Gulliver's Travels Vintage Book Cover

Jonathan Swift adalah salah satu maestro satir paling jenius dalam bangun kesusastraan Inggris. Reputasinya setara dengan Voltaire yang senantiasa menjadi musuh bersama para elit politik. Jika Pemerintah Perancis memberlakukan pelarangan terhadap beredarnya karya-karya Voltaire sebagai mekanisme pertahanan diri, maka elit politik Inggris memiliki cara yang lebih canggih: yaitu mengubahnya menjadi cerita anak-anak. Dapat dikatakan cara ini lebih efektif, karena pada akhirnya karya Swift jarang dijadikan referensi politik dan luput dari perhatian para revolusioner yang sering kali membutuhkan satir-satir klasik sebagai jargon pergerakan mereka. Swift bersama Alexander Pope, John Gay dan Henry St. John adalah sumber dari protes-protes politik di Inggris pada kisaran tahun 1714 hingga 1745. Mereka membentuk Scriblerus Club, sebuah perkumpulan berisi para penulis dan penyair yang memprovokasi publik melalui satir, puisi, dan pamflet-pamflet politik. Gulliver’s Travels pun adalah salah satu project dari klub ini. Novel yang ditulis pada 1726 ini ditujukan untuk mengkritik dua hal. Pertama, untuk mengkritik pemerintahan Inggris kala itu yang semakin korup dan tidak masuk akal dalam menjalankan pemerintahan. Kedua, mengkritik keranjingan publik teknologi dan ilmu pengetahuan semu. Jika kritik yang pertama sangat kontekstual (walaupun gelagat para politisi dimanapun dan kapanpun sama saja), maka kritik yang kedua lebih general – bahkan empat abad setelah satir ini ditulis, keberadaan para pseudo-science masih merajalela.

Satir sendiri merupakan gaya penuturan sastra yang sering dipilih untuk menuangkan kritik. Terdapat tiga bentuk satir yang dibedakan dari cara pengungkapannya, yaitu Horatian, Juvenalian, dan Menippean. Horatian mengacu pada bentuk satir halus yang (terkadang) memberi penekanan pada aspek humor. Satir bentuk ini mencoba menggelitik pembaca melalui parodi kondisi sosial secara umum dan jarang menyerang salah satu tokoh. Dengan gaya yang santai serta humor yang disajikan, satir Horatian bertujuan untuk mengajak pembaca menertawakan berbagai kekonyolan yang diterima masyarakat – dengan kata lain: mengajak kita untuk menertawakan diri sendiri. Sedangkan Juvenalian adalah kebalikannya, kasar dan langsung menyasar pada tokoh atau institusi yang jadi tujuan kritik. Dalam penyajiannya, satir Juvenalian seringkali menggunakan metafora kasar atau gambaran yang mengganggu (grosteque) untuk memprovokasi para pembacanya. Karena sifatnya, bentuk satir ini biasanya jarang beredar luas karena berhadapan dengan lembaga sensor, dan bila beredar pun kerap disalahartikan oleh publik (sebagai contoh Modest Proposal karya Swift yang mengkritik pemerintah Inggris tentang perlindungan anak atau karya Lu Hsun berjudul a Madman Diary yang mengkritik tentang feodalisme pada masyarakat Cina – keduanya dianggap sebagai karya brutal karena menggunakan metafora kanibalism). Bentuk satir lainnya adalah Menippean. Satir ini sama tajamnya dengan Juvenalian, namun tidak secara langsung mengacu pada tokoh atau institusi. Swift dalam Gulliver’s Travels menggunakan bentuk ini – dengan menggunakan parodi berbagai bentuk masyarakat (Liliput, Brobdingnag, Laputa dan Houyhnhnms), Swift menampilkan bentuk telanjang dari sifat korup dan ketamakan manusia.

Gulliver in Liliput Island

Dari awal, Swift memang merancang the Travels (judul awal Gulliver’s Travels) sebagai kritik sosial. Melalui pemilihan gaya Menippean, tidak aneh apabila Swift menggunakan kata-kata dan personifikasi kasar dalam narasinya – sebagai contoh, Swift menggambarkan manusia sebagai “the most pernicious race of little odious vermin that Nature ever suffered to crawl upon the surface of the earth” (Bagian 2, Bab VI). Penulisan Gulliver’s Travels sendiri dibagi kedalam empat bagian. Setiap bagian menceritakan kisah berbeda Lemuel Gulliver, seorang dokter bedah yang bertugas dalam berbagai pelayaran mengelilingi dunia. Pada bagian pertama Gulliver terdampar di Pulau Liliput, sebuah pulau yang dihuni oleh manusia dalam bentuk mini. Pada bagian ini, Gulliver masih memiliki sudut pandang manusiawi dan mencoba untuk tetap manusiawi dalam menghadapi para liliput yang berukuran mini. Dengan menggunakan analogi Raja Liliput yang tamak dan ambisius, Swift menampilkan eksposisi: bahwa manusia senantiasa buta akan keterbatasannya. Bagian kedua merupakan petualang Gulliver di negeri Brobdingnag yang dihuni oleh raksasa dengan ukuran delapan kali lebih besar dari ukuran manusia pada umumnya. Jelas bahwa melalui cerita di Brobdingnag, Swift mencoba menggambarkan kondisi sebaliknya dari Liliput. Konsepsi harga diri manusialah yang disasar Swift pada bagian ini. Melalui sepenggal kalimat Ratu Brobdingnag, Swift mengangkat pola relasi kekuasaan melalui analogi ukuran tubuh manusia. Dalam pandangan sang Ratu, Gulliver yang berukuran mini bukanlah manusia, ia hanyalah binatang peliharaan – surprised at so much wit and good sense in so diminutive an animal. Pada kondisi keterbatasan seperti ini, upaya apapun yang dilakukan untuk mempertahankan harga diri adalah sia-sia.

Dalam bagian ketiga, kapal tempat Gulliver berkerja tertangkap Bajak Laut di wilayah perairan Jepang dan ia kembali terdampar, kali ini pulau Laputa. Pulau ini digambarkan memiliki penduduk yang sangat terpelajar, dengan kegemaran mengkaji matematika dan menikmati musik berselera tinggi (dengan alat musik yang bahkan tidak ada di Inggris) – pulau ini digambarkan Gulliver sebagai “the most delicious spot of ground in the world”. Namun, ia mencium sesuatu yang janggal dari kecanggihan masyarakat Laputa: bahwa setiap penemuan teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan yang meraka capai, tidak ada gunanya sama sekali bagi kehidupan. Sebagai contoh adalah penemuan rumah dengan atap terbalik, anjing yang dapat membajak lahan (dengan menanam makanannya terlebih dahulu), atau domba tanpa bulu (wool-less sheep). Melalui rangkaian penelitian tidak masuk akal ini, Swift menyindir masyarakat Inggris kala itu yang keranjingan teknologi baru yang juga tidak masuk akal, semisal baju renang dari kayu atau granat pemadam api. Chloe Houstan dalam esainya “Utopia, Dystopia or Anti-utopia?”, memberikan pembacaan tentang masyarakat Laputa sebagai anti-utopia. Bila utopia mengacu pada fungsi maksimal sistem masyarakat dan dystopia mengacu pada sisi destruktif sistem masyarakat, maka anti-utopia menurut Houstan mengacu pada kelalaian dalam pemahaman berbagai fungsi sistem masyarakat. Salah satu yang menjadi sasaran kritik Swift dalam masyarakat gagal paham ini adalah sistem pendidikan dan sistem hukum. Para Profesor di Laputa bukan pakar bidang tertentu melainkan seseorang yang mampu berbicara ngawur tanpa dimengerti, sedangkan pajak diukur dari seberapa baik penampilan seseorang. Adapun mekanisme penyelesaian hukum di Laputa adalah dengan membedah otak pihak yang bertikai, memotong separuh, menggabungkan keduanya dan menempatkan kembali gabungan otak tersebut di kepala masing-masing – dengan cara ini dipercaya pihak yang bertikai akan saling memahami satu sama lain.

Setelah berhasil kembali ke Inggris dari Laputa, terdapat satu lagi perjalanan Gulliver yaitu di negeri Houyhnhnms. Negeri ini dihuni oleh dua kelompok: para Houyhnhnms, makhluk serupa kuda yang memiliki kebijaksanaan serta pengetahuan luas, dan para Yahoos, makhluk serupa manusia yang tidak mengenal moral dan etika. Perjalanan terakhir ini memberi dampak fatal bagi Gulliver. Ia nampaknya mengalami trauma mendalam akibat kontras perlakuan dari Houyhnhnms dan Yahoos. Sekembalinya ke Inggris, ia menghindari interaksi sosial termasuk dengan keluarganya dan banyak menghabiskan waktu di istal kuda. Bagi Gulliver, berbicara dengan kuda adalah lebih baik daripada harus berinteraksi dengan lingkungan sosial yang tidak ada bedanya dengan para Yahoos. Keluarga dan lingkungannya menanggap Gulliver gila, tapi Swift menggambarkan kondisi Gulliver sebagai pertempuran ideal antara pemikiran seseorang dengan dunianya (inner-conflicts of the author’s mind, while reflecting on the world and society).

The Houyhnhnms and The Yahoos (The Servants Drive a Herd of Yahoos into the Field)

Kisah perjalanan Gulliver berhenti disini, namun berbagai realita yang memiliki kesamaan dengan satir Swift begitu menarik perhatian. Salah satunya adalah kisah monumental Fredriech Nietcsche yang berbicara dan memeluk kuda di penghujung hidupnya. Kisah ini begitu melekat di ingatan, dan siapapun pembaca Swift pasti dibuat mengernyitkan dahi ketika sang tokoh utama mengalami nasib serupa dengan sang Filsuf (apakah memang kedua penulis memiliki konsep yang sama tentang kuda, kita tidak pernah tahu). Kesamaan lain dalam aspek politik jangan ditanya jumlahnya – kita tidak pernah kekurangan contoh pemerintah korup yang mengerdilkan rakyatnya. Dalam teknologipun rasanya sama saja – walaupun jika dibanding dengan wool-less sheep, alat komunikasi dengan kamera di setiap sudut nampak jauh lebih wajar. Tapi yang paling identik dari satir Swift saat ini adalah masyarakat anti-utopia yang gagal paham – melalui kecanggihan media massa (yang berevolusi menjadi media sosial), banyak diantara para pseudo-science mendeklarasikan kebenaran versinya sendiri dengan menihilkan bangun empiris dan rasionalitas. Ya memang, lagi-lagi jika dibandingkan dengan eksperimen bedah otak warga Laputa, pandangan tentang bumi datar terdengar jauh lebih wajar. Jajaran kebetulan ini sungguh menarik untuk dikaji. Satir Swift bukan hanya relevan pada kultur sosial politik yang berbeda namun juga mampu menyentuh permasalahan diluar kerangka jamannya. Jawaban atas kemungkinan ini hanya dua, entah apakah Swift memiliki kemampuan menerawang jauh dari masanya, atau kebodohan dan ketamakan manusia adalah pola yang berulang. Tapi yang lebih penting dari itu adalah: jika saja Swift masih hidup saat ini, saya memiliki saran agar karyanya tidak disensor penguasa, yaitu dengan mencantumkan kalimat apology: “tokoh dan tempat adalah fiktif, jika ada kesamaan itu hanya kebetulan belaka”.

Bacaan Tambahan:

Houston, Chloe, 2007, “Utopia, Dystopia or Anti-utopia?: Gulliver’s Travels and the Utopian mode of Discourse”, dalam Utopian Studies, Vol. 18, No.3 hal, 425-442

Bentman, Raymond, 2014, “Satiric Stucture and Tone in the Conclusion of Gulliver’s Travels”, dalam Studies in English Literature, 1500-1900, Vol. 11, No. 3, hal. 535-548

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?