Gabriel Garcia Marquez membuat sebuah lanskap magis bernama Macondo dalam [salah satu] novel terbaiknya: One Hundred Years of Solitude[1]. Novel ini – dengan segala peristiwa ajaib yang terjadi di Macondo – lantas dikategorikan kedalam genre realisme magis, yang menurut Franz Roh dapat dikenali ketika hal-hal biasa, melalui detil cerita yang memukau, membentuk sebuah keajaiban yang luar biasa[2]. Salah satu keajaiban Macondo muncul lewat rombongan gypsy yang berkunjung pada bulan Maret setiap tahunnya. Pada waktu yang telah dinanti, mereka datang dengan berbagai benda ajaib yang dibawa dari balik gunung atau seberang lautan: gigi palsu, teleskop, jam mekanik, pemantik api, dan berbagai “keajaiban” lain, dengan serangkaian cerita yang melebihi fungsinya – salah satu yang paling menarik adalah bagaimana para gypsy menawarkan gigi palsu sebagai “alat pengembali masa muda” dengan demonstrasi seorang gypsy tua yang tidak lagi bergigi, memakainya, lalu memamerkan senyum menawan. Rombongan yang selalu hingar bingar ini dipimpin oleh seorang gypsy kharismatik bernama Melquíades – yang tentu jauh dari tipe kharismatik ala aristrokrat.

Pada satu per empat bagian awal novel ini, Melquíades dengan sentuhan gypsynya menjadi salah satu tokoh pencipta keajaiban di Macondo. Ia memukau banyak orang – termasuk pembaca – ketika ia muncul kembali dari kematian yang dikabarkan telah merenggutnya di laut Singapura. Lalu setelah membuatnya bercerita tentang sederet petualangan yang menakjubkan, Marquez sang penulis, membuat Melquíades menetap di Macondo – lebih tepatnya di sebuah laboratorium milik keluarga Buendia – dan melakukan praktik-praktik ajaibnya di belakang pintu tertutup. Sampai akhir hayatnya,  Melquíades tinggal di Macondo: sebuah akhir yang agak sedikit aneh untuk seorang gypsy, dan juga bagi Macondo. Karena Di Macondo, desa seumur jangung yang dibangun oleh Jose Arcadia Buendia, liang kubur pertama bukan digali untuk pemukim di desa tersebut – atau sang pendiri –, tapi untuk seorang Gypsy bernama Melquíades.

Negeri tanpa Batas Para Gypsy

Sejarah kaum gypsy berkelindan dengan mitos, musik, dan budaya nomaden yang mereka jalani dari masa ke masa. Para sejarawan yang mencoba menelusuri jejak awal para nomad ini berbeda dalam dua pendapat utama: yang menyatakannya berasal dari Mesir (Egyptian) mengacu pada kemiripan jejak fisik dan yang menyatakannya berasal dari India dikarenakan bahasa yang mereka gunakan memiliki akar Euro-Asia. Gelombang gypsy masuk ke Eropa pada abad ke 14 melalui kawasan Balkan dan kemudian menyebar ke seluruh daratan Eropa. Diantara penyebarannya, kaum Gypsy memberi pengaruh yang kuat bagi etnis dan bahasa yang berkembang di Romania.

Karena perkembangan dan penyebarannya[3], Gypsy memberi warna tersendiri bagi Eropa, namun karena perbedaan budaya dan persepsi, Gypsy dalam [buku-buku] sejarah Eropa diberi warna yang kelam – berbagai pandangan negatif kemudian melekat pada narasi identitas mereka: pembawa penyakit, penyebab kemiskinan, perusak norma (secara eksplisit menyebutnya pelacur), ahli tenung, dan tidak berpendidikan. Sejarah gypsy sejalan dengan kelompok imigran lainnya yang terdampar di Eropa – Yahudi – yang dijadikan bulan-bulanan ketika sejarah berjalan ke arah yang salah – menuju kamp konsentrasi. Namun jika Yahudi berbicara lantang atas kelamnya sejarah yang menimpa mereka, Gypsy memilih bernyanyi dan pergi – kembali berkenala menapaki negeri-negeri lain yang memberi inspirasi bagi seni yang begitu mereka agungkan – the only way to make sense out of change is to plunge into it, move with it, and join the dance.

Filosofi nomadenlah yang telah menyelamatkan mereka dari konstruksi sejarah dan kerangka beku aturan sosial masyarakat. Kaum gypsy yang bebas, hidup di bawah langit di negerti tanpa batas. Mereka bernyanyi dan menari, berpuisi dan bermimpi, bahwa seluruh dunia adalah rumah mereka, sebuah pemikiran yang juga dikemukakan oleh Budha: Home is here and now sebuah kebetulan yang memperkuat anggapan bahwa gypsy berasal dari India. Namun, mimpi kaum gypsy lagi-lagi harus terjegal oleh sejarah, karena pada akhirnya, konsep “negeri tanpa batas” harus terkoyak garis batas teritori negara. Paska perjanjian Westphalia[4], sejumlah peraturan dibuat menyangkut keberadaan kaum gypsy, diantaranya larangan berpindah tempat, pelarangan bahasa, musik, sastra dan penggunaan identitas gypsy – yang seluruhnya bertujuan agar mereka tunduk ke dalam norma umum masyarakat Eropa – dan sanksi untuk pelanggaran aturan tersebut adalah hukuman mati atau perbudakan.

Kini, lima abad setelahnya, pengekangan atas kebebasan identitas gypsy [di Eropa] masih berlaku. Walaupun sebagian besar kaum gypsy di Eropa telah meninggalkan budaya nomaden dan membayar pajak seperti warga negara pada umumnya, namun diskriminasi masih tetap diberlakukan – salah satu yang paling konyol adalah tidak berlakunya aturan bebas kunjung Uni Eropa bagi seorang gypsy. Sangat jelas bahwa dataran Eropa mencoba mengikat tangan dan kaki kaum gypsy dengan sedemikian kuat. Dihadapkan pada kondisi tersebut, lalu masih adakah “negeri tanpa batas” dimana kita bisa menemu jejak kaki dan nyanyian Melquíades?

Jejak-jejak Kaki Melquíades

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus pergi ke Macondo – tapi Macondo hanyalah mimpi, sehingga kita harus puas dengan berziarah dalam baris-baris novel garapan Marquez. Namun, menemukan [kembali] jejak kaki kaum gypsy bukanlah mimpi: karena perang dunia II yang begitu ganas (terutama karena ancaman holocaust yang mengintai), kaum gypsy kemudian mencari perlindungan di benua Amerika, baik di Amerika Utara ataupun bagian selatan. Sebagian besar para gypsy berlabuh di selatan, sehingga daratan Latin lalu menjadi “negeri” baru mereka – Marquez yang berasal dari Kolombia rasanya kenal betul dengan jejak para gypsy sehingga dapat menuangkannya dengan begitu penuh kesan dalam novelnya.

Negara-negara Amerika Latin sendiri hingga saat ini tidak dapat menjawab berapa banyak kaum gypsy yang ada di negara mereka: karena mereka datang tanpa dokumen dan hidup berpindah-pindah [juga tanpa selembar dokumen]. Walaupun secara budaya gypsy dapat beradaptasi – bahkan saling mempengaruhi – dengan budaya latin, namun secara sosial, mereka tetap memiliki jarak dengan tatanan yang ada. Jarak ini membuat stereotipe negatif kembali muncul terutama pada tiga hal – pencuri, penadah, dan tukang sihir. Dalam menghadapinya, negara-negara latin terasa lebih berperikemanusiaan daripada Eropa, walaupun secara hakiki tetap berujung pada penghilangan identitas: yaitu mengupayakan pendidikan yang lebih layak untuk mengubah konstruksi nilai secara perlahan.

Jejak lain dari kultur gypsy muncul dalam gelombang yang cukup besar di Amerika Utara – mereka menamakan diri New Age Traveller[5] atau lebih dikenal dengan sebutan hippies. Anggotanya tidak terkait secara etnis dengan kaum gypsy yang datang dari seberang kontinen, tapi merupakan sebuah generasi yang mencoba mendobrak tatanan sosial sebagai bentuk protes terhadap pola pemikiran dan budaya baku generasi sebelumnya – dan ketika tatanan sosial mainstream yang berlaku adalah kemapanan pendidikan dan keluarga, maka cara untuk mendobraknya adalah menanggalkannya dan berkelana layaknya gypsy. Gerakan ini menghasilkan efek yang tidak main-main, terutama sebagai bentuk counter culture, yang memberikan pengaruh pada sudut pandang dan pemikiran masyarakat Amerika [Utara] saat itu, terutama dalam memberikan alternatif pasifisme untuk melawan agresivitas – baik agresivitas perang ataupun kapitalisme. Gerakan ini mengalami puncaknya pada akhir 1960-an, namun memudar sejalan dengan roda sejarah yang berputar.

Berbeda dengan jejak hippies yang tenggelam, gypsy masih terus meninggalkan jejak budayanya. Hal ini dikarenakan diantara keduanya terdapat dua perbedaan yang mencolok: Pertama, bagi gypsy berkelana adalah tradisi dan budaya, sedangkan bagi hippies berkelana [pada akhirnya] adalah perjalanan dari satu festival musik ke festival musik lainnya. Dan Kedua, gypsy telah bertahan dari holocaust, sedangkan perjuangan hippies terakhir adalah Woodstock 1969. Namun, yang menjadi pembeda utama Gypsy dari hippies dan komunitas [atau kelompok] etnis lain adalah: gypsy yang bebas – dan merupakan kelompok minoritas terbanyak di dunia – tidak pernah tergiur untuk meminta wilayah (kedaulatan) – mereka masih memimpikan hal yang sama selama berabad-abad, yaitu sebuah negeri tanpa batas. Hal inilah yang membuat mereka terlepas dari agresivitas nasionalisme semu dan ego kepemilikan wilayah. Oleh karena itu, jika bertemu gypsy dimanapun, maka percayalah bahwa ia adalah reinkarnasi Melquíades yang tengah mencari negeri baru – bukan untuk ditaklukan, tapi untuk diresapi sebagai keajaiban baru.

 

Keterangan:

[1] Marquez, Gabriel Garcia, 2003, One Hundred Years of Solitude, Harper Publisher

[2] Bowers, Maggie. A, 2004, Magic(al) Realism, New York, Routledge

[3] Di Inggris, Irish Gypsy tinggal dalam karavan, disebut Pikeys

[4] Perjanjian Westphalian (1648) yang mengatur sistem kedaulatan Eropa

[5] Cemlyn, Sarah, dan Margareth Greenfields, 2009, Inequalities Experienced by Gypsies and Traveller Communities, Birmingham, University of Bristol Press.

Keterangan Gambarhttp://english.svenko.net/costume/street_2.htm

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?