Namanya Joao Manuel Soares. Saat ini ia tinggal di Bandung bersama istri dan anak-anaknya. Ia dilahirkan di Maubisse Villa, Distrik Ainaro, Timor Portugis (ini adalah sebutan untuk Timor Timur saat berada dibawah kekuasaan kolonial Portugis) pada tahun 1970. Maubisse merupakan dataran tinggi di wilayah tengah Timor Timur dengan tanahnya yang sangat subur, penghasil kopi, buah-buahan dan komoditas perkebunan lainnya. Ayahnya bernama Talamao, pemilik perkebunan yang juga anggota partai UDT (Uniao Democratica de Timorense). Selama proses dekolonialisasi dari Portugal dimana partai-partai politik bermunculan, UDT menghendaki bentuk protaktorat Portugal (semacam commonwealth dalam kerajaan Britania Raya) dan partai ini tak lain adalah musuh bebuyutan Fretilin (Frente Revolutionaria de Timor Leste Independente) yang menghendaki kemerdekaan penuh dari Portugal. Dari penuturan Joao, keluarganya di Maubisse memiliki tanah dan perkebunan yang cukup luas. Dan Maubisse sendiri merupakan basis Fretilin dengan UDT yang menjadi minoritas.

Keterangan Soares tentang keluarganya ini bersesuaian dengan apa yang saya baca dalam buku “Dua Kali Merdeka: Esei Sejarah Politik Timor Leste” yang ditulis oleh Avelino M. Coelho. Kenyataan bahwa keanggotaan UDT lebih didominasi oleh para Liurai (kepala suku, bangsawan terpandang dari suku-suku di Timor) yang memiliki tanah luas dan dengan begitu memiliki kendali ekonomi di wilayah pedesaan, semakin memantapkan posisinya sebagai bangsawan lokal. UDT juga menghendaki bentuk pemerintahan feodal yang bertumpu pada setiap keputusan kepala suku yang akan dipatuhi oleh masyarakat pedesaan yang kebanyakan tidak berpendidikan. Ini didukung oleh kenyataan bahwa pada masa itu, struktur masyarakat di Timor Portugis masih sangat tradisional, terikat kekerabatan dan dalam setiap hal selalu mengikuti tokoh anutan, yakni para Liurai itu tadi.

Kepada saya Joao menuturkan kisah pahit masa kecilnya, di masa ketika Timor Portugis mengalami tahun-tahun penuh pergolakan. Di satu malam pada tahun 1975, tanpa ada peringatan sebelumnya, desa tempat tinggalnya diserang oleh kekuatan bersenjata yang ia tidak mengetahui siapa pihak yang melakukannya. Seluruh penduduk desa berlari kabur mencari perlindungan di hutan-hutan sekitar. Joao ikut berlari bersama ayahnya. Nahas, di tengah perjalanan ia terpisah dengan sang ayah. Ia terus berlari tak tentu arah. Ia menemukan semak-semak untuk bersembunyi dan mencari perlindungan sementara. Dari balik semak tersebut ia menyaksikan pemandangan yang kalaupun hanya kita bayangkan, mungkin adalah yang paling mengerikan untuk disaksikan seorang bocah berumur 5 tahun. Ayahnya tertangkap oleh anggota Fretilin dan tak lama kemudian dibunuh dengan cara disembelih menggunakan parang. Saat menuturkan itu saya tidak sanggup membayangkan bagaimana perasaan Joao kecil ketika menyaksikan dengan mata kepala sendiri ayahnya dibunuh dengan cara keji oleh lawan politiknya. Ia hanya tahu bahwa rumah dan desanya telah hancur terbakar, ayahnya telah mati dibunuh, saudara-saudaranya juga hilang entah kemana. Instingnya hanya mengatakan bahwa ia harus cepat kabur, berlari mencari perlindungan bersama penduduk lainnya di hutan agar selamat dari serangan brutal.

Joao kecil dan penduduk desa lainnya mencari perlindungan ke gunung Ramelau. Gunung tertinggi di Timor Timur. Selama hampir setahun, ia bersama penduduk lainnya bertahan hidup di gunung itu. Bencana kelaparan dan kematian sudah menjadi hal yang biasa bagi Joao kecil. Setiap dini hari, ia dan kawan-kawannya harus turun ke lembah untuk mengambil ubi atau singkong sebagai bahan makanan. Begitu yang ia lakukan selama menggungsi di gunung untuk tetap bertahan hidup dibawah ancaman kematian yang datang tanpa bisa diduga.

Ketika tentara Indonesia berhasil merangsek ke hutan dan mendesak gerilyawan Falintil (sayap bersenjata Fretilin), para penduduk termasuk Joao digiring turun untuk selanjutnya ditempatkan dalam semacam kamp konsentrasi pengungsi. Joao kecil tidak lagi merasakan sulitnya mendapat bahan makanan karena suplai dari tentara mencukupi. Untuk beberapa waktu lamanya, Joao dan penduduk lain tetap ditempatkan di kamp tersebut sebelum ada keputusan dari otoritas pendudukan Indonesia apakah akan ada relokasi atau apapun itu terkait rencana proses pemisahan antara penduduk dengan gerilyawan Falintil. Ini dilakukan agar tidak terjadi kontak antar keduanya dan memudahkan tentara Indonesia mencapai tujuan pendudukan total atas seluruh wilayah Timor Timur.

Sosialisasi Pseudo-Nationalism

Setelah tinggal beberapa lama di kamp, Joao kecil dan anak-anak lain seusianya dikirim ke Dili untuk ditempatkan di Asrama Seroja dan disekolahkan oleh otoritas pendudukan Indonesia. Di sekolah itu ia mulai diajarkan Bahasa Indonesia –sebelumnya, ia samasekali tidak tahu apa itu Indonesia, bahasanya, dan bangsanya-, Kewarganegaraan, dan mata pelajaran lainnya terkait sosialisasi segala yang berhubungan dengan NKRI.  Disanalah proses penanaman ideologi dilakukan terhadap anak-anak Timor supaya kedepannya mereka tumbuh menjadi insan Pancasila ala Orba yang tidak ragu mengatakan bahwa rezim Suharto dengan angkatan bersenjatanya telah “membebaskan Timor Timur dari pengaruh jahat komunisme Fretilin lewat pengintegrasian Timor Timur kedalam NKRI” serta dapat dengan entengnya menampikan fakta bahwa kejahatan HAM yang dialami penduduk sipil selama periode ‘Pembebasan Timor Timur’ (adakah perbedaannya dengan istilah ‘Operation Iraqi Freedom” yang dilancarkan rezim predatoris Bush atas Iraq pada tahun 2003 silam??) tak lain akibat ulah Fretilin yang bersikukuh untuk mengantarkan Timor Timur pada bentuk negara komunis.

Dan memang, diantara komponen pembentuk  kebangsaan, –wilayah, bahasa, budaya, dan sejarah- bahasa menjadi unsur terkuat pembentuk identitas. Bahasa, yang merupakan alat terpenting komunikasi antar manusia, menjadi senjata paling ampuh untuk mempersatukan atau bahkan memecah belah suatu bangsa. Suatu komunitas imajiner, meminjam istilah dari Benedict Anderson, dapat diciptakan lewat persamaan bahasa. Seperti konteks lahirnya Indonesia, tanpa adanya Sumpah Pemuda 1928 mustahil pemuda-pemuda dari Jawa, Sumatera, Borneo, Celebes, dan lainnya yang berbeda etnik, kultur dapat menyatukan visi imaginer kebangsaan mereka dalam daulat bahasa Indonesia sebagai unsur pemersatu bangsa yang kelak akan merdeka: Bangsa Indonesia. Begitupun yang dialami oleh Joao dan penghuni Asrama Seroja lainnya. Mereka yang masih merupakan bibit, ditanam dalam ikatan imaginer kelompok kebangsaan yang besar. Bertahun-tahun setelahnya, kekuatan magis dari pengajaran bahasa Indonesia di Asrama Seroja berhasil menciptakan ikatan kebangsaan yang wujudnya melayang-layang dalam alam pikiran Joao dan generasinya. “Kita adalah satu, bangsa Indonesia” begitu kata Joao, dan saya mengangguki tanpa berkomentar. Dan sampai sekarangpun, ia masih menyesalkan kenapa Timor Timur memilih merdeka, lepas dari pangkuan sebuah bangsa besar, Indonesia. Itukah wujud pseudo nationalism yang berhasil ditanamkan oleh otoritas pendudukan Indonesia di Asrama Seroja pada diri Joao kecil dan anak-anak segenerasinya?

Tentang Joao dan Kebangsaan

Joao bersekolah dan tinggal di Asrama Seroja selama kurang lebih dua tahun. Ia beserta anak-anak lainnya selanjutnya dikirim ke Departemen Sosial di Jakarta untuk setelahnya disebar ke berbagai asrama yatim-piatu milik dinas sosial di berbagai provinsi di Indonesia. Joao akhirnya tiba di asrama Dinas Sosial Cimahi, Jawa Barat sekitar tahun 1979. Almarhum Aki Uu (Usman) ayah dari Wa Ahmad, sepupu ibu yang berdinas disana membawa Joao untuk diasuh dirumahnya untuk disekolahkan di sekolah terdekat. Joao sama sekali tidak keberatan. Ia tinggal satu kamar dengan Wa Ahmad. Di rumah Aki Uu, Joao berperangai baik. Ia sangat bersyukur karena masih ada seorang berhati mulia yang mau mengasuh, memberikan pendidikan kepada seorang yatim-piatu korban perang seperti dirinya. Aki Uu juga menghormati kepercayaan Joao yang memegang teguh iman Katoliknya. Di Bandung, Joao dibaptis oleh seorang pastor dari Belanda. Sebenarnya keluarga Aki Uu adalah keluarga sederhana yang menempati rumah dinas pemberian Pemda. Tidak jarang, Wa Ahmad dan Joao makan dari satu piring yang sama. Wa Ahmad sendiri juga tidak mengeluh dengan hal seperti itu. Aki Uu mengajarkannya bahwa mengasuh dan berbuat baik kepada anak yatim adalah perintah mulia dari Nabi Muhammad. Mereka harus tetap dikasihi, hanya karena nasib saja yang membuat mereka kurang beruntung. Tidak ada motif politis apapun dari Aki Uu untuk mengasuh Joao dirumahnya, ia hanya seorang alim biasa yang iba terhadap nasib seorang yatim korban perang seperti Joao. Politik di Timor Timur saat itu hanya urusan ABRI, rakyat biasa dilarang berbicara keras tentang itu oleh Rezim Orde Baru.

Pada tahun 1997 dan 1998, Joao pergi mengunjungi Timor Timur untuk menemui anggota kelurganya yang masih tersisa di kampung halamannya, Maubisse. Ia memperlihatkan pada saya foto keluarganya yang ia temui disana. Di foto itu terdapat gambar pamannya, Joao Batista Soares, seorang sersan dalam pakaian dinas dan baret merah Kopassus; mertua dari pamannya, Markus Soares yang sudah sepuh dengan kumis dan jenggot putih; juga keponakan-keponakannya. Tentang kampung halamannya di Maubisse, saya menunjukan sebuah gambar dari buku yang saya bawa :”500 Tahun Timor Lorosae” karya Geoffrey C Gunn. Di satu halaman buku itu terdapat foto pemandangan dataran tinggi Maubisse yang berbukit dan bergunung-gunung dengan beberapa kuda sadel Timor. Joao memperhatikannya dan bilang bahwa gambar di foto itu persis sekali dengan apa yang dilihatnya di Maubisse. Cukup lama ia membolak balik halaman bergambar di buku itu. Mungkin muncul setitik kerinduan saat menatap satu persatu gambar tersebut. Disitu juga terdapat foto-foto mulai dari lanskap pantai Dili dengan aktivitas nelayan-nelayannya dan kapal pendarat Marinir Indonesia yang hancur, Mercado (pasar) Municipal Dili, Istana Gubernur Jenderal peninggalan Portugis, juga duo pemimpin perlawanan Timor, Xanana-Horta.

Tentang periode referendum 1999 menyusul kekacauan berdarah yang mendera Timor Timur setelahnya, Joao mengatakan bahwa sejak pertemuan terakhir dengan keluarganya yang tersisa pada 1998 silam, ia tidak pernah lagi mendengar kabar apapun tentang mereka sampai sekarang. Apakah mereka baik-baik saja, apakah mereka ikut mengungsi bersama sekitar 200.000 penduduk Timor Timur ke Atambua, NTT, atau mereka menjadi korban keganasan milisi pro-integrasi yang membantai hampir 1500 orang Timor yang dicurigai memilih opsi merdeka melepaskan diri dari NKRI setelah pengumuman hasil jajak pendapat. Ia sama sekali tidak tahu. Ia telah terpisah, tidak pernah melihat mereka lagi selama 14 tahun lamanya sejak pertemuan terakhir itu. Ia lalu bercerita tentang tanah perkebunan milik almarhum Talamao, ayahnya.

“Dulu keluarga saya itu punya tanah perkebunan luas, tapi Fretilin telah membunuh ayah saya. Mereka sesama orang Timor juga saling bunuh. UDT, Fretilin sama-sama ingin berkuasa. Saya masih kecil waktu itu, saya tidak tahu apa-apa kenapa harus ada perang…”

Saya bertanya apakah ia ada keinginan untuk kembali ke Timor Leste. Agak lama ia menjawabnya. “Untuk menetap atau sekedar mengunjungi? saya masih berpikir, anak-anak dan istri saya disini, lagipula belum ada jaminan saya dapat bekerja disana…sementara kabar tentang keluarga saya yang tersisa disana juga belum saya ketahui. Timor Timur sekarang sudah merdeka, apakah orang-orang disana masih mau menerima saya? Terus terang saya rindu untuk pergi kesana…”.

Ketika saya bertanya apakah ia masih lancar berbahasa Tetum (bahasa nasional yang kini dipakai rakyat Timor Leste), ia hanya mengingat beberapa kosakata saja, selebihnya ia hanya mampu berbahasa Indonesia dan Sunda. Dan memang selama perbincangan dengannya, aksen Sunda Joao sangat kental terasa oleh saya. Sulit membayangkan bagaimana ia, yang secara etnis tidak jauh berbeda dengan orang-orang Melanesia di Kepulauan Pasifik (kulit hitam, tulang rahang yang kuat, hidung yang besar dan mancung) bisa begitu lancar berbicara dalam aksen Sunda yang kental.

Adakah Joao merasa terasing, jauh dari tanah tempat kelahirannya, jauh dari keluarganya, jauh dari akarnya?

“Kita adalah satu, bangsa Indonesia”, begitu ujar Joao.

Kebangsaan. Indonesia. Adakah yang lebih mengikat antara kita dengan mereka yang ada di pulau-pulau terpencil gugus Nusantara ini? atau, saat dihadapkan dengan permasalahan hidup yang begitu menghimpit, bersama ideologi, adakah kebangsaan menjelma menjadi sebuah kesadaran palsu. Hinggap dan melayang-layang dalam suatu ruang imaginer di titik kesadaran.

Keterangan:

Ditulis oleh Muhammad Haekal tahun 2012, dalam penelusurannya tentang jejak sejarah Timor Timur (Timor Leste saat ini).

Hak cipta foto:  Oscar Motuloh, Tropenmuseum, 2006

SHARE
Previous articleKota tanpa Bir Dingin
Next articleUnder African Skies: Ode (pilihan) untuk Mandela
Muhammad Haekal
Mahasiswa tingkat akhir jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjajaran, sedang menyelesaikan skripsinya tentang Mahkamah Kejahatan Terhadap Kemanusiaan Pengadilan Distrik Dili, Timor Leste. Penelitian dan Pengalamannya mengenai pasang-surut hubungan Indonesia dan Timor-Leste patut mendapatkan apresiasi lebih.

2 COMMENTS

  1. Jika “ikatan kebangsaan yang wujudnya melayang-layang dalam alam pikiran Joao dan generasinya” yang terangkum dalam kalimat “Kita adalah satu, bangsa Indonesia” adalah pseudonationalism, lalu bagaimanakah (real)nationalism? ataukah semua nationalism itu pseudo?

  2. menurutku tidak ada pseudo nasionalisme dalam benak Bpk. Soares. pseudo nasionalisme itu adanya dalam benak para pejabat/ birokrat yang senang memperkaya diri sendiri dan membuat kerugian bangsa dalam jangka panjang. nasionalisme itu cinta bangsa/ tanah air, tidak soal sesat pikir dengan hal itu.

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?