The Starry Night (1889)

Ada banyak hal yang dapat diangkat dari kisah seorang Vincent Van Gogh – tentang latar belakang relijius keluarganya, tentang kehidupannya sebagai misionaris evangelist, tentang Theo, adik yang begitu dekat dengan Vincent dan meninggal enam bulan setelah kematiannya, tentang insiden potong telinga yang menggemparkan warga Arles, atau tentang kegilaan sang pelukis. Beragam sudut pandang tentang Vincent Van Gogh merupakan gambaran betapa ia telah menjadi mitos. Segala seluk beluk kehidupannya ditelaah sedemikian rupa – mulai dari lukisan, sketsa hingga surat-suratnya diperlakukan sebagai harta berharga. Sungguh sebuah hal yang bertolak belakang dengan kesendirian dan isolasi yang dirasakan sang artis semasa hidupnya. Dari ribuan lukisan yang lahir di tangannya, ia hanya berhasil menjual satu lukisan. Dan kisah hidupnya selama rentang 37 tahun adalah rentetan dari satu fase depresi ke fase depresi yang lain. Namun melalui tangannyalah dunia bertemu salah satu bakat terbaik dalam karya lukis.

Vincent Van Gogh meninggal pada 29 Juli 1890 dalam salah satu aksi bunuh diri paling dikenal sejarah: Ia menembak dirinya sendiri di tengah-tengah ladang gandum dan meninggal dua hari kemudian. Kejadian ini hanya berjarak dua bulan sejak ia keluar dari rumah sakit jiwa di Saint Remy. Dapat dikatakan bahwa masa setelah didiagnosa dengan kegilaan adalah puncak kreativitas bagi Van Gogh. Dalam sehari ia dapat menyelesaikan tiga buah lukisan – sebuah angka yang menakjubkan bagi pelukis manapun. Hampir keseluruhan lukisan pada periode ini mengambil subjek bentang alam (landscape painting) – senada dengan saran Dr. Gachet, dokter yang menyarankan Van Gogh untuk melukis di alam terbuka sebagai bentuk terapi. Namun ternyata depresi terus mengikutinya, sebagaimana diungkap dalam surat yang ditujukan kepada Theo di penghujung tahun 1889: “I saw death under the flickr of yellow light” – lalu ia mencoba melukis sosok kematian tersebut, berulang kali, dalam sebuah metafora: pohon siprus.

Bagi seorang pelukis, sebuah objek akan berubah menjadi obsesi ketika ia belum berhasil menaklukannya. Begitupun pohon siprus bagi Van Gogh, ketertarikannya pada objek ini menghadirkan seri lukisan siprusnya yang terkenal, antara lain: Cypresses (1889), The Starry Night (1889), Wheat Field with Cypresses (1889), Cypresses with Two Figures (1889–1890) dan Road With Cypress and Stars (1890) – jumlah diatas menjadi berlipat, karena ia melukis satu judul dalam berbagai versi. Dalam surat lainnya kepada Theo, ia menyatakan: “The cypresses are always occupying my thoughts, because it astonishes me that they have not yet been done as I see them..It is a splash of black in a sunny landscape, but it is one of the most interesting black notes, and the most difficult to hit of exactly that I can imagine”. Ambisi untuk menangkap bentuk dan warna siprus yang tepat dan sempurna adalah salah satu alasan mengapa ia begitu terobsesi pada objek tersebut. Namun, selalu terdapat pembacaan lain dibalik sisi artistik Van Gogh, salah satunya dikemukakan oleh Jessica Caldrone dalam artikel berjudul “The Cypress Trees in The Starry Night: A Symbolic Self-Portrait of Vincent Van Gogh” – sebuah pembacaan yang paralel dengan kondisi psikologisnya saat itu: bahwa pohon siprus bagi Van Gogh adalah surat panggilan untuk kematian (deathwish).

Pohon siprus sendiri dalam kebudayaan Eropa merupakan simbol kehidupan abadi yang dimulai dari satu titik: kematian. Sejak jaman Yunani Kuno kepercayaan tentang imortalitas disandingkan dengan mitos Cyparissus yang mati lalu bangkit kembali menuju keabadian. Gagasan ini nampaknya begitu berkesan bagi Van Gogh, sebuah keabadian setelah kematian yang dapat melepaskannya dari himpitan sesak kehidupan. Van Gogh dalam suratnya berujar: “When I had done those sunflowers, I looked for the contrast and yet the equivalent, and I said – It is the cypress”. Ya, Van Gogh pernah terobsesi pada kehidupan (melalui simbolisasi bunga matahari), yaitu ketika ia jatuh cinta kepada salah seorang modelnya bernama Margot Begemann (sayangnya Margot meninggal karena overdosis strychnine). Dalam metafora Van Gogh, siprus merupakan kebalikan dari bunga matahari: simbolisasi hasrat menggebu akan kematian, yang setara dengan hasrat membabi butanya terhadap kehidupan. Caldrone kemudian menekankan pembacaan [simbolisasi] siprus pada karya monumental Van Gogh, The Starry Night (1889). Siprus pada lukisan tersebut adalah simbol kematian yang didorong oleh isolasi Van Gogh dari masyarakat, komunitas seni dan lingkungan sekitarnya. Van Gogh, bagaimanapun, selalu menginginkan lukisannya masuk kedalam galeri untuk dipamerkan, tapi hal itu berujung pada satu penolakan ke penolakan lain. Menurut Caldrone, itulah mengapa dalam The Starry Night, Van Gogh meletakkan pohon siprus berada jauh menyendiri diatas kota – dengan kata lain, dalam kesunyian. (Entah apa yang akan dirasakan sang pelukis, jika saja ia tahu, bahwa lukisan ini kelak akan menjadi salah satu pajangan paling diincar oleh museum dan galeri kelas atas dunia).

Van Gogh sendiri menggambarkan siprus “layaknya Obeliks Mesir” – sebagai jembatan antara bumi dan langit. Ada kesan relijius disana, pandangan yang telah lama ia tinggalkan sejak diberhentikan dari posisi misionaris oleh sebuah gereja di pinggiran Kota Brussel. Beberapa pakar lalu menyandingkan periode lukisan siprus sebagai fase kembalinya relijuisitas dalam diri Van Gogh (karena bentuknya yang menyerupai menara gereja) – tapi tidak ada pijakan valid atas pembacaan ini. Terlepas dari perdebatan para pakar dan pengkaji, sebuah pandangan menarik dikemukakan oleh Theo Van Gogh dalam suratnya kepada Dr. Gachet paska kematian sang kakak, ia mengemukakan bahwa siprus dalam beberapa lukisan yang digambarkan berdampingan, mengingatkannya pada bipolaritas Van Gogh (yang menjadikannya sangat lembut, namun dapat berubah menjadi kasar beberapa waktu kemudian). Surat inilah yang kemudian menjadi dasar pandangan Caldrone bahwa lukisan siprus merupakan simbolisasi potret diri bagi Van Gogh: dimana ia adalah subjek sekaligus objek dari kematian yang menggema dalam lukisannya.

Entah disengaja atau tidak, pembacaan Caldrone (2010) tentang potret diri Van Gogh dalam lukisan siprus hampir senada dengan esay Aldous Huxley berjudul Landscape Painting as Art Inducing-Vision (walau saya tidak menemukan tulisan Huxley sebagai referensi dalam artikelnya). Cyprees karya van Gogh (bersandingan dengan lukisan Rembrandt berjudul “Mill”) merupakan pengecualian dari pakem ideal tentang bentang alam. Huxley dalam esaynya merangkum pandangan umum bahwa lukisan alam adalah imitasi dari alam itu sendiri. Tentu didalamnya akan banyak reduksi ataupun bias subjektif sehingga keberhasilan seni (dalam menangkap keindahan alam) adalah mendekati mustahil. Oleh sebab itu, untuk menghasilkan lukisan alam yang ideal, seorang pelukis harus mampu melepaskan diri dari “sudut pandangan manusiawi” yang keranjingan simbol. Karenanya, Water Lilies karya Monet adalah salah satu contoh ideal karena Monet berhasil melepaskan beban simbolisasi dari lukisan alam dan menjadikan Water Lilies sebagai Water Lilies – bukan hal lain. Namun, keberhasilan para impresionist (Monet khususnya) dalam menanggalkan simbolisasi dihantam oleh Van Gogh dengan melakukan kebalikannya: bahwa lukisan bentang alam Van Gogh sama sekali bukan lukisan tentang alam, tapi merupakan sebuah potret diri. Ladang gandum, pohon oliv juga siprus dalam lukisan Van Gogh berbicara tentang isolasi, depresi, juga kegilaan. Dalam hal inilah dunia harus mengakui kehebatan Van Gogh karena ia berhasil meletakkan visi idealnya sendiri – sebagai antitesis dari pakem impresionist yang diagungkan saat itu. Dan ia, melalui jajaran siprusnya, melahirkan genre yang dikenal dengan istilah post-impresionism. Anehnya, bentang alam dalam lukisan Van Gogh juga mampu memunculkan “inducing vision” (pandangan yang menenangkan), walau alam versi Van Gogh berbenturan sangat hebat dengan kehancuran dan kematian. Dalam ungkapan Huxley: Thus isolated, these transient appereances take on a kind of absolute Thing-in-itselfhood – bahwa segala hal yang terisolasi, adalah absolut bagi dirinya sendiri. Dan Van Gogh menghentak melalui gambaran: bahwa tidak ada yang lebih menenangkan dari kehancuran diri yang absolut.

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?