Edouard Manet - Rue Mosnier Decorated with Flags, with a Man on Crutches - 1878

Adalah le Cygne (the Swan) sebuah puisi Baudelaire dalam karya termashyurnya Les Fleurs du Mal edisi tahun 1861. Le Cygne tergabung dengan 17 puisi lainnya dalam seri Tableaux Parisiens (Parisian Scenes), sebagai bentuk refleksi puitis atas perombakan besar-besaran kota Paris tahun 1853. Puisi ini secara khusus mengangkat tema, bisa dibilang, fenomenologi urbanisme saat sang penulis secara alegoris menggambarkan pengalaman subjektifnya menyaksikan perubahan Paris di tangan Baron Haussmann.

“…

Paris changes! but naught in my melancholy

Has stirred! New palaces, scaffolding, blocks of stone,

Old quarters, all become for me an allegory,

And my dear memories are heavier than rocks.

…” (terjemahan William Aggeler)[1]

Dari penggalan di atas kiranya cukup jelas apa yang hendak ditampakkan oleh Baudelaire dalam keseluruhan le Cygne –juga sekaligus jadi tanggapannya atas ‘le grand dessein’ Paris kala itu; melankolia seorang manusia urban. Seperti yang diilustrasikan oleh Georges Rochegrosse, kita bisa membayangkan di kediamannya Baudelaire besandar pada jendela, menghadap pusat kota, Louvre, mengobservasi sekaligus langsung mengontemplasikan yang ia lihat. Kemudian, apakah yang ada di kepala dan dirasakan Baudelaire tentang Paris di depan matanya itu? Atau lebih luasnya, apakah yang dituliskan oleh seorang penulis tentang kotanya sendiri? Benjamin mengatakan:

The superficial pretext-the exotic and the picturesque – appeals only to the outsider. To depict a city as a native would calls for other, deeper motives — the motives of the person who journeys into the past, rather than to foreign parts.”[2]

Baudelaire, sebagaimana penulis native lainnya, menuliskan kotanya sendiri dalam motif yang lain. Tipikal motif-motif yang tak hanya didorong oleh penampakan nan elok dan unik, tetapi juga oleh dorongan fenomenologis –yang biasanya berkenaan dengan pengalaman selama menjadi penghuni urban-, moral atau bahkan politis. Mungkin maksud Benjamin jika hanya, mengutip Rendra, bersajak tentang anggur dan rembulan sebuah kota, itu bisa dilakukan oleh seorang penyair pendatang sekalipun. Keuntungan menjadi penyair native adalah memiliki keterikatan yang lebih erat dengan spasialitas di mana ia berada.

463px-Tableaux_parisiens,_1917

Ilustrasi Tableaux Parisiens karya Georges Rochegrosse[3]

Kembali pada Baudelaire yang sedang berpangku dagu di kediamannya. Bukankah saat Paris mempercantik diri sedemikian cepatnya, harusnya dia bersenang hati alih-alih bermelankolis dan mengangap semuanya telah jadi alegori saja? Perubahan yang terjadi secara eksponensial, pasti akan selalu meninggalkan kondisi mental yang kecepatannya sebatas deret aritmatik. Hal serupa juga dirasakan oleh seorang dokter tua di Delta Sungai Yangtze. Ia tak mengenali lagi kotanya. Pembangunan besar-besaran memang tengah terjadi di Tiongkok. Untuk pembangunan perumahan saja, sejak tahun 1995 telah dibangun 129 juta rumah, 40% diantaranya dibangun sejak tahun 2000-an. Membangun kota memang dalam artian sederhananya adalah mendirikan bangunan di atas lahan kosong. Namun kota di manapun, saya rasa, di dunia ini sedang mengalami pemadatan. Mencari lahan kosong lebih sukar daripada beberapa dekade yang lalu. Seperti yang terjadi di Delta Sungai Yangtze-nya si dokter, Paris-nya Baudelaire pun mengalami ‘demolition party’.[4] Untuk menyajikan lahan kosong guna dibangun bangunan di atasnya, trade off-nya adalah menghancurkan bangunan lama. Sebagaimana yang dikatakan Abidin Kusno, monumen, lanmark, jalan-jalan dan bangunan lainnya di kota berfungsi juga sebagai penyimpan memori kolektif warganya.[5] Dari bangunan-bangunan itulah warganya dapat menggali kembali kenangan yang berasosiasi dengannya baik sebagai salah satu kolektivitas warga kota atau juga sebagai individu. Dan kenangan merupakan salah satu kunci bagi kestabilan eksistensial seorang individu (personal) maupun sebuah kesatuan kelompok (sosial). Jadi singkatnya, hilangnya bangunan-bangunan tertentu, sejatinya juga merupakan penghilangan memori yang tersimpan di dalamnya. Pantaslah jika Baudelaire tak mengenali lagi kotanya; ia merasa terasing, diasingkan di pengasingan.

“…

So in the forest of my soul’s exile

…” (terjemahan Roy Campbell)[6]

Di kotanya sendiri, Baudelaire merasa terasing. Ia seakan-akan juga merasakan yang dirasakan Victor Hugo -yang untuknyalah puisi ini ditujukan- terasing di Pulau Guernsey. Jika Hugo memang terasing di pulau yang jaraknya 26 mil dari pantai Normandy, Baudelaire mengalami apa yang Bundy sebut sebagai ‘the localized dislocation’.[7] Tanpa melakukan mobilitas geografis, tanpa beranjak selangkahpun, Baudelaire merasa terasing di rumah sendiri. Perubahan kota yang cepat tak bisa dikejar oleh perubahan subjektivitas berserta identitas Baudelaire yang geraknya gradual.

Namun apakah pengalaman keterasingan temporal & flaneuresque yang dirasakan Baudelaire serupa dengan keterasingan para tokoh figuratif yang terdapat dalam Le Cygne? Apakah sang angsa, Andromache, seorang Negro, dan (tambahkan) Hugo, sama-sama memiliki jenis keterasingan yang sama dengan sang penyair?

Seperti telah disinggung di atas, alih-alih disebabkan spasialitas, Baudelaire mengalami kegamangan dalam menanggapi pembangunan –yang dapat diartikan sebagai modernisasi- Paris dari segi temporalitasnya. Tentu agar dapat memahami hubungannya dan keterasingan, modernitas perlu diartikan bukan sebagai suatu titik periode. Modernitas perlu diartikan sebagai sebuah cara dalam mengalami waktu (way of experiencing time).[8]  Maksudnya, di dalam modernisasi terdapat sebuah agenda untuk mengakhiri periode masa lampau ke suatu periode masa yang baru yang, simpelnya, lebih modern. Ungkapan awam seperti “di zaman atau era modern sekarang ini” menunjukan sisi temporal modernitas; proyek periodisasi modernitas. Lalu, pesat dan besarnya modernisasi Paris kala itu tak pelak merombak secara paksa pengalaman kewaktuan Baudelaire ke bentuk yang baru. Baudelaire diminta untuk mengalami modernitas Paris. Di tengah derasnya stimulan –e.g. penghancuran-penghancuran monumen yang fungsinya sebagai penyimpan memori- untuk mengalami muka Paris yang baru, Baudelaire mengalami kegagalan. Pengalaman temporal Baudelaire terhenti. Terhentinya pengalaman ini disebabkan ketakmampuan Baudelaire untuk memberikan makna pada pengalaman temporal barunya. Bagi dirinya, ia tidak menemukan arti atau lebih dalamnya makna modernisasi Paris tempo itu. Alhasil, Baudelaire justru terasing dari temporalitas ia hidup.

Selain keterasingan temporal, Baudelaire juga mengalami, sebut saja sebagai, keterasingan flaneuresque khas seorang penyair native. Di dalam sajaknya sang penyair native tak memuja-muja kotanya, melainkan menumpahkan hasil observasinya; hasil praktek flanerie-nya. Flanerie adalah sebuah modus pengamatan yang khusus, yang disebut oleh Balzac sebagai ‘gastronomi mata’[9], pengamatan mata seorang yang terasing. Kemudian Baudelaire sajikan hasil gazing-nya dalam satu hidangan puisi lirik (lyric poetry). Seperti yang dikatakan Benjamin:

“For the first time, with Baudelaire, Paris becomes the subject of lyric poetry. This poetry is no hymn to the homehina; rather, the gaze of the allegorist, as it falls on the city, is the gaze of the alienated man. It is the gaze of the flaneur, whose way of life still conceals behind a mitigating nimbus the coming desolation of the big-city dweller. The flaneur still stands on the threshold-of the metropolis as of the middle class. Neither has him in its power yet. In neither is he at home. He seeks refuge in the crowd.[10] (penekanan oleh penulis)

Seorang flaneur dicirikan oleh Benjamin memiliki relasi yang khusus dengan scena kotanya. Dia mengelilingi (strolling) kotanya dan mengamati kerumunan warga kota; mengambil jarak dari status kewargaannya ia menjadi seorang pengamat. Namun flaneur mengamati dengan kacamata yang berbeda dengan yang dipakai oleh pendatang atau wisatawan. Ia tahu betul setiap jalan di kotanya, tahu kebiasaan-kebiasaan kotanya, tahu mentalitas warganya. Sedangkan para pendatang atau wisatawan memandang dengan kacamata kekaguman, kacamata liburan & hiburan. Jarak kemengadaan (beingness) sang flaneur dengan kotanya membuat flaneur dapat merasa terasing sekalipun ia tidak pergi dari kotanya. Keterasingan fenomenologis ini dapat disebabkan oleh bergamam penyebab. Namun untuk kasus Baudelaire –dan juga sang dokter Yangtze- keterasingan tersebut disebabkan oleh pembangunan ‘berlebih’. Guy Debord, mengikuti Marx, melihat bahwa:

All time and space of his world become strange to him with the accumulation of his alienated products. The very forces which have escaped us show themselves in their full power. Man, seperated from his own production, produces ever more powerfully all the details of his world, and thus finds himself ever more seperated from his world.The more his life is now his own production, the more he is seperated from his life.”[11]

Singkatnya, keterasingan Baudelaire dan sang dokter di Yangtze disebabkan oleh objektifasi pembangunan kota besar-besaran yang mengasingkan. Inilah sebenarnya perbedaan mendasar antara keterasingan yang dirasakan Baudelaire dengan Hugo. Hugo diasingkan karena alasan politis. Begitu pula dengan  Andromache yang diculik dijadikan tawanan. Keduanya bukan flaneur yang terasing. Keduanya adalah korban pengasingan politis. “Exile has not only detached me from France, it has almost detached me from the earth”, ujar Hugo sekalipun ia tak menyangkal akan keindahan pulau tersebut.[12] Sebagai seorang pembela Republik, Kudeta Napoleon III memaksa Hugo untuk keluar Perancis. Lima belas tahun ia habiskan di Guernsey setelah sebelumnya lari ke Brussels, kemudian ke Pulau Jersey, sebuah pulau di Kepulauan Channel dalam teritori Inggris. Sementara Andromache, hidupnya sangat tragis. Ia diperbudak lalu dijadikan gundik oleh Neoptolemus, anak Achilles, di Pulau Epirot seusai Perang Troya. Hector dan anaknya, Astyanax, mati dan Neoptolemus pun mati sehingga ia menikah lagi dengan sesama budak Neoptolemus bernama Helenus, seorang cenayang yang ironisnya membocorkan rahasia pada tentara Yunani untuk mengalahkan bangsa Troya.

Hugo dan ketiga figur le Cygne mengalami keterasingan fisikal (atau spasial). Andromache, mengalami mobilitas geografis dari Troya mengikuti Neoptolemus. Sang angsa, selama terkurung dalam kandang, terasing dari “his fair native land”. Sedangkan sang perempuan Negro terpisah dari pepohonan palem Afrika yang hanya ia bisa bayangkan dalam pandangan kosong, di jantung kota Paris. Namun, khusus untuk Andromache, ia tidak merasakan keterasingan yang sifatnya, sebut saja, kultural. Ia tidak menetap di satu lingkungan sosial yang (jauh) berbeda dengan tanah asalnya suaminya. Keterasingan kultural sangat kental dalam figur sang perempuan Negro dan terlebih sang angsa. Sang perempuan Negro mengalami yang kita kenal dengan guncangan budaya. Pindah dari dataran Afrika, ia mendapati dirinya di tengah-tengah kota Paris dengan segala perbedaan yang mencolok. Dalam konsepsi Robert E. Park, sang perempuan Negro adalah ‘the marginal (wo)man’, sebuah keniscayaan hasil dari arus migrasi[13]; konsekuensi perpindahan spasial seorang individu meninggalkan ‘rumahnya’.

Tak seperti sang angsa yang mampu lolos dari kandangnya lalu terbang tinggi seakan-akan menuju Tuhan untuk mencari tanah asalnya, sang perempuan Negro hanya bisa terus bertahan menghadapi perbedaan kehidupan di Paris. Yang ia bisa lakukan cuma sebatas “trudging through muddy streets, seeking with a fixed gaze” mencari bayangan “coco-palms of splendid Africa” di balik “the immense wall of mist” kota Paris. Perpindahan ranah, untuk gunakan istilah Bourdieu, tempat seseorang hidup mengakibatkan habitus sang perempuan Afrika mengalami dislokasi. Habitus –artikan saja sebagai struktur disposisi yang distruktur (structured structure)- dan ranah, dua elemen yang secara ontologis berbeda, terlihat saling memengaruhi satu dan yang lain dengan kuatnya di diri sang perempuan Negro. Habitusnya tak lagi koheren dengan ranah baru; cara hidup Afrika (habitual), tidak cocok dipraktekan di kota Paris sebagai suatu lingkungan sosial (ranah). Ketakcocokan ini mengakibatkan guncangan dalam diri individu perempuan Negro yang disebut hysteresis.[14] Sang perempuan Negro menjadi marjinal disebabkan baik oleh faktor eksterioritasnya, yakni kota Paris, juga sekaligus dari interioritasnya, habitusnya atau kediriannya.

Le Cygne adalah puisi keterasingan yang komperhensif. Bukan saja karena puisi itu dapat menggambarkan rasa keterasingan mendalam yang dialami oleh seorang penyair native  di kotanya sendiri. Namun juga, berikan kita sketsa ragam jenis keterasingan berdasarkan asalnya. Keterasingan bagi Baudelaire sendiri adalah keterasingan temporal dan flaneuresque, sifatnya fenomenoligis disebabkan oleh kegagalan  pemaknaan atas perubahan pesat lingkungan di mana penyair berada. Sedangkan Victor Hugo, Andromache, sang angsa dan sang perempuan Negro mengalami keterasingan spasial. Lebih khusus Hugo dan Andromache mengalami keterasingan yang disebabkan oleh persoalan politik. Sementara sang angsa dan sang perempuan Negro mengalami keterasingan kultural, yakni ketika mereka berpindah dari satu tempat dengan budaya tertentu ke tempat lain dengan budaya yang sama sekali lain.

Dan jika kita berani untuk merefleksikan diri kita, apakah selama ini kita sebagai warga urban juga merasa terasing, dan mengapa? Apakah keterasingan adalah sebuah keniscayaan dari kehidupan urban modern? Atau apakah keterasingan merupakan manifestasi romantisme kita terhadap modus kehidupan ‘yang-lain’ yang kita persepsikan dijalani oleh mereka yang tinggal jauh dari hiruk pikuk perkotaan? Pada apakah kita dapat berlindung dari keterasingan – jika masih dimungkinkan? Agama? Politik? Konsumsi? Kerja? Keluarga? [.]

 

Keterangan Sumber:

[1] http://fleursdumal.org/poem/220

[2] Walter Benjamin. The Return of the Flâneur. http://blindflaneur.com/contact/browse-the-archives/tutelary-spirits/the-return-of-the-flaneur/

[3] http://library.brown.edu/cds/baudelaire/fleursdumal5.html

[4] http://thenewinquiry.com/essays/demolition-party/

[5] Abidin Kusno. Ruang Publik, Identitas dan Memori Kolektif: Jakarta Pasca-Suharto [Public Space, Identity, and Collective Memory: Jakarta in the Post-Suharto Era], Yogyakarta: Ombak Press, 2009.

[6] http://fleursdumal.org/poem/220

[7] Stephanie Bundy. Exile in Modernity: the localized dislocation of Charles Baudelaire’s Le Cygne. English and Comparative Literary Studies (ECLS) Student Scholarship. 2009. http://scholar.oxy.edu/ecls_student/22

[8] Elissa Marder. Dead Time: Temporal Disorders in the Wake of Modernity (Baudelaire and Flaubert). Stanford University Press. 2002

[9] Honore de Balzac Physiologie du Mariage dalam Ilija TomanicTrivundza. Dragons and Arcades: Towards a Discursive Construction of the Flaneur.Critical Perspectives on the European Mediasphere. 2011

[10] Walter Benjamin.  Baudelaire, or the Street of Paris dalam The Writer of Modern Life Essays on Charles Baudelaire. The Belknap Press of Harvard University Press. 2006

[11] Narasi dalam film Societe du Spectacle, Guy Debord sendiri sebagai sutradara dan penulis naskah.

[12] Ann Mah. Where Victor Hugo Found Freedom http://mobile.nytimes.com/2012/05/06/travel/victor-hugo-on-the-island-of-guernsey.html?referrer=&_r=0

[13] Robert E. Park. Human Migration and the Marginal Man. The American Journal of Sociology. Mei 1928.

[14] Cheryl Hardy. Hysteresis dalam Pierre Bourdieu Key Concepts editor Michael Grenfell. Acumen Publishing Limited. 2008.

1 COMMENT

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?