“In the theatre the audience want to be surprised – but by things that they expect.”

-Tristan Bernard-

Begitupun dengan pertunjukkan pantomime[1], atau lidah Indonesia menyebutnya “pantomin” – sebuah perubahan fonem yang mengubah keseluruhan makna konseptualnya – penonton senantiasa berharap akan sebuah teater komedi yang disuguhkan tanpa kata-kata, dengan gerakan segar atau mimik konyol sang artis yang setengah mati dapat membuat penonton terpikal-pikal. Oleh karena itu, pantomim tidak pernah disandingkan dengan tema tragedi – karena sebagaimana dikatakan Bernard, tragedi dalam pantomim adalah sesuatu yang tidak diharapkan – alih-alih memunculkan suka cita, ia akan berakhir dengan kekecewaan. Dengan demikian, dimanapun pantomim adalah komedi, sang artis mengajak penonton masuk ke dalam ruang imajinasi yang kaya interpretasi – maka bermunculanlah tembok tidak terlihat serta beragam benda imajinatif yang digunakan untuk mengeksplorasi segala bentuk kelucuan yang juga bersifat imajinatif. Oleh karena pantomim berpijak pada daya imajinatif, terdapat satu hal yang mutlak ada dalam sebuah petunjukkan pantomim yaitu intersubjektivitas – karena hanya dengan intersubjektivitaslah artis dan penonton sepakat bahwa yang ditembak adalah burung dan bukan pesawat ulang alik berisi seorang Major Tom (misalnya), juga sepakat bahwa adegan tembak-menembak adalah sebuah aksi kekonyolan, dan bukan genosida.

Dalam perkembangannya, pantomim tumbuh dari teater yunani kuno (pantomim telah disebutkan pada teks Poetic karya Plato) lalu menjadi bentuk pertunjukkan rakyat di italia dan teater natal di Inggris pada pertengahan abad enam belas, yang kemudian semakin populer ketika tekniknya digunakan oleh Charlie Chaplin[2]. Namun, walaupun seluruh alur cerita pantomim dituangkan dalam bentuk komedi, tidak ada patokan baku dalam ceritanya, selama cerita itu dianggap lucu – hal inilah yang kemudian memunculkan pantomim dalam bentuk komedi satir dengan kritik politik didalamnya, terutama sindiran bagi tokoh politik dengan gesture yang khas. Pantomim jenis ini pertama kali muncul di Perancis yang kemudian menyebar dengan cepat, termasuk Indonesia pada pertengahan tahun 1970-an sejalan dengan marak digunakannya teater sebagai sarana kritik politik. Di Indonesia sendiri, pantomim saat ini berkembang dengan pesat sebagai sarana kritik, namun pantomim di Indonesia ternyata berkembang lebih jauh: ia hadir setiap saat stasiun-stasiun televisi dalam bentuk lelucon politik dengan para politisi sebagai pemerannya. Jika tidak percaya, putarlah saluran pada acara berita lalu padamkan suaranya (mute mode), maka tersajilah sebuah pertunjukkan pantomim dengan berbagai tingkah kelucuan didalamnya.

Namun, jangan sekali-kali berharap bahwa apa yang ditayangkan di televisi atau siaran-siaran berita adalah pertunjukkan pantomim sekelas Marcel Marceau dengan teknik teatrikal kelas dunia, karena sayangnya, para seleb pantomim kita seringkali berpantomim setengah hati. Mimik, yang menjadi dasar pertunjukkan pantomim, tidak pernah mereka tampilkan secara serius, padahal dari mimiklah pantomim berawal – sedih, gembira, marah, dan lain sebagainya. Pada akhirnya penonton dibuat bingung, contohnya ketika seorang politisi menyuarakan simpatinya untuk musibah tertentu, tapi mimiknya berkata lain. Atas kondisi ini, intersubjektivitas pemain dan penonton menjadi hilang, karena apa yang ditampilkan jauh dari interpretasi makna, alhasil: tawa penonton tidak bergema dalam waktu yang sama, semua tergantung persepsi (dan selera humor) masing-masing.

Dalam televisi kita, seni olah mimik (para politisi kita), berubah menjadi mimikri – sebuah konsep post-kolonial yang dikemukakan Homi Babha bahwa tindakan seseorang dapat menjadi tidak murni akibat sebuah proses meniru disertai berbagai pengrusakan makna didalamnya. Jika dalam Location of Culture[3], Babha menguraikan mimikri sebagai bentuk ambivalensi masyarakat terjajah terhadap nilai-nilai budaya penjajahnya, maka pantomim(ikri) dalam tayangan berita televisi mengindikasikan adanya bentuk pengagungan terhadap nilai tertentu – bisa berupa (konstruksi) agama atau norma sosial yang sifatnya menjajah karena bukan datang dari pemahaman diri – sehingga bermunculanlah pantomim-pantomim artifisial dengan pengolahan seni mimik yang kacangan. Terhadap tontonan seperti ini kita dihadapkan pada dua pilihan: mematikan tivi atau tertawa dengan lekukan bibir yang membentuk majas ironi.

Tapi apakah tayangan televisi (tanpa suara) sah untuk dianalogikan sebagai sebuah pertunjukan pantomim? Untuk memberikan sebuah argumen yang (terlihat) logis, terdapat beberapa poin yang dapat dikemukakan. Pertama, mimos para politisi, yang berarti meniru (nilai atau pandangan tertentu) dapat kita temukan dengan mudah dalam acara-acara berita. Kedua, pemberitaan televisi dapat dengan mudah memenuhi aspek spectacle, yang mengacu pada pandangan Bernard bahwa penonton menyenangi berita karena berita tersebut memberikan kejutan – kejutan-kejutan yang sebetulnya sudah diketahui sebelumnya, sebuah aspek yang membuat berita, semengerikan apapun, menjadi lucu. Dan ketiga, adalah bahwa acara berita di televisi kebanyakan muncul dalam bentuk yang bisu (mute), yaitu kondisi ketika si tokoh dalam berita kehilangan kapasitas untuk menjelaskan diri – keterangan seorang tokoh dalam berita akan sama saja ketika ia bersuara, ataupun tidak, yaitu keterangan yang sifatnya nihil.

Namun, bangun argumen diatas menjadi (terlihat) pelik ketika kita menyadari bahwa berita televisi bukanlah sebuah komedi, tetapi merupakan tayangan tragedi vulgar dimana kita dihadapkan pada beribu kematian makna setiap detiknya. Sebuah kematian makna, yang menurut Pasolini[4], bukan dalam bentuk kehilangan kemampuan berkomunikasi, tapi sebuah kematian ketika seseorang tidak dapat lagi dimengerti – karena berbagai distorsi makna yang hadir baik dalam dirinya ataupun dalam masyarakat. Dengan dihadapkan pada kenyataan tersebut, pada akhirnya kita harus memberikan tempat bagi tragedi untuk hadir sebagai plot baru dalam pentunjukkan pantomim dan menghasilkan sebuah genre pertunjukan baru – pantomim(ikri). Sebuah pertunjukkan yang saat ini semakin populer di televisi-televisi Indonesia.

Keterangan dan Sumber:

[1] Pantomime, berasal dari bahasa Yunani, panto (banyak) dan mimos (meniru), merupakan pertunjukkan teater tanpa suara dengan penekanan pada olah mimik dan gerak tubuh

[2] Taylor, Millie, 2010,British Pantomime Performance, The Mill Publisher, Bristol

[3] Bhabha, Homi, 1995, Location of Culture, Routledge, London

[4] Pasolini, Pier Paolo, 2007, Pier Paolo Pasolini: Poems (Terj: Norman Macafee), Farrar, Straus and Giroux, New York

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?