(Mencoba menerjemahkan tradisi Micro Gig yang diadakan di Kota-kota Besar di Indonesia)

Oleh: Audri Rizki Prayoga

“Gus, anak – anak pada bawa bas, gak?” tanyaku  pada Agus lewat sms. “Wah, gak tahu, Gung. Coba tanya yang lain.” Jawaban yang sama juga terlontar dari kawan – kawanku yang lainnya.

 Sempat aku berpikir, “Gimana mau maksimal?” Lagipula aku belum sempat berlatih bersama kelompok bebunyianku. Ya! kelompok bebunyian! Entah mengapa aku lebih nyaman menyebutnya demikian. Mungkin, dikarenakan kemampuanku dalam memainkan alat yang pas-pasan, buta nada,  hingga alasan artistik lainnya yang memperkuat argumenku mengenai istilah tersebut. Sebenarnya aku ingin mendalami New York Artschool Scene pertengahan 80an, Olympia college scene pertengahan 80an, manisnya Glaswegian scene akhir 80an , hingga nakalnya The Pixies, Pavement, serta My Bloody Valentine.

Namun apa daya, kurangnya waktu (atau kata lainnya malas) untuk berlatih membuatku lebih nyaman menyebut kelompok bersenang – senangku ini mentok-mentok sebagai kelompok bebunyian belaka. Aku juga teringat perkataan kawanku yang menanggapi tumbuhnya kelompok bebunyian di Bandung akhir-akhir ini. Kawanku sempat berkata, bahwa apabila sebuah grup musik yang mencoba bereksperimen dengan pelbagai efek, seperti fuzz, tremolo, stompbox, delay, noisebox, theremin, dll., tidak berhasil membuat penonton “menganjing-anjingi”, mampu menyampaikan pesan, mencengangkan, atau yang paling sempit mampu mengejar atau bahkan melebihi grup atau musisi solo, seperti John Cage, The Velvet Underground, hingga Slamet Abdul Sjukur, maka hanya akan berhenti sebagai kelompok bebunyian belaka.

Ah, namun, persetan dengan pendapat kawanku. Malam ini dengan atau tanpa bas aku dan kelompok bebunyianku ingin melupakan rutinitas selama seminggu ini, seperti bekerja atau hal – hal menjemukan lainnya dalam kehidupan manusia modern.  Ya, malam ini kami akan mencoba memanifestasikan apa yang selama ini terngiang – ngiang di kepala kami, mencoba bersubversi ria ala Green Gartside.

Pekikan yang kuteriakan dalam hati tersebut meyakinku pada malam ini. Sesegera mungkin aku mandi, berkemas, dan memanaskan motor bebek milik kakakku. Tak lupa aku mengenakan kaos Sniffin Glue, grup musik Ramonesesque yang pada departemen gitarnya diotaki oleh Bravo Jr ( eks- gitaris serta visual art  grup musik  Head Over Heels (Grup musik yang terpengaruh Cocteau Twins, Robin Guthrie,  dll). Sisi pretensiusnya: meskipun secara selera, aku tidak teralu menggemari Sniffin Glue, namun aku menggemari artwork pada kaos tersebut. Selain itu, aku mengenakan kaos sebagai medium sejarah visual yang hendak aku sampaikan, dan tentunya, bukankah kaos tersebut sangat langka?

Sayangnya, hujan tak jua berkompromi. Namun, kasihan juga kawan-kawanku yang sedang sibuk di venue. Akhirnya, atas nama kolektif, pertemanan, atau apa pun namanya, membuatku memilih untuk menerobos derasnya hujan di sepanjang Lingkar Selatan, yang dikenal sebagai salah satu jalur yang menyebalkan di kota ini, baik macetnya, ramainya persimpangan lampu merah, hingga banjirnya.

Kira-kira pukul 7 malam aku sampai di venue. Tepatnya, di sebuah ruang kelas dalam Komplek Sekolah Seni.  Terletak di sebelah barat pendopo pementasan. Ruangannya sendiri lebih mirip dengan studio lukis atau memang studio lukis? Entah mengapa mereka menamainya kelas. Ataukah karena aku saja yang memang tidak memahami atau tidak terbiasa dengan istilah anak-anak seni rupa? Entahlah.

Namun, aku selalu bersemangat apabila menghadiri sebuah pesta atau keriaan yang diadakan di lingkungan anak – anak seni. Auranya itu lho. Sering mendengar mitos-mitos perilaku anak -anak seni, kan? Dandanan nyentrik, slang, kata-kata kotor, perpaduan antara kekerenan barat dan kebrengsekan lokal, “nakalnya” miras lokal, hingga teriakan “A Stone A!”, slang segelintir anak muda Bandung untuk meminta lagu-lagu Rolling Stone bahkan Slank.  Kadang untuk sesi after party DJ bukan memutar lagu-lagu “sedug secek”  yang digemari sosialita ibu kota, namun mereka malah memilih memutar lagu-lagu yang jarang diputar di acara “sedug secek”, semisal lagu-lagu era Woodstock, rare versionBlondie, pasukan post punk atau new wave-nya, hingga lagu latar serta percakapan film-film Indonesia, misalnya Gundala Putra Petir, Benyamin, Suzzana, hingga Warkop. Tentu  kejeprutan mereka merupakan keunikan tersendiri bagiku.

 “Punten , Gus, hujan badag euy.” 

“Nyantei, geus weh siap – siap maneh nyetem heula.

Agus merupakan salah satu orang yang bertanggung jawab atas terselenggaranya keriaan malam ini. Dia bersama kawan-kawan kolektif Gorong – Gorong dan anak – anak kampus tersebut mengadakan keriaan yang sejak delapan bulan yang lalu tidak terhelat. Lakonnya pun berbeda. Apabila pada April 2013 lalu keriaan dihelat untuk menyambut tur Czeska Mitows, solois bebunyian asal Malaysia,  maka untuk edisi ini lakonnya adalah Stéphanois, sebuah kelompok bebunyian asal Prancis. Biasanya pesta keriaan ini dihelat kalau bukan untuk menyambut kawan dari luar kota atau negara lain yang ingin sekedar nongkrong dan berbagi keriaan (baca: manggung) dengan kawan – kawan di kota ini, maka karena suntuk dengan rutinitas.

 “Nu lain kamarana Gus? Can daratang?”  kembali aku bertanya sembari memasang peralatan.

“Biasa Gung, hujan tea meur.

Ya, mungkin bagi mayoritas warga kota ini yang menggunakan sepeda motor hujan merupakan musuh terbesar. Bisa dikatakan, apabila hujan deras turun, segala hal bisa saja diundur, bahkan dibatalkan.

Seperti yang telah kusebutkan, kami akan bermain tanpa bas. Tadinya kami berharap dapat meminjam bas dari salah satu kelompok musik yang berbagi pertunjukan dengan kami, yaitu  Lazer Guided Melodies (LGM), sebuah kelompok musik yang  juga mencoba menerjemahkan kegilaan  New York artschool scene serta Krautrock akhir 70an. Namun apa lacur, Agus mengabari kami bahwa karena satu dan lain hal LGM tidak jadi pentas.

Mungkin terdengar kurang ajar, tidak tahu malu, atau gak modal, jika melihat tingkah laku kami, yang seenak jidat berekspektasi bahwa akan ada kawan yang meminjamkan bas kepada kami. Perilaku itu sudah cukup menggambarkan kekurangniatan kami. Padahal hanya aku saja yang tidak mempunyai alat bebunyian selain noise box. Hehe. Sementara kawan sekelompokku, yaitu Surya memiliki gitar beserta efek delay, sementara Andi memiliki set drum di rumahnya. Tidak niat? Ya, kami memang tidak berniat untuk menjadi kelompok yang musik yang serius. Hanya sekedar mengusir kebosanan belaka. Maka dari itu, aku tidak pernah berniat untuk mengulik bas sesuai dengan faedahnya. Jangangkan mengulik, sekedar menyisihkan uang untuk membeli bas saja tidak pernah terlintas di kepalaku. Terlebih lagi, masih banyak pengeluaran lain yang menurutku lebih penting daripada sekadar membeli bas.

 “Gus, urang asa acan mencium aroma perairan. Acan pede yeuh. Hehe.”

Acan euy, Gung. Gerombolan Bambang jeung Yudi can daratang. Biasana mun geusdatang osok gencar.”

Bukan bermaksud mengulangi tingkah laku usang mayoritas rockstar yang pernah hidup di planet ini. Namun, entah mengapa gejolak kawula muda yang hinggap dalam imajinasiku malam ini seakan menagih untuk segera dilakukan. Mungkin ini yang disebut hasrat empiris yang selalu timbul dalam jiwa anak muda.  Hasrat untuk mencoba terlebih dahulu sebelum membuat pernyataan atau penilaian. Jujur, aku belum pernah memainkan musik, bunyi, atau istilah bekennya disebut manggung dalam keadaan stoned.

Menurut kawanku, kami bermain selama hampir 30 menit. Puas?  Dengan tidak adanya bas dan frekuensi jamming serta latihan yang kurang tentu saja kami tidak puas. Namun untuk sekedar having fun bolehlah.

“Gung, minuman selamat datang heula atuh.” kata Emir.

Lagi-lagi pengulangan terjadi malam ini. Ya, aku kembali manggung dalam kondisi tak mabuk. Justru kondisi tersebut kembali tercipta paska aku manggung. Padahal ingin sekali aku mencobanya. Hehe. Mungkin karena kelompok bebunyianku selalu bermain di awal keriaan.  Maklumlah.

Emir merupakan salah satu yang bertanggung jawab malam ini dalam hal visual artpanggung, atau istilah bekennnya Visual Jockey (VJ). Bisa dibilang suguhan kebisingan yang ditawarkan pada malam ini mungkin akan terasa hambar tanpa bantuan visual tersebut. Dia terkenal sebagai VJ Gidil. Sementara dua orang lainnya mentitelkan dirinya dengan VJ Benclung dan VJ Kacrut. Oh ya, aku hampir lupa menyebutkan satu VJ lagi. Namun berbeda dengan ketiga VJ itu, yang bermain atas nama individu, mereka bermain atas nama kelompok, yaitu Politbiro, sebuah proyek kelompok seni visual yang bermarkas di kampus tersebut.

Baru saja kuteguk “minuman keakraban”  bersama kawan-kawan. Tiba-tiba suara bising kembali mengisi telinga kami. Kelompok musik yang bermain setelah kelompok bebunyianku bernama Sinaraga. Sekilas, atmosfir yang mereka tawarkan mengingatkanku pada campuran kelompok musik yang berlatar belakang sekolah seni asal YK  (baca: Yogyakarta), yaitu Cakar Harimau. Maaf, aku jarang mendengar referensi musik yang kalian tawarkan.  Jadi, aku tak bisa mendeskripsikan penampilan kalian. Hanya sekadar menerka.

Sebenarnya setelah Sinaraga selesai,  masih ada kelompok musik yang bermain. Namanya Lost Frequency. Sebuah proyek bising dari Patrick (Hotel California) dan Herman (Kamera Digital Ria). Namun, aku bersama kawanku lebih memilih untuk keluar sejenak. Sekadar mencari udara segar di tengah pekatnya asap rokok sembari menemani kawanku yang ingin membeli sebotol air mineral. Ternyata Joko membuka lapakan komik bersama kawan-kawan kampusnya. Nama komiknya cukup lucu, yaitu KOBRA alias Komik Baraong. “Maksud nakal di sini bukan berarti mengandung SARA, namun hanya berupa komik yang ingin membuat anda tertawa. Sesederhana itu.”  jawab Joko. Tak lupa gimmick-gimmickpada komentar komik tersebut bisa dibilang “mana tahan”, seperti “Inspiratip & Religiotip – Aceng Bedog” serta “Bikin Kita Gaul – Dodo”, dll.

Tiba -tiba Agus mengabarkan bahwa keriaan terpaksa dipercepat karena alasan birokrasi kampus yang menyebalkan. Ternyata tidak sepenuhnya akibat kebrengsekan otoritas kampus. Salah satu pengorganisir, Yudi, bercerita bahwa hal itu terjadi karena keterlambatan surat izin yang seharusnya dibuat oleh pihak BEM kampus kepada otoritas kampus. Namun karena satu dan lain hal —bullshit!– surat itu terlambat diberikan pada otoritas kampus. Akhirnya Agus, Yudi, dan kawan-kawan kampus bersepakat untuk menghelat keriaan tanpa seizin otoritas kampus. Pihak satpam kampus pun tidak tahu-menahu di dalam kampus sedang diadakan sebuah pesta, sehingga ketika tahu, mereka hanya memberi izin satu jam lagi. Ya! Kalian memang bernyali!

Kebetulan Rustam bersama kawan-kawan Suar, sebuah kelompok musik noise rock akhir 80an awal 90an, berencana untuk melakukan jamming di awal keriaan. Namun seperti yang telah diceritakan (baca: akibat hujan), mereka akhirnya di-set untuk jamming bersama  Stéphanois  di akhir acara.

Suasana chaos (dalam arti asyik) pun tercipta. Para penampil dan penonton saling merespon, entah dengan cara saling menubrukkan diri, membentuk circle pit, menganggukan diri, hingga memproduksi feedback sebising mungkin. Untungnya, tidak ada panggung (atau istilah bekennya level) dalam keriaan ini. Maka terciptalah suasana akrab antara penampil dan penonton pada malam ini.

Skena Alternative periode pertengahan 80an/awal 90an, New York Artschool akhir 70an – pertengahan 80an, post punk, No Wave, Noise Act atau apa pun sebutannya, bisa dibilang masih sedikit penggemar dan pengapresiasinya. Maka, tak heran sepintas keriaan ini bagaikan sebuah pesta pribadi. Bisa dilihat dari tidak adanya jarak antara penampil dan penonton, saling tegur sapa, berbagi minuman, berbagi rokok, saling tertawa, saling melakukan “kejeprutan”, dll.

Namun, beginilah asyiknya berpartisipasi dalam sebuah gig kecil atau skena kecil.

Mengenai pesta pribadi, atau bahasa kerennya private party, aku teringat pada kolom di sebuah situs yang mungkin sedang digandrungi oleh muda-mudi kelas menegah di kota besar (dengan ketertarikan yang spesifik tentunya) yaitu (Siregar , Fajri http://jakartabeat.net/kolom/konten/para-priyayi-baru). Bila diibaratkan, fenomena yang kita lakukan, nikmati, dan kita rayakan itu merupakan cerminan dari  apa yang dikatakan Umar Khayam perihal kultur priyayi. Apabila dahulu para priyayi  merayakan kehidupan mereka dengan pergi ke bioskop kelas satu serta berdansa – dansi, yang tentunya tidak dapat diakses oleh pribumi jelata a.k.a wong cilik pada masa itu, maka toh tak ada bedanya dengan yang kita lakukan pada malam itu, bukan? Mengadakan sebuah pesta. Yang datang dan menikmatinya adalah orang yang itu-itu lagi. Kalau gak penampil, ya temannya penampil, kalau gak temannya VJ,  temannya si pengorganisir hura – hura, atau orang yang (beruntung) memiliki akses untuk menikmati keriaan tersebut. Bahkan, apabila sebuah kebiasaan yang dilakukan sekelompok anak muda (yang memiliki ketertarikan spesifik) mulai diadopsi oleh khalayak, kadang sekelompok anak muda tersebut mulai merasa risih, seperti memberi cap dengan pelbagai ungkapan, misalnya mainstreamalay, sell out, kurang RCA (Roots Character Attitude), dll. Meskipun kultur yang kita serap dan kita praktekan merupakan budaya pop. Toh, secara gak sadar, mau gak mau kita mungkin kita sudah berperilaku layaknya priyayi di zaman noni – noni Londo, bukan? Jadi teringat juga dengan esai yang ditulis oleh Manan di Lembar Kebudayaan Indoprogress edisi empat yang berjudul “ Makin Terbatas Makin Adiluhung” : Surat Untuk Samin tentang Musik Non Arus Utama di Jakarta (Rasudi, Manan, Mochamad : http://indoprogress.com/lkip/?p=626#_ftn3 ).

Ah, mau memberontak kek, mau politis kek,  mau mengusir kebosanan kek, jenuh akan rutinitas kek, misalnya tumpukan tugas yang anjing edan pisan! Bekerja! Terseralah. Lelah, bukan, mengutak-atik kesamaan antara priyayi, kelas menengah (dengan spesifikasi ketertarikan tertentu), maupun hipster? Yang penting malam ini kita berpesta, bukan? Toh, kita tidak menggangu atau bertindak ofensif .

Selasa, 24 Desember 2013

Kamar Kosan, Sukawening, Jatinangor (17:08)

 

Keterangan:

Sebelumnya dipublikasikan pada notes pribadi penulis, diterbitkan ulang untuk tujuan pendidikan.

Sumber Gambar http://www.creativereview.co.uk/cr-blog/2010/

2 COMMENTS

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?