Di kereta, dalam perjalanan 8 jam meninggalkan Jogja, tulisan ini membentuk dirinya sendiri. Penulisnya sendiri, duduk terkantuk-kantuk setengah mati gara-gara kekurangan kafein. Malam sebelumnya, si penulis pengantuk yang kurang bertanggung jawab tadi, menghadiri pameran Foto seorang kawan, Agung Prastyo, yang dengan sengaja diberi judul “Aku yang Naif”. Walaupun aktif terlibat dalam persiapannya, judul itu – dengan penekanan pada kata Naif – begitu kuat menggelitik hingga dalam setengah tidurnya, ia mengambil kesimpulan sembarangan, bahwa semesta begitu baik hati mengijinkan para seniman dan penulis naïf berkeliaran bebas di setiap sudutnya.

Naif, adalah kata kunci bagi siapapun yang berupaya melakukan interpretasi, karena setiap yang berdiri diluar, hanya akan melihat dunia dalam pigura, dan sisanya adalah khayal. Pada titik ke-naif-an absolut inilah, fotografer dan penulis bertemu. Sebuah persilangan yang sebetulnya tidak pernah nyambung –persilangan diskontinuitas, karena apa yang dimaksud fotografer tidak akan pernah sepenuhnya tertangkap oleh penulis, dan juga sebaliknya. Maka hanya dengan kenekatan untuk naïf, seorang seniman bisa menampilkan karyanya, terutama ketika karya tersebut adalah interpretasi dari realita.

Interpretasi foto sendiri bukanlah hal baru yang saya geluti, sebelumnya bentuk persilangan foto/puisi sudah saya lakukan dengan beberapa seniman fotografi lainnya, antara lain Adzwari Ridzki dan Fitra Ananta Sujawoto. Sama halnya ketika bekerjasama dengan Agung, saya pun secara naïf memberanikan diri melakukan interpretasi atas karya-karya mereka, yang walaupun memiliki tema berbeda-beda, tetap membutuhkan tingkat kenaifan yang sama. Namun ternyata kenaifan interpratasi foto mendapatkan pembelaan dari sejumlah filsuf seniman, seperti Barthes, Susan Sontag, hingga Seno Gumira Adjidarma yang memaparkan persilangan foto/tulisan dalam kerangka keilmuan dengan segala alur logikanya.

Dalam Kisah Mata[1],Seno memaparkan bahwa interpretasi foto adalah upaya untuk memahami dua dunia[2]yang berbeda, memberikan semacam jembatan antara subyek yang memotret (fotografer) dan subyek yang memandang (penikmat foto), yang keduanya dipisahkan oleh jarak waktu. Dua dunia inilah yang memunculkan interpretasi, sebuah dunia yang dimaknai. Objek foto yang sebelumnya kabur[3], kemudian diperjelas – atau lebih tepatnya dibuat menjadi-Ada – oleh dua subyek tersebut, yaitu fotografer dan si penikmat foto. Adapun cara mengungkap makna tersebut adalah dengan menunjukkan bagaimana keterhubungan sebuah fakta dengan keseluruhan Aku. Sedangkan teori yang dianggap menunjang usaha pengungkapan fakta eksplisit tersebut adalah teori Heidegger, sebuah teori yang menjelaskan Ada-Dalam-Dunia. Dengan teori ini, Heidegger mencoba membuktikan bahwa fotografi ada sebagai suatu makna. Melalui fotografi, seorang manusia akan mempertanyakan Ada-nya, yang akan mengantarnya pada sebuah pemahaman Apa makna ber-adanya. Para fotografer dan penulis/perespon foto, patutlah  berterimakasih kepada para filsuf seniman diatas untuk menjadikan kegiatan yang dilakukannya menjadi terlihat lebih berbobot daripada upaya naïf belaka.

Jika ditelaah lebih lanjut, terdapat berbagai penjelasan lain atas bentuk persilangan diskontinuitas ini. Namun, tulisan yang membentuk dirinya sendiri ini nampaknya sudah ingin bermalas-malasan di kursinya sambil kembali melamun tentang hal antah berantah. Tapi sebelum mengakhiri diri dengan tanda titik, saya, – eh maksudnya tulisan ini – teringat pernyataan Mas Fitra, seorang seniman foto, yang menurutnya, interpretasi foto layaknya sebuah pergumulan hidup dan mati, satu teks membunuh teks lainnya. Saya menjawabnya dengan mengangguk setuju. Tapi toh kami tetap melakukannya, mengangkat berbagai bentuk persilangan tidak nyambung dalam jengkal-jengkal realitas, mencoba memberinya makna, senaif apapun itu (.)

Keterangan Sumber:

[1]Adjidarma, Seno Gumira, 2001, Kisah Mata, Galang Press, Yogyakarta

[2]Kata dunia digunakan sebagai perumpamaan untuk menjelaskan perbedaan makna (yang dibentuk budaya, pengalaman dan nilai-nilai) yang membuat seorang fotografer memutuskan memotret sebuah objek, dan makna yang muncul sebagai interpretasi dari penikmat foto (yang juga dibentuk oleh budaya, pengalaman dan nilai-nilainya sendiri)

[3] Rujukan terjemahan bahasa Inggris atas Martin Heidegger, Sein und Zeit (1927) yang diterjemahkan menjadi Being and Time, Stambaugh (1996)

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?