The Scream, Edvard Munch (1895)

Saya tidak ingat kapan persisnya pertama kali membaca kumpulan puisi T.S. Eliot berjudul Prufrock and Other Observations – namun ada kesan tersendiri setelah membaca antologi ini, karena salah satu puisinya, Love Song of J. Alfred Prufrock, adalah puisi pertama yang saya hapal di luar kepala. Ini merupakan sebuah keajaiban, karena pada dasarnya saya sangat payah dalam mengingat – apalagi menghapal sesuatu. Tapi entah mengapa, seratus tiga puluh enam baris lagu cinta Prufrock yang tidak jelas juntrungannya begitu mudah melekat di kepala (bait kesukaan saya adalah ketika Prufrock berada di puncak keragu-raguan, lalu ia sadar bahwa keputusannya tidak akan berimbas apapun pada dunia).

Do I dare

Disturb the universe?

In a minute there is time

For decisions and revisions which a minute will reverse.

Puisi ini sering saya kutip jika berhadapan dengan situasi mendesak “harus membuat kesan puitis dan intelek”. Pernah dalam sebuah wawancara pekerjaan, ketika ditanya: bagaimana anda merencanakan hidup anda?, saya menjawab “I have measured out my life with coffee spoons” (hasilnya [tentu] saya tidak diterima, dan baru diterima tahun berikutnya ketika mengutip dari kutipan motivasi – yucks). Namun terlepas dari hapalan iseng, Love Song of J. Alfred Prufrock memiliki kesan begitu mendalam karena sebuah kebetulan: bahwa antologi ini saya baca selepas Gypsy Ballads karya Federico Garcia Lorca. Dampaknya tidak main-main, saya berhadapan dengan dua kutub metaforik – Romantisisme memabukkan Lorca di satu sisi, dan keterasingan Prufrock yang menyesakkan di sisi lain (bayangkan anda tengah menari diantara para gypsy yang mabuk akan rembulan, lalu tiba-tiba anda berhadapan dengan seorang juru tulis bermuka datar yang ragu akan setiap kata dalam lagu cinta yang ditulisnya). Anehnya, keterasingan dan lagu cinta (hampir putus asa) seorang J. Alfred Prufrock, memiliki kadar memabukkan yang sama kuat dengan Balada Gipsi Lorca – mabuk, yang menurut Samuel Beckett disebabkan oleh “kegagalan paripurna seorang manusia”.

Baru belakangan saya mengetahui bahwa “kegagalan paripurna” ini memiliki nama, karena dalam kajian kesusastraan, Prufrock and Other Observations adalah cikal bakal puisi modern. Pembeda utama genre puisi ini terletak pada bentuknya yang lebih cair dengan melepaskan diri dari aturan rima. Whitworth dalam Reading Modern Poetry (2010) mengungkapkan bahwa puisi modern menolak secara terang-terangan definisi usang tentang puisi (bahwa puisi adalah ekspresi personal tentang keindahan atau luapan spontan akan emosi atau perasaan – yang mana keduanya tidak ditemukan dalam puisi Eliot). Melalui personifikasi Prufrock, Eliot menghadirkan bentuk puisi yang bermuara pada internalisasi (objeknya adalah “diri” (self), bukan imajinasi liar pengalaman eksternal sebagaimana penciri puisi Imagist Victorian pada abad sembilan belas). Dengan kata lain, puisi modern adalah sebuah “explorations of consciousness” – walaupun terdapat puisi modern yang mengangkat objek eksternal (seperti San Francisco Blues karya Jack Kerouac atau The People Look Like Flowers At Last karya Charles Bukowski), namun alusi makna puisi tersebut mengacu pada penggalian kesadaran atau persinggungan objek dalam labirin psikologis sang penyair. Pengalihan fokus inilah yang menjadi kekuatan utama dalam puisi modern – puisi tentang individu yang dalam gambaran Eliot “always in philosophical position implied of one solipsism, the “prison” of consciousnessa modernist poems leave out social relations”.

Should I, after tea and cakes and ices,

Have the strength to force the moment to its crisis?

But though I have wept and fasted, wept and played,

Though I have seen my head (grown, sIightly bald) brought in

upon a platter,

I am no prophet-and here’s no great matter

Love Song of J. Alfred Prufrock sama sekali bukan sebuah lagu cinta, bahkan alih-alih bernyanyi, kita menemukan Prufrock meratapi diri hampir di setiap baitnya. Puisi ini dimulai dengan ajakan mengarungi malam yang membius (the evening is spread out against the sky, like a patient etherised upon a table) – namun malam tidak berjalan sesuai dengan keinginan dan Prufrock berjalan menuju satu kekecewaan ke kekecewaan yang lain (bahkan tidak ada yang menggubrisnya ketika memasuki ruangan – In the room, the women come and go, talking of Michelangelo). Prufrock merupakan puisi pertama dalam antologi Prufrock and Other Observations bersama sepuluh puisi lainnya yang memiliki warna psychoetical yang sama (Cooper, 2006). Puisi kedua berjudul “Potrait of a Lady”, juga menghadirkan bayang-bayang kelam ketika seseorang menyadari konstruksi akan dirinya. Bahkan ketika menggambarkan rembulan dalam Conversation Galante, Eliot melakukan demistifikasi (kebalikan dari para penyair romantis yang menyanjung rembulan, Eliot malah menyebutnya “hanya sebuah balon”) – I observe: ‘Our sentimental friend the moon! Or possibly (fantastic, I confess). It may be Prester John’s balloon. Sisi dekonstruksi ini kerap menjadikan puisi-puisi Eliot bernada satiris. Dalam sebuah kesempatan kuliahnya bertema “The Frontiers of Criticism”, Eliot menyarankan pada para pembaca agar puisinya sebaiknya diperlakukan secara “entelechy”, sebuah konsep milik Aristoteles yang menekankan pembedaan tujuan (purpose) dari sebab (cause) – karena dalam puisi Eliot, keindahan yang dibangun dapat berakhir tragis, seperti halnya pada bait berikut:

I shall wear white flannel trousers, and walk upon the beach.

I have heard the mermaids singing, each to each.

I do not think that they will sing to me.

Kita menemukan bentuk seperti ini lagi dan lagi dalam Prufrock and Other Observations. Edward dalam Eliot/Language (1975) mengungkapkan bawah metafora mengasihani diri dalam puisi Eliot bukanlah tanpa tujuan, ia melakukannya karena satu alasan, karena kata-kata tidak pernah memberi makna tepat atas apa yang ingin disampaikan. Melalui analogi “the fool”, Eliot merangkum berbagai bentuk ketakutan dan kepengecutan – menurutnya Prufrock mengemban tugas sebagai pahlawan yang dicemooh untuk mengungkap kesalahan mendasar dalam bahasa.

Antologi Prufrock and Other Observations merupakan kumpulan puisi pertama T.S Eliot. Dia bukanlah tipe produktif dalam karir kepenyairannya, tapi ternyata dunia tidaklah gandrung pada jumlah, karena melalui Prufrock (1917), The Wasteland (1922) dan The Hollow Men (1925), ia diakui sebagai peletak tonggak puisi modern yang menampilkan sisi keterasingan manusia secara gamblang. Bentuk sinisme ini diakui Eliot ia dapatkan dari pengaruh dua penyair besar sebelumnya: Dante dan Athur Rimbaud. Dante memberinya kerangka dasar “repress emotion”, tentang bagaimana emosi dapat disampaikan tanpa harus adanya objek eksternal (when the emotion is split up into constituents – then perhaps it destroyed in the process). Sedangkan Rimbaud memberinya keliaran dalam eksplorasi imajinasi dan transformasi bentuk puisi. Namun, berkebalikan dengan karakter Rimbaud yang dikenal sebagai The Master of Urban Vouyerism, Eliot memiliki reputasi sebagai individu yang sulit dijangkau, bahkan Betrand Russel menyebutnya “Ultra-civilized”. Gambaran tentang Eliot yang penyendiri mengingatkan pada gagasannya tentang “prison of consciousness”. Sehingga ketika membaca Prufrock and Other Observations, kita seakan melihatnya mengurung diri dalam penjara kesadaran dan menaklukan realita melalui cara yang aneh: yaitu dengan tidak memberinya perhatian – karena dalam Prufrock dan puisi-puisinya, Eliot sibuk mencemooh diri sendiri.

 

Sumber Bacaan:

Cooper, John Xirox, 2006, Introduction to T.S. Eliot, Cambridge University Press: Edinburgh

Eliot, T.S., 1950, Poetry and Drama, Faber and Faber Limited: London

Eliot, T.S., 1963, Collected Poems, Harcourt, Brace & Wotld: New York

Moody, A. David, 1994, The Cambridge Companion to T.S. Eliot, Cambridge University Press: Edinburgh

Whitworth, Michael H., 2010, Reading Modern Poetry, Blackwell: West

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?