dunia mengenal istilah “puisi lirik” untuk pertama kalinya. Dalam perkembangannya, puisi lirik memiliki tempat luas dalam sejarah kesusastraan melalui tradisi yang diteruskan dalam soneta-soneta Giacomo Da Lentini dan juga Shakespeare.

Adapun istilah “lirik” kemudian digunakan sebagai elemen utama sebuah lagu – yaitu kata yang bersandingan dengan musik sebagai kesatuan. Sebagai sebuah komposisi, lirik muncul dalam berbagai variasi dengan tujuannya masing-masing: dalam opera, lirik dikenal dengan istilah libretto yang bertujuan merangkai satu adegan dengan adegan lain, hymne merupakan lirik yang berupa puji-pujian atau lebih spesifik dalam kultur kristiani dikenal dengan gospel ketika telah bersentuhan dengan blues, lullaby adalah lirik yang ditujukan untuk memberikan ketenangan bagi anak-anak, march merupakan lirik yang bertujuan membangkitkan semangat, folksong merupakan lirik tradisi masyarakat yang diturunkan secara oral antar generasi, ballada merupakan lirik yang bercerita, dan lirik blues dengan karakter khas yang terlahir dari komunitas Afrika-Amerika di wilayah selatan pada akhir abad 19. Pada industri musik modern yang mengacu pada selera pasar, varian lirik menjadi sempit dengan hanya mengacu pada dua akar, yaitu ballada dan blues.

Lirik ballada banyak digunakan dalam genre musik country, pop, juga musik folk (mengingat istilah folk music mengalami perubahan makna dari musik tradisional masyarakat menjadi pelabelan atas genre tertentu dalam industri musik). Lirik ballada biasanya bertujuan untuk menyampaikan narasi atau cerita tertentu dan dinyanyikan dengan ritme berulang – bahkan dalam beberapa lagu, misalnya lirik balada gubahan Bob Dylan, chorus sama sekali tidak digunakan. Balada kerap disandingkan dengan tradisi lisan tradisional Eropa, sedangkan lirik blues memiliki akar dari budaya Afrika. Ritme blues sendiri memberi pengaruh pada penulisan lirik pada genre musik rock, soul, R&B dan hip-hop yang merupakan pengembangan dari dasar standar lirik 12 bar dalam blues tradisional. Dalam segi lirik, blues terlahir dari tujuan eskapisme dari kondisi nyata sehingga lirik yang muncul seringkali berujar tentang cinta dan hal-hal sehari-hari. Namun dibalik keringanan narasi dalam lirik blues, satu hal tidak pernah hilang: yaitu suara protes (identitas) Afrika yang akan terus disuarakan sampai kapanpun.

Dari uraian di atas, pemilihan pola lirik dan konteks musikalitas saling mempengaruhi satu sama lain dan menjadi standar dalam penulisan lagu, tanpa menghilangkan kemungkinan adanya perkembangan dari pola baku (karena bisa saja pola gospel dinyanyikan dalam bentuk hip hop, dan lain sebagainya). Adapun The Weight memiliki semua standar dari sebuah lagu balada. Ia menjadi sebuah teater tersendiri melalui narasi cerita dan tokoh-tokoh yang dibangunnya. Selain dalam The Weight, teknik penulisan ballada kerap dipilih The Band dalam gubahan lirik-liriknya. Hal ini bukan tanpa alasan: pertama, musik mereka merupakan campuran “aneh” yang memiliki pengaruh kental dari country, folk dan rock n’ roll awal yang mengacu pada pola penulisan lirik balada. Selain itu, pandangan filosofis para musisinya yang bertujuan membuat musik sebagai representasi kondisi masyarakat, menjadikan ballada sebagai bentuk yang sesuai dalam merangkum nafas dimana mereka berada – sehingga tidak melenceng apabila dikatakan bahwa album-album The Band adalah gambaran landscape sosial masyarakat Amerika.

The Weight pun ditulis dengan landasan yang sama, Robbie dan personil The Band lainnya yang sering melakukan perjalanan ke pelosok Amerika menemukan bahwa negeri tersebut penuh dengan karakter khas dalam film Luis Bunuel – sutradara kenamaan Spanyol – yaitu orang-orang baik yang terperangkap dalam situasi mustahil untuk berbuat baik, sehingga kebaikan adalah beban tersendiri – dari sinilah alegori The Weight (baca: beban) muncul. Robbie kerap berkata: “Take a load off, (from) Fanny, i’m not writing something sacred”. Tapi pada akhirnya Robbie pun memilih untuk berhenti memberikan penjelasan – dengan sebuah kesadaran bahwa penulis telah mati ketika karyanya sampai di tangan kedua. Jauh dari apa yang dimaksudkan sang penulis, Fanny kadung disandingkan dengan simbolisasi Yesus yang mampu menanggung beban dosa seluruh manusia – karena ternyata beberapa lirik memiliki kemampuan persilangan interpretatif yang mampu melewati batas kontekstual musik dan menjadi liar dengan sendirinya [.]

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?