Einstein on the Beach (Philip Glass and Robert Wilson, 1976)

Musik selalu memberikan kejutan – bentuknya beragam: mulai dari alur pengaruh (seperti kumpulan Estampes Claude Debussy yang kompleksitas ritmiknya didapat sang musisi dari Gamelan Jawa) hingga kedalaman interpretasi (salah satu bentuk radikal ditemukan dalam komposisi 4’33” karya John Cage). Begitupun ketika [pada akhirnya] saya bersinggungan dengan musik minimal, – mendengar istilahnya saja saya sudah mempersiapkan diri untuk kejutan yang akan datang – dan memang tidak salah, karena musik ini menggelitik para pendengar dan memberikan kejutan dengan cara berbisik (baca: kejutan yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang dengan tingkat kesabaran tertentu, karena repetisi dalam musik minimal dapat sangat menantang). Can, sebuah band krautrock era 1970an adalah alasan saya mengkaji “minimalism” dalam musik. Salah satu personilnya, Holger Czukay, menyebut bahwa pengaruh minimalism sangat kental pada musik mereka, terutama Philip Glass, musisi minimalist asal Amerika Serikat (AS) yang merupakan figur utama dalam musik minimal. Keterangan Czukay memberikan pencerahan tidak terhingga – awalnya saya hanya mampu menggambarkan bahwa musikalitas Can adalah bentuk eksperimen avant-garde anak muda jerman yang menentang dominasi industri musik Inggris dan AS, padahal Dieter Mack sejak awal telah memberikan peringatan keras bahwa penyebutan “avant-garde” kepada sebuah gagasan musik, belum berarti musik tersebut adalah “avant-garde” dalam arti sesungguhnya. Menurut Mack, konsepsi seseorang akan “avant-garde” (terutama dalam industri musik mainstream) hanya mengindikasikan ketidaktahuan seseorang pada alur pengaruh sejarah musik itu sendiri (sialnya, saya pernah berada pada posisi itu dengan menyebut segala yang membuat terperangah sebagai avant-garde, yang apabila diingat-ingat, sungguh hal yang sangat kekanak-kanakkan).

Pernyataan Mack mencegah saya menyatakan bahwa musik minimal adalah avant-garde – dan syukurlah saya dapat menahan diri, karena walaupun memberi warna baru (dengan state of mind yang tidak main-main), pada kenyataannya musik minimal yang lahir di pertangahan abad 20 dipengaruhi secara langsung oleh karya-karya Erik Satie (terutama Gymnopédies dan Gnossiennes) dan pengaturan tempo dalam musik India. Salah satu penjelasan memadai tentang minimalism dalam musik diberikan oleh Keith Potter dalam Four Musical Minimalist (2000) – yaitu La Monte Young, Terry Riley, Steve Reich dan Philip Glass – yang mengembangkan komposisi minimalist dengan gagasan utama “return to harmony”. Melalui contoh Piano Phase karya Reich dan Glassworks karya Glass, musik minimal bergerak antara fase gnotic (proses pembuatan musik) dan fase drastic (proses pembentukan suara), dan sebaliknya – dalam arti, ketika seseorang merasakan musik melalui inderanya, ia akan melakukan interpretasi terhadap musik tersebut dan memulai fase gnosticnya sendiri (walau menurut Quinn (2006), hanya individu yang memiliki kemampuan bermusiklah yang dapat melanjutkan ke fase drastic). Melalui pembacaan ini, letak gagasan harmoni dalam musik minimal bukan hanya dipahami sebagai harmoni nada (harmony of tonality), namun juga harmoni dalam proses pemaknaan musik – karena musik minimal memiliki ruang yang sangat luas bagi interpretasi pendengar.

(Piano Phase – Steve Reich)

(Glassworks – Philip Glass)

Nama Philip Glass adalah yang paling mentereng diantara jajaran musisi minimalist pada pertengahan abad 20. Walaupun dikenal luas, Glass bukanlah pioner dalam pengembangan musik minimal, bahkan Potter menyatakan bahwa karya-karya awal Glass antara tahun 1967-1968 merupakan bentuk “prasejarah” dari musik minimal itu sendiri. Namun pandangan ini berubah ketika Glass menemukan bentuk tandingan atas teknik phasing (pentahapan yang sering digunakan dalam musik minimal) yang dikembangkan oleh Reich. Reputasi Glass semakin meluas ketika ia menggunakan pendekatan baru dalam musik minimal, salah satunya melalui penerapan psikologi musik kepada para musisinya. Hal ini diuraikan oleh Jon Gibson, musisi yang telah lama berkerja berdampingan bersama Glass – bahwa Glass menerapkan apa yang ia sebut sebagai additive process: yaitu sebuah bentuk pengulangan nada secara sistematis yang bertujuan agar musisi dapat dengan mudah menghapalnya, ketika komposisi telah diingat diluar kepala, maka musisi tersebut akan melupakan teknik dan mulai menampilkan performance mentality (penampilan atas dasar mental), yang mana setiap musisi akan merespon secara berbeda – dan kualitas inilah yang diharapkan oleh Glass. Sebab lain dari nama besar Glass adalah karena ia merupakan musisi minimalist yang mampu menjelaskan gagasan musiknya secara sistematis melalui buku berjudul Music by Philip Glass (1987). Buku ini membantu pendengar untuk memahami karyanya, juga memahami minimalism dalam musik secara umum. Menurut Potter, Philip Glass menjadi prominen karena melalui bukunya ia mampu menjelaskan keterhubungan antara compositional grammar dengan listening grammar – dimana Glass menekankan “kebutuhan untuk berfantasi” sehingga musik dapat berfungsi sebagai alat eksplorasi bagi kemampuan mendengar serta kedalaman berpikir seseorang.

Pengaruh Glass meluas pada bentuk pertunjukkan lain, yaitu Opera. Melalui kolaborasi dengan sutradara Robert Wilson dan koreografer Lucinda Childs, hadirlah sebuah pertunjukkan opera yang lain dari biasanya, berjudul: Einstein on the Beach. Opera ini pertama kali dipentaskan pada tahun 1976 dan merupakan trilogi yang berkutat pada pandangan bahwa kekuatan gagasanlah yang mengubah dunia, dan bukan kekuatan militer. Einstein on the Beach adalah bagian pertama dari trilogi Glass dan Wilson, adapun bagian kedua berjudul Satyagraha (dipentaskan pada tahun 1979 dan menggali visi Mahatma Gandhi), dan bagian ketiga berjudul Akhnaten (dipentaskan pada 1983 dengan figur utama Amenhotep IV). Einstein on the Beach menjadi begitu dikenal karena merupakan pertunjukkan pertama yang menggabungkan konsep musik minimal dengan opera. Alhasil, opera minimalist ini hadir tanpa memiliki plot (bahkan sama sekali tidak ada Einstein didalamnya). Einstein on the Beach digubah dalam empat babak: (I) Trial, (II) Night Train, (III) Prison, dan (IV) Building/Bed/Spaceship – dimana keempat babak tersebut dihubungkan oleh Knee Play (dari analogi “lutut” sebagai penghubung antara paha pada kaki bagian atas dan tibia pada kaki bagian bawah). Tidak adanya plot dalam opera minimalist ini ditujukan agar penontonlah yang menciptakan sendiri ceritanya, sebagaimana dikemukakan Glass “We don’t give you a plot; we give you a theme. And the audience completes the story”. Opera ini sendiri begitu khas minimalism: menontonnya membutuhkan kesabaran tingkat tinggi karena Einstein on the Beach berdurasi lima jam tanpa interval, sehingga terdapat aturan tidak tertulis dalam opera ini, bahwa penonton dapat datang dan pergi sesuka mereka.

Terlepas dari ketenaran Philip Glass dan opera nyentriknya, kehadiran musik minimal memunculkan kembali perdebatan antara musik sebagai high culture (yang dihuni oleh musisi kontemporer mulai dari para futurist hingga eksperimentalist seperti Alban Berg, Edgar Varèse, juga Iannis Xenakis) dan musik sebagai low culture (bentuk ekspresi musik tanpa teori yang memadai atau seringkali disebut sebagai musik populer). Anehnya, musik minimal dinyatakan mendobrak batasan tersebut. Pandangan ini dikemukakan oleh Robert Fink dalam Repeating Ourselves (2005), bahwa musik minimalism berhasil menjawab “first-line response to the challenge of writing about such music, both on the part of practitioners themselves and their supporters”. Lebih lanjut menurut Fink, ketajaman musik minimal dapat tetap hadir, baik dengan interpretasi ataupun tanpa interpretasi – kondisi inilah yang menyebabkan penerimaan antusias masyarakat terhadap musik minimal (walau tanpa dipungkiri kebanyakan pendengar tidak menyadari bahwa musik yang mereka dengar memiliki pengaruh dari minimalism). Terlepas dari gagasan teoritis Fink, minimalism dalam musik mengingatkan saya pada kondisi modernism yang digambarkan secara tepat dalam novel Herman Hesse, pada drama Bertolt Brech, juga pada potret diri mencekam karya Egon Schiele. Bisa jadi, penerimaan luas masyarakat terhadap musik minimal (khususnya pada era modernism paska perang dunia II), adalah karena minimalism mampu menggambarkan dengan tepat jiwa jaman kala itu – tanpa Tuhan, tanpa keliaran, juga tanpa urban voyeurism – semua terfokus pada diri sendiri. Dan nafas serupa kita temukan dalam musik minimal: musik ini bukanlah musik puji-pujian, tidak pula kita temukan jejak musik romantik, bahkan tidak berbicara dalam konteks sosial (sebagaimana dadaisme atau futurisme). Musik minimal adalah musik tentang interpretasi diri, persis seperti kutukan isolasi seorang manusia modern, – an endless repetition of self – karenanya, kita secara tidak sadar menerima bentuk musik ini, dengan atau tanpa interpretasi.

Bacaan Acuan:

Fink, Robert. (2005). Repeating Ourselves: American Minimal Music as Cultural Practice. Berkeley: University of California Press.

Glass, Philip. (1987). Music by Philip Glass. New York: Dunvagen Music Publishers, Inc.

Potter, Keith. (2000) Four Musical Minimalists. Cambridge: Cambridge University Press.

Quinn, Ian. (2006). “Minimal Challenges: process music and the uses of formalist analysis”. Contemporary Music Review, 25/3, 283-94

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?