Rembrandt, Philosopher in Meditation, 1632

“Oh! I thought you had learned to use the darkness.” Said Don Juan. “What can you use it for?” I asked. He said the darkness – and he called it “The darkness of the day” – was the best time to “see.” (Separate Reality, Carlos Castaneda)

Percakapan di atas saya temukan dalam buku berjudul A Separate Reality tentang seorang shaman Indian bernama Don Juan. Entah apakah Don Juan pernah bersinggungan dengan topik dalam tulisan ini – walau jika mengacu pada penggambaran Casteneda tentang Don Juan, rasanya hampir tidak mungkin seorang shaman Indian membuat analisis mendalam tentang lukisan karya Rembrandt. Namun, ketika saya membaca kalimat Don Juan tentang penggunaan kegelapan, gagasan tentang Rembrandt melintas di kepala: bahwa dalam sejarah lukisan, Rembrandt adalah salah satu maestro yang mampu menggunakan kegelapan untuk menampilkan substansi murni dari emosi manusia. Sehingga, ketika Castenda kebingungan akan perkataan Don Juan tentang bagaimana memahami kegelapan, ia bisa saja berkunjung ke Musée du Louvre untuk melihat salah satu lukisan tergelap yang pernah diciptakan oleh Rembrandt, Slaughtered Ox.

Terlepas dari realitas gelap yang disodorkan Don Juan melalui ritual shamanisme di pedalaman Mexico, empat abad sebelumnya – pada pertengahan tahun 1600an, Rembrandt memulai studinya tentang bagaimana menggunakan kegelapan untuk menampilkan kekuatan narasi dalam sebuah lukisan. Tentu saja metode Rembrandt berbeda dengan Don Juan yang menggunakan Peyote, tetumbuhan berefek halusinogen. Tapi kita tidak pernah tahu apakah eksplorasi gelap Rembrandt hanya didasarkan pada studi psikologis yang terekam dalam skesta-sketsa potret awalnya, atau didorong oleh stimulus lain – sebagaimana Edvar Munch yang melukis di bawah pengaruh absinthe – walaupun dalam kasus Rembrandt tidak ditemukan teks yang mengacu pada penggunaan substansi dalam pembuatan lukisannya. Namun fakta bahwa Rembrandt bukanlah pelukis pemabuk seperti Munch ataupun shaman transenden seperti Don Juan, berujung pada sebuah asumsi yang membuat bulu kuduk berdiri: bahwa Rembrandt berhadapan dengan kegelapan dalam keadaan sadar sepenuhnya – dan itu membutuhkan nyali yang cukup besar. Keberaniannya inilah yang menempatkan Rembrandt pada posisi teratas di jajaran pelukis Baroq – de meeste en de natuurlijkste beweegelijkheid – maestro gerak dan emosi di atas kanvas. Dengan mata sadar yang terbuka lebar, Rembrandt menangkap segala gejala dan tanda kehidupan – baik dan buruk, terang dan gelap, hidup dan mati. Dan disinilah letak kehebatan lukisan Rembrandt: ia bergerak dalam dua kutub ambivalen manusia.

rembrandt-slaughtered-ox

(Rembrandt, Slaughtered Ox)

Dalam sejarah seni lukis sendiri, setidaknya terdapat empat maestro kegelapan yang merasuk dalam ingatan saya, yaitu El Greco, Caravaggio, Rembrandt dan Goya – dimana keempatnya memberikan impresi tentang kegelapan dalam gerak yang berbeda. Kegelapan bagi El Grecco merupakan sebuah metode, ia berujar “art is not submission and rules, but a demon which smashes the moulds”, untuk itu ia mengakrabi kegelapan sebagai cara dalam merealisasikan gagasannya tentang seni. Caravaggio memiliki cerita lain, baginya kegelapan adalah bagian tak terpisahkan dalam kehidupan – oleh karenanya lukisan-lukisan Caravaggio adalah teater di atas kanvas dimana cahaya dan kegelapan dipasang sedemikian rupa sebagai tata panggung. Sisi teatrikal ini memiliki hubungan dengan kisah hidup sang maestro, karena walaupun memiliki reputasi sebagai “the most famous painter in Rome” pada awal 1600an, ia juga adalah pemain dalam teater kriminal dan merupakan buronan di beberapa kota mulai dari Roma hingga Napple. Dalam pelariannya inilah ia mendorong kelahiran Baroque Movement – dengan memasukkan unsur bayangan (oscuro) dalam komposisi lukisannya sehingga menghasilkan Chiaroscuro (atau kita mengenalnya dengan istilah contras). Dengan kata lain: hanya seorang buronanlah yang pada akhirnya mampu menaklukan kegelapan dan menjadikannya bagian penting dalam karya seni. Bagi Caravaggio, kegelapan adalah kawan sekaligus inspirasi dalam menciptakan deretan lukisan terbaik yang pernah dikenal dunia.

caravaggio-judith-beheading-holofernes

(Caravaggio, Judith Beheading Holofernes)

Goya adalah nama lain yang bersandingan dengan kegelapan. Tapi kegelapan Goya berdiri pada sisi ekstrem yang mampu membuat penikmatnya merinding ketakutan. Goya adalah saksi bagi kebrutalan perang Spanyol, sebuah kondisi yang membuat manusia berubah wujud menjadi iblis. Eksposisi getir kehidupan inilah yang menjadikan lukisan Goya penuh dengan kegelapan – kegelapan mutlak yang muncul dalam hati manusia ketika ia telah kehilangan harapan sama sekali atas kehidupan. Adapun versi lain dari kegelapan muncul dalam komposisi lukisan Rembrandt, namun tidak seperti ketiga tokoh di atas, pemahaman atas asal muasal kegelapan dalam lukisan Rembrandt adalah teka teki yang sedikit sulit untuk diungkap. Kesulitan ini berasal dari latar belakang Rembrandt yang sama sekali tidak memenuhi prasyarat bagi seseorang yang bergelut dengan kegelapan – ia bukanlah buronan, saksi perang ataupun pemabuk, bahkan dapat dikatakan memiliki posisi terpandang dalam lingkungan elit Amsterdam. Namun, justru kontras inilah yang dibutuhkan oleh seorang Rembrandt – karena hanya seseorang yang berasal dari sisi “terang”lah yang akan mampu memaknai kegelapan sebagai kegelapan itu sendiri (bukan karena desakan sosial, kebutuhan spiritual, kegetiran psikologikal ataupun kemarahan) – sehingga kegelapan dalam lukisan Rembrandt tidak hadir dalam bentuk yang menghancurkan dan menyesakkan, namun sebagai sebuah keniscayaan yang hadir dalam setiap kehidupan. Kegelapan bagi Rembrandt adalah sesuatu yang alamiah – seperti pergerakan tata surya yang menyediakan cahaya dan bayangan dalam porsi yang sama.

rembrandt-the_mill

(Rembrandt, The Mill)

rembrandt-the-deposition

(Rembrandt, The Deposition)

Pandangan naturalis Rembrandt hanya dapat ditandingi oleh Monet dua abad kemudian. Keberjarakan Rembrandt dan Monet adalah sebuah puncak estetik – dimana mereka mampu melakukan hal yang mustahil dilakukan oleh pelukis lain yaitu melepaskan diri dari objek yang dilukisnya (sebagaimana kita ketahui bahwa lukisan Bunga Matahari Van Gogh adalah potret diri tanpa gambar wajah). Hal inilah yang menjadikan Rembrandt (juga Monet) begitu sulit untuk didekati – karena mereka adalah pelukis yang mabuk, bukan karena kagilaan atau alkohol, tapi oleh eksistensi lukisan mereka sendiri. Monet meyembunyikan diri dalam guratan kuas liar impresionisme, sedangkan Rembrandt bersembunyi dalam lapisan kegelapan yang nyaris tanpa cela. Namun Rembrandt bukanlah seorang yang rendah diri – ia adalah seorang narsis jenius yang haus akan apresiasi sehingga ia melakukan apa jarang dilakukan seorang naturalist pada umumnya: yaitu memasukkan potret diri hampir dalam setiap lukisan yang ia buat. Tidaklah sulit untuk mengenali sosok Rembrandt yang ikut berjejalan diantara figur dalam lukisannya – ia memiliki hidung, mata dan rambut yang khas – sebuah sosok signifikan yang secara ajaib menjadi insignifikan, sehingga keberadaan potret diri sang pelukis sama sekali tidak mengganggu keseimbangan komposisi dalam lukisannya. Rembrandt mengungkapkan bahwa penempatan dirinya dalam sebuah lukisan adalah metode yang ia lakukan untuk menggapai realita dari sebuah gagasan imajiner – namun dibalik itu, sekali lagi kita berhadapan dengan fungsi narasi kegelapan bagi Rembrandt: bahwa kegelapan dalam karyanya hadir untuk memisahkan sisi esessial dari sisi insidental. Karenanya, setiap narasi mampu berbicara untuk dirinya sendiri, sementara sang pelukis bersembunyi di balik bayang-bayang gelap – sungguh sebuah upaya peniadaan diri sekaligus eksposisi paling canggih yang pernah ditemukan dalam komposisi seni lukis modern.

2 COMMENTS

  1. Castaneda seperti Huxley memfokuskan pada kekuatan transformatif realitas. Realitas dipandang sebagai sebuah sesuatu yang subjektif dan dapat di bentuk tergantung dari perspektif yang kita miliki. Sebagai contoh ‘the slaughter ox’ bisa dipandang dalam warna yang lebih terang apabila disandingkan dengan konteks kur’ban oleh seorang muslim (pada umumnya). Senada dengan Castaneda, Heisenberg memperkenalkan akan adanya prinsip ketidakpastian ketika kita mengenali sebuah subjek (observer effect). ada sebuah sistem yang tidak bisa dipisahkan dari cara pandang kita terhadap sistem itu sendiri. Jadi sebuah ke-terang-an bisa dilihat ‘gelap’ jika perspektifmu menginginkanya..

  2. yes, indeed, everything lays in the eye of the beholder…and you know what, pas nulis ini, gw pake kacamata item ang qiqiqiqiq. Three cheers for darkness 😀

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?