Salvador Dali: Metamorphose de Narcisse

(Oleh: Fazar Sargani)

Dalam lukisan ‘Metamorphosis of Narcissus’, Dali coba menginterpretasikan kisah tokoh mitologi Yunani, Narcissus. Karya ini tercatat rampung pada tahun 1937, yang lalu setahun kemudian Dali sendiri menunjukannya pada Freud ketika mereka bertemu di London. Sebagaimana kita ketahui, besar pengaruh Freud dalam karir kepelukisan Surealis Dali. Sebagai ‘detektif Dali’[1], Bernard Ewell tak segan menyebut Dali sebagai ‘a well-read student of Freud’.[2] Bahkan dalam beberapa lukisannya, Dali menggunakan semacam metode yang ia sebut sebagai ‘paranoia-critical activity’ yang menurutnya dengan metode tersebut alam sadar dan bawah sadar dapat diakses secara simultan, berbeda dengan pendapat Freud yang dengan tegas membedakan aksesibilitas dua alam psyche tersebut. Dengan fakta-fakta tersebut, maka kiranya akan lebih tepat jika kita meninjau lukisan ini dengan bantuan psikoanalisa, walaupun tak tertutup hanya pada psikoanalisa Freudian saja.

Dalam ‘On Narcissus’, Freud membedakan dua jenis narsisme: ‘primary narcissism’ dan ‘secondary narcissism’. Primary narcissism, menurut Freud, tidak bersifat menyeleweng (perversion) melainkan wujud libido pelengkap (libdinal complement) egoisme instingtif semua manusia atau mahluk hidup untuk bertahan hidup[3]. Freud mencontohkan narsisme primer ini dengan aktivitas tidur. Selebihnya, narsisme primer juga ditunjukan oleh aktivitas biologis tubuh seperti bernapas yang bertujuan untuk menjaga kondisi homeostatis subjek. Narsisme primer ini diandaikan oleh Freud sebagai ‘intra-uterine life’, di mana si subjek yang masih infant masih belum bisa mendiferensiasi dunia objek eksternal dan dirinya. Oleh karena itu, narsisme primer tidak dapat disebut secara tegas sebagai bentuk kecintaan pada ‘diri’, karena konsep diri vis a vis objek belum terbentuk . Sedangkan narsisme sekunder muncul seiring terbentuknya ego, yakni ketika seseorang sudah dapat mengidentifikasi dan mendiferensiasi dirinya dengan objek luar. Dikotomi subjek-objek mulai terbentuk setelah subjek melewati sebuah fase yang disebut Lacan sebagai ‘Mirror phase’, yakni ketika bayi sadar bahwa dirinya adalah satu kesatuan utuh yang terpisah dari sang ibu. Ketika subjek telah menyadari adanya objek di luar dirinya, ia mulai memiliki hasrat terhadap objek eksternal (object petit atau object of desire), misalnya hasrat pada pasangan. Narsisme sekunder hanya akan menjadi patologis ketika libido seorang subjek yang normalnya disalurkan lewat rasa cintanya pada objek eksternal, ia tarik kembali ke dirinya. Narsisme ini memiliki potensi dan karakter megalomania yang mengorbankan libido objek.

Perlu dicatat sebelumnya, hasrat subjek atas yang lain (autre) dalam psikoanalisa Lacanian sifatnya ontologis karena tiap subjek menderita kekurangan yang akut (lack of being) akibat kastrasi dengan ibu dan masuknya figur bapak atau the Big Other. Sehingga subjek selalu mencari pemenuhan ‘lack’ ini, walaupun menurut Lacan tak akan terpuaskan. Lack ini bagai lubang hitam dalam alam raya, ketakterhinggaan dalam keterhinggaan tubuh. Seorang megalomania, atau penderita narsisme patologis, menekan lack tersebut, alih-alih lalu subjek mengembangkan ‘grandiose self’.[4] Ia harus memelihara kesempurnaan, terhidar dari sifat ketergantungan pada orang lain, dan terus mencari pengakuan serta pujian; kondisi subjek saat ia terserap habis dalam dirinya dan memerlukan validasi konstan atas kediriannya. Narsisme patologis ini pun berkaitan dengan ‘disavowal’ subjek atas ke-‘non-being’-annya serta kemungkinan kekosongan makna atas hidupnya. Subjek penderita megalomania enggan mengakui bahwa ia membutuhkan orang lain atau selalu merasa subsisten pada dirinya sendiri. Yang dapat mengganggu jiwa sang megalomania adalah ketika ia harus menghadapi situasi ia membutuhkan orang lain yang disebut ‘traumatic loss of omnipotence’. Ia ada dalam kondisi ‘mau tak mau’ harus mengakui keterbatasan dirinya, itu bertentangan dengan psyche yang ia kembangkan di mana ia menekan (repress) lack dirinya. Namun, sekalipun ia mengakui ia membutuhkan adanya pihak lain, ia memperlakukan pihak lain tersebut sebagai ‘means’ atas ‘ends’-nya; sesuatu yang menyalahi maksim Categorical Imperative Kantian.

Kembali ke lukisan Dali, kata ‘Metamorphosis’ dalam judul lukisan tersebut dapat kita citrakan sebagai proses dari narsisme primer ke sekunder. Dali dalam puisi yang ia tulis sebagai pengantar lukisannya menyebutkan ‘he has newly discovered the lightning flash of his faithful image.[5] Discovery atau penemuan bayangannya sendiri di permukaan sungai sontak mengagetkan dirinya, menyebabkan ia secara seketika menarik libidonya dari dunia eksternal ke dalam dirinya sendiri, menyaksikan begitu indahnya dirinya. Kesadaran diferensiasi subjek-objek telah terlebih dulu terbentuk dalam benak Narcissus, namun ia menolak para objek lalu melakukan penarikan (withdrawal). Penarikan ini terlihat dari sosok Narcissus yang digambarkan sendirian di pinggir sungai, meninggalkan komunitas di mana ia hidup dan dipuja. Komunitas itu tampak ada di belakang punggung Narcissus, tepat di tengah-tengah imaji tubuh yang mengaca pada sungai dan tangan membatu yang memegang telur. Bromberg (1983) mengatakan bahwa ada karakter psikologis dominan di masyarakat di mana, ia mengutip Peter Marin, diri telah menggantikan komunitas, relasi, pertetanggaan, kesempatan dan bahkan Tuhan. Narcissus, untuk mencintai dirinya sendiri harus menarik dirinya dari masyarakat, mencukupkan dirinya dengan dirinya sendiri.

Di sebelah kanan dilukiskan tangan yang membatu, seakan-akan menyembul dari air sungai sembari memegang telur di ujung jemarinya. Tangan yang membatu ini disebut oleh Terry Riggs sebagai ‘the death and fossilization of Narcissus’.[6] Di sini Narcissus telah mati, mati baik dalam artian fisiologis pun sosio-psikologis. Jika Narcissus mati dalam artian sosio-psikologis, maka simbol telur menjadi sangat tepat. Telur di sini tak hanya dapat diartikan sebagai simbol kesuburan yang darinyalah bermunculan mahluk-mahluk hidup, tetapi juga bisa diartikan secara Freudian. Maksudnya adalah telur diartikan sebagai fase kehidupan fetus di mana ia subsiten dengan dirinya sendiri, ia bisa memperoleh nutrisi serta beristirahat dalam telur tersebut dan aman dari ancaman luar (fungsi cangkang telur). Narcissus kembali ke dalam (kehidupan) telur; ‘a self-contained existence’ dalam kondisi ‘total self-sufficiency’.

Namun apakah benar perkataan Dali bahwa ‘If a man has a bulb in his head it might break into flower at any moment. Narcissus!’ (Shanes, 2011) seperti digambarkan sebagai hilir metamorfosis? Saya pikir Dali hidup terlalu singkat untuk menjadi saksi era proliferasi megalomania-megalomania muda di masyarakat kontemporer. Kontekstualisasi ini memunculkan sebuah pertanyaan terbuka: bagaimana ‘Metamorphosis’ muncul dalam alusi Narcissus era digital atau Narcissus 2.0? Apakah ia berkembang menjadi dafodil atau jangan-jangan layu sebelum berkembang?.  Pertanyaan ini saya akan biarkan terbuka – terbuka untuk jawaban, pun untuk tulisan selanjutnya. (bersambung)

Keterangan sumber:

[1] http://bernardewell.com/

[2] http://dali.parkwestgallery.com/provenance.htm

[3] On Narcissism, Sigmund Freud, Hal 73

[4] The mirror and the mask –on narcissism and psychoanalytic growth. Philiph m bromberg. Contemporary psychoanalysis 19 (1983).

[5]Puisi Metamorphosis of Narcissus bisa dilihat di http://en.wikipedia.org/wiki/Metamorphosis_of_Narcissus

[6] http://www.tate.org.uk/art/artworks/dali-metamorphosis-of-narcissus-t02343/text-summary

 

Artikel ini tidak sepenuhnya merefleksikan opini editor ataupun direksi antimateri. Untuk mengontak penulis dapat menghubungi Fazar R. Sargani (fazarsargani@gmail.com)

3 COMMENTS

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?