(sumber gambar: http://espliego.wordpress.com/2014/03/14/bruegel-triumph-of-death/)

“Dalam sejarah dunia epidemi telah terjadi sama banyaknya dengan perang – dan begitu juga dengan perang, epidemi selalu menyergap manusia tanpa persiapan.” Albert Camus

Epidemi merupakan kata yang senantiasa menggoyahkan keberanian umat manusia. Ketika epidemi telah menjangkiti sebuah kota atau negara, harapan seketika sirna dan manusia dipaksa pasrah menunggu ujung angin bencana berhenti dengan sendirinya. Ebola adalah salah satu dari epidemi yang berulang kali menghantam dataran Afrika – keberadaannya bukanlah dongeng dari abad lampau, tapi nyata terjadi saat ini di Guinea, Liberia, Nigeria, Senegal dan Sierra Leone – negara-negara yang kemudian diisolasi untuk mencegah penyebaran yang lebih luas. Sejak indikasi merebaknya kembali Ebola pada akhir 2013, sepertiga dari jumlah warga negara-negara yang terjangkit telah menjadi korban. Dunia melihat epidemi ini dengan mata terbuka, karena media internasional secara terus-menerus merekam pembakaran jenazah yang tidak ada habisnya. Asap hitam pembakaran mayat memenuhi udara, persis seperti yang terjadi di Athena ribuan tahun lalu ketika wabah typhoid melanda kota itu. Dan dengan menyaksikan pembakaran ini kita tersudut pada sebuah realitas: bahwa sejauh apapun manusia berjalan di tangga peradaban, ia tidak mampu menaklukan kematian yang datang dengan caranya sendiri.

Wabah ebola tidak luput dari tarian mengerikan sang kematian – korban berjatuhan didepan warga yang diam karena tidak tahu harus berbuat apa kecuali menatap dengan mata penuh ketakutan. Pada kelompok warga inilah dampak terbesar sebuah epidemi nyata dirasakan: mereka terhimpit antara maut yang ada di depan mata dan batas kota/negara yang tertutup rapat – dengan kata lain dunia membiarkan mereka menanti kematian disana. Namun, isolasi adalah sebuah keharusan yang telah dilakukan selama manusia mengenal sejarah epidemi – Athena, Konstatinopel, dan London, merupakan kota-kota yang pernah kehilangan harapan akibat isolasi, sedangkan dalam cakupan lebih luas, Mesir, Spayol, bahkan daratan Eropa dan bagian selatan kontinen Amerika mengalami hal serupa akibat pes hingga malaria. Kondisi ini membawa kengerian bentuk lain, yaitu keputusasaan dan kegilaan yang menggerogoti akal sehat.

Black Death adalah epidemi yang menjangkiti Eropa pada abad 14 dan merenggut hampir 70% populasi Eropa dalam rentang 7 tahun penyebarannya. Namun tingginya angka kematian bukan hanya disebabkan sampar yang mendera Eropa kala itu, tapi juga karena kegilaan yang melanda: sebuah kegilaan massal didorong oleh pencarian penyebab wabah yang hampir sia-sia. Masyarakat lalu membabi buta membunuh siapa saja yang dianggap penyebar wabah, diantaranya adalah: Yahudi (sejarah mencatat pembakaran etnis Yahudi pada era ini dalam jumlah mencengangkan), orang yang dianggap memiliki “pandangan setan”, dan pembunuhan terhadap seluruh anggota keluarga dari seseorang yang terjangkit penyakit. Kengerian ini menyebabkan Eropa pada abad 14 sebagai panggung pesta pora Dewa Kematian yang diabadikan oleh banyak pelukis saat itu melalui sebuah genre lukisan: Danse Macabre (the Dance of Death), yang hingga saat ini masih banyak menghiasi dinding di sudut-sudut kota Eropa.

Tujuh abad kemudian kita melihat sang maut menari (kembali) di daratan Afrika atas nama Ebola, dan keputusasaan pun menggantung di langit bersama asap pembakaran mayat berwarna hitam pekat. Berbeda dengan Eropa yang kebingungan menghadapi Sampar Hitam pada abad 14, penyebab dari epidemi yang melanda kali ini dapat didiagnosa sejak awal kemunculannya. Namun, ternyata diagnosa dan penamaan resmi (baca: Ebola), tidak memperingan beban dari wabah itu sendiri. Pemerintah negara yang terjangkit tetap kewalahan menghadapi penyebaran yang semakin meluas – sebuah kondisi yang memperkuat pandangan bahwa sesering apapun wabah menyerang umat manusia, kita tidak pernah siap menghadapinya. Selain itu, ketakutan manusia untuk berhadapan dengan maut dalam bentuk nyata menjadi permasalahan lain: tidak ada yang mau menjadi relawan ataupun pahlawan ketika kondisi yang dihadapi nyaris tanpa harapan. Hal ini sangat berbeda ketika yang dihadapi adalah bencana alam atau perang: dalam bencana alam, maut telah lewat bersama bencana yang melanda, dalam perang, maut masih bisa membedakan kawan atau lawan, tapi dalam epidemi, maut terbang kemana saja bersama angin atau daun yang berjatuhan. Sehingga walaupun pola isolasi cukup efektif untuk mencegah penyebaran dari sebuah epidemi, tapi tidak pernah kuat untuk menahan [gelombang] ketakutan – dan ketakutan adalah hambatan utama penanganan Ebola di Afrika saat ini, juga di setiap epidemi yang ada.

Dalam perkembangannya, metode penanganan epidemi masih sama dari masa ke masa: penanganan menyeluruh berarti isolasi wilayah yang terjangkit, pemisahan korban, pembersihan ruang, pemberlakuan masa darurat, dan penanganan mayat. Pengobatan dalam sebuah epidemi seringkali sia-sia karena berlomba dengan penyebaran yang terjadi – bahkan dalam beberapa kasus, obat belum ditemukan. Hal lain yang menarik dalam perkembangan epidemi adalah sifatnya yang diperluas: korbannya tidak lagi hanya mengacu pada diagnosa fisik, tapi juga diterapkan pada permasalahan mental dan sosial. Dari sinilah kita berhadapan dengan bentuk epidemi lain, yaitu: kekerasan dan kebebalan. Secara akar bahasa, istilah epidemi tidak menyalahi aturan ketika dilekatkan pada keduanya – epidemi merupakan bahasa Yunani dengan arti harfiah “terjadi pada masyarakat” – dan pada tataran kasus, masyarakat kita tidak kekurangan satupun diantaranya.

Kekerasan masuk kedalam ranah epidemi ketika disadari bahwa kondisi (mental) alamiah ini muncul dalam bentuk massal dan menular. Seperti gelaja pada wabah kolera di Somalia dan TBC di Eropa pada abad 19, kekerasan dan pembunuhan massal di Rwanda pada tahun 1994 menunjukan kurva ukuran epidemik yang sama. Kekerasan memiliki karakteristik serupa dengan penyakit dalam penyebarannya: dari orang ke orang, lingkungan ke lingkungan lain, dan bahkan berlangsung dari satu komunitas ke komunitas lain [1]. Jika kolera berawal dari bakteri, maka pada kasus Rwanda, kekerasan dibentuk sedemikian rupa melalui pemicu yang ampuh: konstruksi etnisitas. Melalui berbagai kasus kekerasan yang menyebar dengan cepat, kita dapat melihat bahwa “epidemi kekerasan” bukanlah sekedar slogan teoritis semata. Sifat kekerasan yang menular disebabkan persinggungan seseorang dengan kekerasan – baik sebagai pengamat, saksi atau korban – yang seringkali menjadikannya pelaku kekerasan itu sendiri. Atas pola penularan dan penyebaran yang memiliki kesamaan dengan (wabah) penyakit, maka beberapa pakar menerapkan pola penanganan epidemik untuk menghadapi berbagai kasus kekerasan, termasuk dalam penanganan terrorisme dan penyebaran kekerasan pada perang sipil. Diantara penanganannya dilakukan pemberlakuan isolasi dan pengaturan wilayah ketat untuk menghindari penyebaran ideologi kekerasan dan perekrutan warga sipil yang meluas[2].

Lalu bagaimana dengan kebebalan?. Belum terdapat penelitian khusus yang secara eksplisit menyatakan bahwa kebebalan merupakan penyakit menular, atau dalam titik yang ekstrem: epidemi. Namun, keberlangsungannya yang berada tepat di depan mata sungguh terlampau mengganggu untuk tidak dihiraukan. Kebebalan sendiri memiliki padanan kata “bodoh” atau “sukar mengerti”, yang secara ironi seringkali disebarkan lewat ajakan “sok pintar” dan “sok mengerti”. Fanatisme buta (agama) adalah contoh nyata yang terjadi di tanah air tentang bagaimana kebebalan mampu muncul dalam tataran yang mengganggu, bahkan menyebar luas dengan cepat. Berbeda dengan kekerasan [fisik] yang dapat dilokalisir, kebebalan mampu menembus ruang karena korban yang dituju mati secara metaforik – ia mati secara naluriah dan kehilangan daya nalar. Bentuk penularan ini menjadikan isolasi mustahil dilakukan, terlebih karena kehadiran dunia maya yang memungkinkan bebasnya gagasan beterbangan kemana-mana, sehingga kebebalan mampu merangsek hampir ke seluruh kalangan masyarakat, mulai dari pengusung ideologi abal-abal hingga elit politik yang “sok mengerti” kemauan rakyat. Melalui penggambaran lingkup dan sebaran ini, entah apakah kebebalan dapat dimasukkan kategori darurat epidemik, – tapi ada suatu kepastian, bahwa dalam sebuah wabah (termasuk yang disebabkan “penyakit” kebebalan) seseorang dihadapkan pada tiga pilihan moral: menjaga idealisme dengan melakukan lebih untuk mengubah kondisi, berjalan pasrah sejalan dengan arus, atau oportunis yang menjadikan wabah sebagai keuntungan bagi dirinya[3]. Dari ketiganya, moral idealistlah yang memiliki resiko paling tinggi untuk menjadi gila.

Gambaran kebebalan di negeri ini memang tidak sebanding jika disandingkan dengan wajah kengerian yang muncul di Afrika atas nama Ebola. Namun satu hal membuat bulu kuduk berdiri: epidemi ebola, seperti sampar hitam, malaria, flu kuning, atau TBC, akan menghilang sejalan dengan siklus alam yang memiliki kehendaknya sendiri, tapi tidak demikian dengan kekerasan dan kebebalan yang akan hadir selama manusia ada di muka bumi.

Keterangan:

[1] Slutkin, Gary, 2014, Violence is Contangious Disseas, National Academic Press: Washington, hal. 100

[2] Zhukov, Yuri, 2013, “An Epodemic Model of Violence and Public Support on Civil War” dalam Conflict Management and Peace Science, Sage Publication, hal: 39

[3] Camus, Albert, 2006, Sampar (terj), Yayasan Obor Indonesia, Jakarta

2 COMMENTS

  1. Wah kalau kata saya sih wabah kebebalan jauh lebih mengerikan dari pada wabah penyakit lahiriah manapun.. Bukan apakah kapan persisnya dunia ini akan berakhir, namun bagaimana kita memaknai detik ini. Apakah kita akan “menjaga” kebebalan kita dalam menyikapinya atau mencoba untuk lebih bijak dan terbuka? yah, sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab untuk penderita kebebalan stadium 4 hehe.

  2. Kalau kata saya sih kebebalan jauh lebih mengerikan dari wabah penyakit lahiriah teh..
    Kadang kita terlalu sibut untuk untuk memastikan apa yang akan kita dapatkan besok karena kita merasa cukup pintar untuk itu dan lupa untuk memaknai hari ini dengan lebih bijak dan terbuka.

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?