Lukisan: Goya, in his review of the descent

(Masih tentang Rendra: Bagian 2)

Rendra dikenal sebagai penyair pamflet – sajak-sajaknya menjadi nafas yang menghidupi oposisi bagi kemandegan rejim politik selama masa orde baru di Indonesia[1]. Namun, gagasan Rendra tidak hanya berbicara tentang persoalan sosial dan politik atau melulu tentang negara, karena dalam puisi-puisinya kita pun menemu perhatian mendalam tentang ruh sebuah bangsa, yaitu kebudayaan. Sebagai seorang penyair, sikap Rendra terhadap realita budaya sangatlah khas: selalu gelisah atas bangun konstruksi yang dianggapnya salah. Kegelisahan tersebut ia suarakan bahkan sebelum ia berteriak lantang tentang konsep negara dan rakyat. Dalam kumpulan puisi pertamanya yang berjudul Balada Orang-orang Tercinta (1957), Rendra telah mengangkat (secara halus) berbagai gambaran konstruksi budaya yang mengikat dan menghimpit individu-individu di dalamnya, walaupun kritik tajam tentang konstruksi budaya baru muncul kemudian dalam kumpulan puisi yang terbit tahun 1971 – salah satunya dalam puisi berjudul “Kesaksian tahun 1967”. Puisi ini membuka protes terang-terangan Rendra pada bentuk penindasan yang juga menindas kebudayaan. Kebudayaan, yang kerap tidak dipahami secara utuh, pada akhirnya gagal memberikan arah, dan menjelma menjadi aturan-aturan tidak masuk akal. Budaya, menurut Rendra terkadang diuraikan dalam tulisan ruwet yang tak bisa dibaca.

Kita akan mati dalam teka-teki nasib ini

dengan tangan-tangan yang angkuh dan terkepal

Tangan-tangan yang memberontak dan bekerja.

Tangan-tangan yang mengoyak sampul keramat

dan membuka lipatan surat suci

yang tulisannya ruwet tak bisa dibaca.

(Kesaksian Tahun 1967)

Pemikiran Rendra tentang kebudayaan tidak berdiri pada ruang kosong, tapi bersandingan dengan pemikiran-pemikirannya tentang negara, kekuasaan, konstruksi sosial, ekonomi hingga masalah kesenian. Menurutnya, sistem masyarakat dapat saja mengadopsi pemikiran luar, seperti trias politika, demokrasi, sosalisme, bahkan avant-garde (dalam seni), tapi tidak untuk bangun kebudayaan. Rendra secara tegas mengungkapkan: kebudayaan haruslah otentik, sehingga mampu menjadi landasan jati diri [bangsa][2]. Sikap tegas ini ia narasikan dalam berbagai karyanya, dan sejak awal ia telah memperingatkan bahwa jalan menuju otensitas tidaklah mudah, jalan tersebut harus dimulai dengan melalukan pemberontakan yang paling sulit, yaitu melawan diri sendiri, sebagaimana ungkapannya: “jika aku brontak, arah memberontak itu padaku sendiri”. Pemberontakan pada diri sendiri merupakan upaya penyadaran, setelahnya barulah sebuah bangsa dapat dengan jelas menyelesaikan masalah-masalahnya.

Selain bentuk dialog diri untuk menemui otensitas, Rendra juga memaparkan tentang bagaimana konstruksi kebudayaan menindas hakikat dari kebudayaan itu sendiri[3]. Dalam memaparkan persoalan ini, ia menggunakan metafora dari dua bangun budaya yang sangat dekat dengan masyarakat – namun memiliki kecenderungan yang sangat tinggi untuk diselewengkan – yaitu agama dan pendidikan. Gambaran tentang Sikap Rendra terhadap agama, dan lebih jauh tentang visi ketuhanannya, dipaparkan oleh Syu’bah Asa[4]:

Pada tahun 1967 penyair ini pulang dari Amerika, setelah menempuh studi teaternya di sana. Dari seorang yang dulunya dibaptis Katolik, ia lalu muncul sebagai orang yang melemparkan nilai-nilai fundamental keagamaan yang telah didapatnya dulu, kemudian mulai dalam hal itu dengan pencarian baru. Hal ini tentu saja menarik, seorang seniman kaliber besar, yang (walaupun tidak selamanya harus ilmiah) diharapkan intens dalam menghayati nilai-nilai yang diyakininya”.

Pandangan Asa tersebut memberikan gambaran umum tentang bagaimana sikap Rendra terhadap agama, yang menurutnya seringkali berakhir menjadi ritus-ritus tanpa arti dan berubah menjadi alat penindas. Kritik terhadap kondisi tersebut digambarkan dalam dua puisi kontroversialnya yaitu Khotbah dan Nyanyian Angsa. Dalam khotbah, Rendra berhasil membuat puisi yang membuat bulu kuduk berdiri tentang khotbah yang disampaikan oleh seorang paderi muda. Paderi muda itu sendiri telah memperingatkan jemaatnya bahwa daripada mendengarkan khotbah, pencarian ilahi lebih baik dilakukan melalui perenungan – oleh karena itu, serunya “Sekarang kita bubaran, hari ini tak ada khotbah”. Namun jemaat ternyata sangat haus untuk mendengar, maka berkhotbahlah sang paderi muda. Tapi betapa mengejutkan, ketika kemudian Rendra menyindir tingkah laku jemaat yang sebetulnya hanya ingin mendengar apa yang ingin mereka dengarkan, selebihnya khotbah sang paderi menjadi tanpa arti dan berbunyi “cha-cha-cha, ra ra ra dan hum pa pa”. Fantastis[5].

Sedangkan dalam Nyanyian Angsa, Rendra mengkritik institusi keagamaan melalui kisah seorang pelacur tua bernama Maria Zaitun yang ditolak germonya, masyarakat dan juga gereja – tapi malah diselamatkan oleh Yesus sendiri. Dalam puisi ini, Rendra dengan syahdu berhasil menyerang ritus dan tembok institusi keagamaan. Pemahaman (agama) yang lebih manusiawi dan penuh kasih, ditemukan dalam puisi berjudul Masmur Mawar. Didalamnya kita menyaksikan Tuhan pada sisi tergelap kehidupan, Ia menyertai para pencuri, perampok, ada di kamar para pejinah, dan orang-orang miskin – bahkan Tuhan adalah meja judi yang dibantingi kartu-kartu atau cacing tanah makanan babi. Dan setelah menyandingkan Tuhan melalui berbagai bentuk personifikasi, Rendra mengakhiri puisinya dengan berseru: “Marilah kita datang pada-Nya, kita tolong teman kita yang tua dan baik hati”. Melalui pembandingan beberapa puisi di atas, mengungkapkan bahwa Rendra bukanlah anti-agama, namun mengkritik atas tindakan ritus keagamaan dan institusinya yang kerap mengkhianati hakikat dari agama itu sendiri. Dalam perjalanan hidupnya, Rendra kemudian berpindah agama, namun pandangannya tetap sama: bahwa ia menempatkan agama pada posisi seharusnya – transenden, jauh dari tangan-tangan yang mengotorinya.

Selain agama, pendidikan dan permasalahannya adalah juga bangun kebudayaan yang juga diangkat dalam puisi-puisinya. Pendidikan sebagai unsur utama dalam pembangunan bangsa banyak terurai dalam kumpulan Potret Pembangunan dalam Puisi. Persoalan mendasar tentang pendidikan di Indonesia dikemukakannya dalam Puisi berjudul Sajak Anak Muda, dimana pendidikan yang cenderung dikotak-kotakkan, tidak memberikan kemampuan mendasar bagi seseorang untuk menjadi manusia yang seharusnya paham tentang keadilan, budaya dan juga alur logika – sehingga Rendra bertanya: Apakah kita hanya dipersiapkan untuk menjadi alat saja?. Melalui Sajak Anak Muda, Rendra menyodorkan realita bahwa kurikulum pendidikan di Indonesia masih belum mampu meletakkan dasar kepribadian bangsa yang berbudaya – dan walaupun sajak ini ditulis Rendra pada tahun 1977, kondisi serupa dapat kita sandingkan dengan pendidikan saat ini, yang belum beranjak kemana-mana.

Kritik lain muncul dalam Sajak Sebatang Lisong, dalam puisi ini Rendra dengan tegas berpendapat bahwa: papantulis-papantulis para pendidik terlepas dari persoalan kehidupan. Sajak yang dipersembahkan untuk para mahasiswa – yang dibacakan di kampus ITB – ini menyentuh permasalahan utama dalam kerangka pendidikan di Indonesia: bahwa seringkali teori dan metode hanya tersangkut di menara gading universitas karena tidak mempan untuk digunakan dalam menjawab permasalahan yang ada. Rendra lebih lanjut menyatakan:

Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing.

Diktat-diktat hanya boleh memberi metode

tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.

Kita mesti keluar ke jalan raya,

Keluar ke desa-desa,

Mencatat sendiri semua segala,

Dan menghayati persoalan yang nyata.

(Sajak Sebatang Lisong)

Melalui Sajak Sebatang Lisong, kita bertemu dengan gagasan utama Rendra tentang pendidikan yang bersandingan dengan kebudayaan: hanya melalui pemahaman yang otentik, sebuah bangsa dapat menemu solusi untuk permasalahannya sendiri. Otensitas juga berarti bahwa pemikiran sebuah bangsa tidak bergantung dan tidak ditentukan oleh subjek lain – ia harus berasal dari perumusan keadaan yang dilakukan secara mandiri.

Untuk mencapai bangun kebudayaan yang otentik, Rendra mengarahkan otokritiknya pada dua hal: Pertama, kebudayaan tersebut harus menyentuh nilai-nilai transenden (sebagaimana digambarkan dalam narasi agama), ia harus melepaskan diri dari kepentingan sepihak, sehingga dapat memberikan arah bagi langkah sebuah bangsa. Kedua, kebudayaan harus mampu terejawantahkan dalam tataran praktis (dalam fungsinya sebagai pendidikan), sehingga nilai-nilainya dapat menyentuh persoalan yang ada pada masyarakat. Mengingat sulitnya menemu hakikat otentik dari sebuah kebudayaan, maka daya kritis tetap harus dibangun agar konstruksi budaya tidak lagi dipahami dalam bentuknya yang permukaan, tapi dihayati sebagai landasan sikap bangsa. Adapun pendidikan menjadi salah satu perhatian utama bagi Rendra, menurutnya: sebagai cara menuju budaya otentik, haruslah pendidikan yang juga otentik, bukan pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan impor – sialnya, apa yang dikhawatirkan Rendra saat ini semakin nyata dan membabi buta di depan mata.

Pada kedua pokok inilah kebudayaan rentan mengalami penindasan: hakikatnya seringkali disalaharti dan dikonstruksi ulang secara semena-mena untuk kepentingan segelintir orang. Oleh karenanya, melalui sajak Rendra kerap menyuarakan otensitas kebudayaan, karena tanpa perjuangan menjaga keotentikannya, seringkali kita menyaksikan bagaimana konstruksi budaya menjelma kelelawar-kelelawar raksasa yang memperkosa manusia[6] – atau dengan kata lain memperkosa hakikat kebudayaan itu sendiri. Fantastis.

 

Keterangan:

[1] Bagian 1: Rendra, Puisi Pamflet dan Oposisi (http://antimateri.com/rendra-puisi-pamflet-dan-oposisi/)

[2] Kompas, 19 April 1969, Penyair Otentik yang tidak pura-pura

[3] Media Indonesia, 9 Agustus 2009, Terbanglah Si Burung Merak

[4] Abadi, (Asa, Syu’bah), 24 Mei 1969, Sikap Ketuhanan W.S Rendra

[5] Kata pembuka sekaligus penutup dalam puisi “Khotbah”

[6] Larik dari puisi “Pemandangan Senjakala”

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?