Biasanya, jika sebuah grup musik atau seorang musisi memproklamirkan diri sebagai sesuatu – misal: sebagai band paling “nge-punk” sejagat raya, atau band yang membangkitkan kembali folk –pada kenyataannya, mereka jauh dari itu. Namun selalu ada anomali diantara kebiasaan umum, termasuk dalam kasus klaim jati diri, karena ketika David Thomas menggambarkan bahwa musik yang diusung Pere Ubu adalah Avant-Garage, maka avant-garage-lah mereka. Dalam sejarah musik modern sendiri, Pere Ubu dikenal sebagai band ajaib yang menentang dua hukum alam: Pertama, membantah pandangan bahwa musik rock telah mati pada tahun 1973 dengan nafas penghabisan yang ditiupkan oleh Iggy Pop melalui “Raw Power”. Kedua, mementahkan teori Survival of the Fittest  yang dikemukakan oleh Charles Darwin, karena the Un-Fit, yang secara teoritis berada pada tangga paling bawah keberlangsungan hidup – ternyata mampu bertahan melampaui berbagai fase perkembangan musik (walau kebertahanan mereka harus ditopang dengan dosis absurditas yang tepat).

Pere Ubu merupakan pecahan dari band legendaris Rockets from the Tombs yang memiliki basis di Cleveland, Ohio. Dua personilnya, Thomas dan Laughner membentuk Pere Ubu dan berjalan ke sisi rock eskperimental (walau kemudian mereka kerap dikategorikan post-punk atau art-rock). Sedangkan pecahan Rocket lainnya, yaitu Cheetah Chrome dan Jhonny Blitz membentuk The Dead Boys – salah satu band awal dalam gerakan punk era 1970an. Reputasi kedua band (pecahannya) inilah yang menjadikan Rockets from the Tombs memiliki mitos tersendiri pada jajaran proto-punk, karena walaupun hanya aktif dalam waktu yang sangat singkat (1974-1975), Rockets dinobatkan sebagai band yang melesatkan skena musik di Cleveland. Namun, mari kita akhiri basa-basi tentang skena musik Cleveland yang melahirkan Pere Ubu, karena apa yang akan kita perbincangkan membutuhkan sudut pandang lain: yaitu sudut pandang miring seorang David Thomas, frontman eksentrik sekaligus satu-satunya personil yang mengawal Pere Ubu sejak pertama kali memasuki dapur rekaman dengan skeptisme tingkat tinggi. Skeptis rasanya kata yang tepat, karena sejak awal pembentukkan, para personilnya menyadari bahwa konsep Pere Ubu terlalu absurd untuk menjadi nyata – oleh karenanya mereka sepakat untuk merekam beberapa lagu, lalu bubar. Namun ternyata absurditas menjadi magnet yang ampuh, karena hingga saat ini, 40 tahun sejak pertama kali Pere Ubu dibentuk, band ini masih aktif (dengan definisi aktif yang juga absurd, ungkap Thomas: “Kami aktif dalam pikiran masing-masing” – jangan tanya apa maksudnya, karena setiap mencoba memahami lontaran jawaban Thomas, saya selalu dibuat tertegun, lalu tersesat kemudian).

(Pere Ubu – 30 Seconds Over Tokyo)

Pada dasarnya Pere Ubu memiliki konsep live band, dimana David Thomas sang vokalis bukan hanya bernyanyi namun juga menampilkan sebuah karaktek untuk memperkuat artikulasi musik  – konsep ini baru saya pahami belakangan ketika secara tidak sengaja bersinggungan dengan drama karya Alfred Jarry yang berjudul Ubu Roi (King Ubu). Pere Ubu adalah tokoh utama dalam drama ini, seorang Raja slebor yang berambisi membunuh raja Polandia untuk merebut tahtanya. Penokohan Pere Ubu inilah (dalam translasi Inggris diterjemahkan menjadi: Papa Ubu) yang oleh Thomas dijadikan dasar eksplorasi gerak panggung. Dengan bergerak canggung, Thomas berhasil menghidupkan kembali Pere Ubu – raja paling absurd di dataran Eropa – dalam setiap pertunjukkannya. Melalui pembacaan karya Jarry, terlihat jelas benang merah yang menghubungkan eksperimentasi musik Pere Ubu dengan konsep absurditas yang mereka usung. Terdapat sebuah ungkapan Jarry yang kemudian diamini oleh seluruh personil Pere Ubu: “bahwa segala sesuatu yang mudah dimengerti hanya memperlambat pikiran, oleh karenanya hanya dengan menggeluti absurditaslah, pikiran akan kembali bekerja”.

(Pere Ubu – Modern Dance)

“Merdre” (umpatan bahasa perancis “merde” dengan sisipan r) yang diucapkan berulang-ulang dalam Modern Dance adalah kata pembuka pada naskah Ubu Roi. Ubu Roi sendiri bukanlah sebuah drama yang “aman” dan diterima masyarakat – olo-olok dan umpatan yang digunakan Jarry dianggap terlalu vulgar untuk publik Paris pada tahun 1896, sehingga atas desakan masyarakat, drama ini dilarang untuk dipentaskan dan Jarry beralih profesi menjadi pemain boneka. Namun, seperti halnya kotak pandora, gagasan absurditas yang ditawarkan oleh Ubu Roi telah merasuk diam-diam. Sehingga walaupun mengalami pelarangan, gagasan Jarry telah menggelitik kesadaran kolektif masyarakat dan menjadi manifestasi gerakan dadaisme yang melanda Eropa sepuluh tahun kemudian. Jarry telah meninggal saat dadaisme menyeruak – hingga kisahnya menjadi satu lagi cerita tipikal dimana pengakuan terhadap gagasan radikal selalu datang terlambat. Setelah dadaisme lambat laun dipahami masyarakat, karya Jarry diakui sebagai tonggak perubahan dalam seni teater, dan (pada akhirnya) Jarry dinobatkan sebagai King of Absurdity, sebuah gelar absurd yang tidak main-main.

David Thomas sendiri nampaknya adalah seorang dadaist tulen, baik dalam musik, karakter panggung ataupun sebagai seorang individu. Kawan-kawannya (nampaknya) telah berdamai dengan hal ini, dan memasrahkan citra Pere Ubu diacak-acak oleh sang vokalist. Dalam wawancara yang seluruhnya ditangani oleh Thomas, hampir dipastikan tidak ada jawaban yang pasti. Bahkan ketika seorang jurnalis musik senior, Dave Simpson, menanyakan apa yang dihasilkan oleh Pere Ubu setelah 40 tahun bermusik, Thomas hanya menjawab sekenanya: ”Everything I’ve done has been a failure”. Kalimat ini kemudian menjadi slogan “official” Pere Ubu, salah satu band paling berpengaruh dalam gerakan post-punk dan new wave (lalu, jika sekelas Pere Ubu saja berpendapat demikian, apa kabar dengan band yang musikalitasnya berada di bawah standar Pere Ubu? Sungguh sebuah tantangan sulit untuk mencari kata yang lebih destruktif dari “failure”). Terlepas dari “melankoli kegagalan” yang dinikmati oleh Thomas, musikalitas Pere Ubu tentu tidak segagal yang digambarkan sang vokalis. Allen Ravenstine adalah salah satu synthesizer terkemuka dalam eksperimen bunyi dan suara (sound and noise). Juga jajaran musisi lain yang pernah bergabung di dalam Pere Ubu, diantaranya Scott Krauss, Tom Herman, Tim Wright, Peter Laughner, Jim Jones, adalah jajaran musisi yang berbagi visi eksperimen musik – yang mereka gambarkan sebagai: an arty dissonance and weird experimentalism.

Dapat dikatakan bahwa Ubu Roi karya Alfred Jarry adalah bacaan essensial untuk memahami musik Pere Ubu. Sebelumnya, adalah hal yang tidak terpikirkan bagi saya: bagaimana mungkin sebuah band underground (dalam arti diluar panggung industri) yang minim perhatian publik, dengan kadar absurditas tinggi, cenderung berperilaku diluar konvensi umum, mampu bertahan selama 40 tahun?. Terlebih dalam perjalanannya, pergantian personil Pere Ubu begitu sering terjadi, menjadikannya lebih menyerupai lego daripada grup musik. Tapi akhirnya semua terurai jelas, sebagaimana diungkapkan Thomas “absurdity is passed on, from one to another” – bahwa Pere Ubu adalah sebuah gagasan, yang tetap hidup walalu personilnya datang dan pergi. Melalui gagasan inilah kita menemukan keterhubungannya dengan karya Alfred Jarry. Namun terdapat pula keterhubungan lain: yaitu caranya komunikasi (musik) Pere Ubu yang khas dadaist. Dadaisme sendiri adalah gerakan pemurnian seni melalui komunikasi spontan. Spontanitas menjadikan pertunjukan dadaist cenderung sporadis, memunculkan chaos untuk menghilangkan berbagai bentuk batasan yang dibebankan pada kesenian. Cara ini pulalah yang kerap diusung Pere Ubu dalam musikalitasnya – melalui berbagai bentuk eksperimen, musik mereka jadikan sarana (pemurnian) komunikasi, dimana nada dibiarkan bebas berbicara. Alhasil, tidak semua kalangan mampu memaknai musikalitas absurd Pere Ubu. Namun, seperti yang dikemukakan oleh Jarry pada publik yang membungkamnya: “We believe…that the applause of silence is the only kind that count”.

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?