But, if you have nothing at all to create, then perhaps you create yourself.

– Carl Gustave Jung

Hingga saat ini, saya masih saja belum dapat menerima kewajaran dari aktivitas memotret diri sendiri menggunakan teknologi telepon selular atau teknologi semacamnya yang dikenal dengan istilah #selfie. Dimanapun, ketika melihat seseorang atau sekelompok orang berkerumun untuk memadatkan diri kedalam sebuah layar mini, saya selalu menemukan diri berada ditengah kebingungan. Terlebih jika diminta untuk menjadi bagian didalamnya, maka kebingungan saya berlipat ganda – pertama, kebingungan untuk menemukan pijakan makna atas aktivitas tersebut dan kedua, kebingungan atas alibi apa yang bisa saya gunakan sebagai skenario pelarian diri. Sayangnya, karena nilai penerimaan dan kesopanan sosial masa kini mewujud dalam simbolisasi eksistensi di sebuah foto, alhasil saya seringkali gagal dalam mencari alibi pelarian diri. Namun, pada kebingungan pertama, saya menolak untuk menyerah – sehingga semengganggu apapun aktivitas tersebut, saya akan mencoba dengan sepenuh hati menemu kebermaknaannya, karena menurut Jung: “Everything that irritates us about others can lead us to an understanding of ourselves.

#Selfie, Lukisan diri dan Ke(tidak)sadaran Kolektif

Sebelum menggali lebih jauh, perlu kiranya diutarakan terlebih dahulu bahwa pembahasan tentang #selfie (dan potret diri secara luas) dalam tulisan ini tidak mengacu pada konsepsi seni dan estetika[1]. Karena dengan hadirnya pembaharuan dalam bidang tersebut, diantaranya dadaisme dan postmodernisme, seni (menjadi) bersifat subjektif sehingga #selfie saat ini bahkan telah diakui sebagai bentuk seni kontemporer[2] – sesuatu yang pasti membuat penganut standar seni tinggi (fine arts) menjadi uring-uringan. Untuk menghindari kerancuan estetika, maka #selfie akan saya bahas dari sisi kehadirannya sebagai fenomena sosial – karena ketika menyimak maraknya aktivitas #selfie, kita berhadapan dengan apa yang disebut oleh Durkheim sebagai kesadaran kolektif[3]: yaitu sebuah gagasan, sikap moral dan tindakan yang dibagi bersama dan menjadi faktor pemersatu kehidupan sosial. Melalui definisi ini, #selfie bukan lagi “kewajaran yang harus diterima” tapi “sebagai (kebutuhan) pemersatu sosial” – sebuah kenyataan, yang bagi seorang sinis teknologi (maksudnya saya sendiri), adalah kenyataan pahit yang harus ditelan bulat-bulat.

Lebih lanjut menurut Durkheim, kesadaran kolektif berfungsi sebagai mekanisme operasional dalam struktur masyarakat untuk menunjang keberadaan sebuah totem: yaitu benda “sakral” yang menjadi pilar utama masyarakat. Pada masyarakat tradisional, institusi agama seringkali berfungsi menjadi totem dan struktur masyarakat dibangun melalui kesadaran dalam bentuk praktik-praktik keagamaan. Dalam masyarakat kapitalis, modal yang diinstitusikan dalam bentuk perusahaan, berfungsi sebagai totem dan masyarakat dibangun atas kesadaran pembagian kerja, berfungsi tidak lain untuk mendukung kelanggengan pilar utama tersebut. Pola yang sama pun terdapat pada konteks “masyarakat global” – dengan dunia maya sebagai totemnya dan struktur masyarakat dibangun dalam jejaringnya. Berbagai mekanisme operasional (kemasyarakatan) kemudian hadir: email, facebook, twitter, bloginstragram dan lain sebagainya – menjadikan aktivitas manusia beralih ruang dan beradaptasi dengan struktur baru tersebut. Melalui pembacaan ini, #selfie sebagai aktivitas pemersatu sosial, berfungsi seperti layaknya (pesta) belanja pada masyarakat kapitalis, atau pengajian pada konstruksi masyarakat agamis. Ia menempati ruang sosial, karena bagaimanapun #selfie bukanlah #selfie jika tidak dishare di jejaring sosial.

Dengan demikian, bukanlah sebuah keanehan bahwa sejak telepon selular berkamera ramai dipasaran, rata-rata unggahan #selfie (dengan tagar (#)) melebihi angka 130 juta setiap bulannya[4], belum terhitung #selfie malu-malu atau #selfie terbuang karena foto yang dihasilkan dianggap kurang kece. Namun, sebuah hal menggelitik kemudian hadir: bahwa dalam sejarah peradaban manusia, dorongan individu untuk mengekspos diri sedemikian gamblang di ruang publik bukanlah hal baru. Pada jaman Yunani Kuno, patung adalah media eksposisi diri paling umum. Memasuki abad renaisans, lukisan diri menjadi media eksposisi diri selanjutnya – mulai Leonardo Da Vinci, Albrecth Durer, Rembrandt hingga Van Gogh juga Edvar Munch, beramai-ramai membuat lukisan diri yang kemudian dipajang di berbagai galeri terkemuka di dunia. Eksposisi diri melalui seni fotografi pun tidak kalah suara, mulai dari Kasian Chepas hingga Andy Warhol, merupakan seniman foto yang memasukkan diri mereka ke dalam bingkai. Lalu apa yang membedakan tindakan para seniman diatas dengan anak baru gede yang memotret diri dengan kamera di telepon selularnya?. Secara konsepsi psikologis: tidak ada perbedaan, karena kesemuanya menyuarakan hal yang sama – bahwa setiap manusia dari masa ke masa dihadapkan pada sebuah proses pencarian diri yang bergema dalam pertanyaan abadi “who am I?“.

Konsepsi ini dikenal dengan istilah ketidaksadaran kolektif yang mengacu pada pandangan (psikologis) masyarakat terhadap nilai, kepercayaan, mitos, atau sifat yang diturunkan dari generasi ke generasi[5]. Menurut Jung, sang pakar psikologi yang melahirkan konsep ini, ketidaksadaran kolektif akan selalu hadir dan tarik menarik dengan kesadaran kolektif masyarakat yang membentuk konstruksi realita. Ketidaksadaran kolektif bertahan dan selalu mengada (kembali) walaupun konstruksi masyarakat telah berevolusi – sebagai contohnya, nilai-nilai animisme sebagai ketidaksadaran kolektif masyarakat Indonesia, akan selalu menjelma dalam konstruksi agama apapun yang hadir di Indonesia. Sehingga, ketika seorang remaja berselfie ria dengan kameranya, maka secara tidak sadar ia melakukan apa yang juga dilakukan Van Gogh atau Rembrandt: ia tengah melakukan pembacaan diri. Titik inilah yang kemudian menjadi krusial dalam pemahaman #selfie dan lukisan diri secara umum – karena walaupun berpijak pada tataran ke(tidak)sadaran psikologis yang sama, namun pada akhirnya substansi dan interpretasi seorang individulah yang menentukan hasil pembacaan diri tersebut. Lukisan diri Rembrandt merupakan seni bedah jiwa tingkat tinggi. Lukisan diri Edvar Munch adalah konfrontasi terbuka sang pelukis dengan dirinya, juga Van Gogh yang berhasil menangkap tragedi manusia dalam wajahnya sendiri. Sedangkan apa yang dapat dilihat dalam #selfie masa kini tidak lain adalah kematian alegori diri – sebagai hasil dari pergulatan ketidaksadaran kolektif (nilai perenial) dan kesadaran kolektif (persepsi realita), yang menurut Jung selalu hadir dalam bentuk: “an everlasting cosmic tug of war between good and evil“.

Kematian Alegori Diri

Kata alegori memiliki arti penggambaran atau metafora yang digunakan untuk menjelaskan suatu hal. Salah satu alegori paling terkenal adalah alegori gua yang digunakan Plato untuk menggambarkan persepsi dan penemuan dunia baru (yang tak berujung). Dalam konteks lebih luas, alegori digunakan dalam berbagai bentuk seni, baik dalam sastra, musik, lukisan ataupun foto. Egon Schiele pernah berujar bahwa ia melukis untuk memahami alegori kehidupan dan kematian, sedangkan Dante membuat alegori neraka dalam epic terkenalnya “inferno”. Dengan kata lain, alegori dalam sebuah karya adalah gambaran gagasan sang seniman, yang didalamnya terangkum gambaran diri sang seniman sendiri. Terlebih ketika karya tersebut berupa lukisan atau foto diri, karena dalam setiap (pembuatan) potret diri terkandung alegori proses perubahan dari ketidaksadaran menjadi kesadaran.

Lalu kapan sebuah potret diri mengalami kematian alegori?. Dalam konteks #selfie, kematian alegori diri terjadi ketika manusia, yang didorong oleh ketidaksadaran kolektifnya untuk melakukan proses pencarian diri, tidak mencoba memahami diri melalui pendalam diri (self knowing), tapi semata-mata meletakkan pemahaman dirinya dari respon luar. Realita gegap gempita jejaring sosial tidak lagi memberikan waktu bagi seseorang untuk memproses dirinya secara internal – karena sebelum kita memaknai foto diri, komen dari kawan sudah masuk, ditambah sekian “like”, yang cenderung membuat bias persepsi seseorang akan dirinya. Bandingkan fenomena tersebut dengan proses pembuatan lukisan diri Frida Kahlo. Selama setahun ia mengelilingi dirinya dengan cermin dan membuat berbagai versi lukisan diri hingga ia menemukan lukisan yang menurutnya “berhasil menangkap jiwaku”. Jujur saja, #selfie masa kini tidak melampaui proses tersebut, sehingga alih-alih menangkap jiwa, pembacaan diri melalui #selfie rentan tergelincir dalam narasi narsisisme, dengan tergila-gila pada cermin di facebook, dan berakhir dengan kematian alegori diri – karena ketika dihadapkan pada pertanyaan “Who am I?”, #selfie tidak berkata apa-apa (hanya memberi tanda “like”).

 

Keterangan dan Sumber:

[1] berasal dari perbincangan dengan kedua kawan antimateri: Sehu dan Papap.

[2] Puncak pengakuan #selfie sebagai seni kontemporer adalah ketika foto #selfie dari berbagai penjuru dunia dipamerkan di Moving Image Contemporary Art Fair di London, tahun 2014

[3] Simpson, George (terj), 1993, Durkheim, Emile “The Division of Labour in Society“, The Free Press, New York, hal. Ix

[4] Arif, Ahmad, “Tragedi Selfie”, Kompas, 27 Mei 2015, hal. 14

[5] Carl Jung dalam Corbett, Lionel, 2012, “Psyche and the Sacred: Spirituality beyond Religion”, Spring Journal Books, hal. 42

2 COMMENTS

  1. qiqiqiq thanks…and yes thats exactly my speciality: i can tell busllshit better than anyone else :p :p

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?