Charles Bukowski and Alf (Sumber: http://pulpfactor.com/art/1336/sr-x-street-art/)

Terdapat genre nyentrik dalam lingkup sastra yang salah satu pojoknya dihuni seorang penyair anti-sosial yang tidak mempedulikan keberadaan tetangganya (sang sastrawan besar Aldous Huxley)[1] dan menyebut karya Shakespeare sebagai “tidak bisa dicerna dan terlalu dibesar-besarkan”. Genre itu disebut dirty realism (realisme lusuh)[2] sedangkan sang penyair eksentrik adalah Charles Bukowski. Berbagai cerita menarik beredar di seputar Bukowski: mulai dari catatan kriminalnya, alkoholisme yang sengaja dipelihara (menurutnya, hanya penyair pemabuk yang menghasilkan puisi bermakna – dengan Li Po sebagai role model), pengakuan sebagai penyair terbaik Amerika dari sastrawan dunia lain (salah satunya dari Sartre), hingga kabar burung bahwa sosok Charles Bukowski adalah rekaan semata (desas desus ini beredar karena ia kerap bersikukuh untuk tidak tampil di depan khalayak umum). Bukowski bukanlah anomali di dunia penyair, karena bukan penyair namanya jika patuh pada konvensi sosial dan betah berlama-lama dalam ilusi kenyamanan[3]. Adapun beda antara Bukowsi dengan penyair atau sastrawan lain adalah kedekatannya dengan belly-side of contemporary life[4] musabab inilah yang menjadikannya mampu menampilkan keindahan dari hal (yang hampir) tidak memiliki arti.

it sits outside my window now

like and old woman going to market;

it sits and watches me,

it sweats nevously

through wire and fog and dog-bark

until suddenly

I slam the screen with a newspaper

like slapping at a fly

and you could hear the scream

over this plain city,

and then it left.

the way to end a poem

like this

is to become suddenly

quiet.

(Love and Fame and Death, Charles Bukowski)

Ketika membaca karya-karya Bukowski, sebuah adegan dalam puisi Rendra (Blues untuk Bonnie) terlintas di kepala: yaitu ketika sang Negro menghentakkan kaki dan merasakan encok untuk pertama kalinya. Begitulah kira-kira impresi puisi Bukowski bagi saya, ia sama sekali tidak berupaya memperindah kondisi dunia, atau membuatnya lebih baik – puisinya jadi serupa encok – tajam, dan menyisakan sumpah serapah. Ketika ditanya apa fungsi penyair bagi dunia, Bukowski menjawab: “The role of the poet is almost nothing…drearily nothing”. Sinisme ini menjangkit hampir di seluruh karyanya, alhasil puisi dan esaynya dimasukkan kedalam kategori realisme lusuh –­ sebuah genre sastra yang secara harfiah merupakan lawan dengan realisme magis yang memukau. Alih-alih membuat pembacanya tersihir, realisme lusuh bermain diseputar ironi yang menertawakan kehidupan.

Istilah realisme lusuh sendiri pertama kali digunakan oleh David William Foster untuk menggambarkan Las Tumbas (1972) karya Enrique Medina. Novel ini bercerita tentang kehidupan seorang anak yang ditelantarkan ibunya. Foster mendefinisikan realisme lusuh, sebagai komitmen untuk menggambarkan pengalaman sehari-hari tanpa menggunakan euphemisme – dengan menghindari penggunaan jargon politik atau metafora transenden – sehingga kehidupan dapat jujur dan hadir tanpa tedeng aling-aling[5]. Komitmen ini terpampang jelas di mata seorang Bukowski[6], yang padanya realisme lusuh menjelma menjadi saujana rekaman kehidupan sosial. Disini terlihat jelas perbedaan antara genre realisme lusuh dengan ligkup realisme sosial yang juga berbicara dalam bahasa yang sama – yaitu bahasa jalanan, nyanyian kolong jembatan dan syair selokan. Jika realisme sosial merupakan upaya penyadaran atas kondisi sosial, maka realisme lusuh hanya akan bercerita, dan sesekali menyumpah (mungkin karena kehidupan yang terasa seperti encok, maka penyair dalam genre ini kehilangan minat untuk menyebarkan kesadaran sosial atau entah apapun itu). Dan dalam hal ini, tidak ada yang lebih lihai menyumpah daripada Bukowski.

what we need are less poets

what we need are less Bukowskies

what we need are less Billy Grahams

what we need is more

beer

a typist

more finches

more green-eyed whores who don’t eat your heart

like a vitamin pill

we don’t think about the terror of one person

aching in one place

(The Church, Charles Bukowski)

Hingga saat ini belum ada yang menyamai Bukowski dalam kelihaiannya menertawakan realitas. Ia menjadi semacam Cynic[7][8] era modern di tengah hiruk pikuk kata-kata. Selain pusi-puisinya, terdapat juga novel yang berbicara dengan “kelusuhan” yang sama, diantaranya:  Post Office (1970), Factotum  (1975), Women (1978), Ham on Rye (1982), Hollywood (1989), juga rangkaian cerita pendek dalam Hot Water Music (1983). Tentang gaya penulisannya sendiri, Bukowski menjelaskan: when you come in from the factory with your hands and your body and your mind ripped, hours and days stolen from you, you can become very aware of a false line, of a fake thought, of a literary con game. It hurt to read the famous writers of my day, I felt that they were soft and fake…that they had never felt the flame[9].

Cerita lain tentang Bukowski adalah bagamana ia menciptakan persona bernama Henry Chinaski yang berfungsi sebagai katalis untuk memunculkan ekspresi alternatif tentang dunia. Chinaski ia gunakan juga untuk mengomentari peran seniman dalam masyarakat (yang menurutnya nyaris nihil), menyuarakan identitas non-konformisnya, dan kemiskinan yang “memabukkan”. Melalui metode ini, Bukowski dianggap berhasil mengungkapkan absurditas dunia dengan tetap menjaga jarak sehingga tidak tenggelam dalam keputusasaan[10]. Tapi barangkali, Bukowski dan pengusung genre realisme lusuh lainnya tidak terpikir untuk putus asa – karena kesibukan mereka dalam membangun jembatan ironi antara satu realita dengan realita lainnya. Pada akhirnya jajaran karya dalam genre realisme lusuh ini nampaknya sedikit demi sedikit telah berhasil menggulirkan kembali roda perspektif dalam puisi. Seperti halnya gerakan romantisisme yang mendobrak simbolisme, maka realisme lusuh menghantam “sastra berbunga-bunga”, yang menurut Bukowski: It’s over-delicate. It’s over-precious. It’s a bunch of trash. Poetry for the centuries is almost total trash. It’s a con, a fake. Di Indonesia sendiri bentuk genre ini masih minim dikenal. Mungkin karena luput dan tidak menjadi perhatian, atau mungkin karena kontemplasi artistik ala Bukowski memang tidak mudah ditaklukan.

To give me the guts and the love to, go (Cows in Arts Class, Charles Bukowski)

Keterangan dan Sumber:

[1] Berikut cuplikan sebuah wawancara yang dilakukan Arnold Kaye untuk Chicago Literary Times (1963): (Kaye) Does it bother you that Huxley is in a position to spit on you?. (Bukowski) I haven’t even thought of Huxley, I never talk to him a bit, but now that you mention it, no, it doesn’t bother me.

[2] Terdapat kesulitan dalam mencari padanan untuk frase dirty realism. Secara harfiah dapat diartikan realisme kotor, namun kata “kotor” dalam bahasa Indonesia kadung memiliki konotasi negatif, sehingga menggunakan istilah seorang kawan, (Boy Nugroho, dylanistopian.com), “kusam” atau “lusuh” dapat lebih menggambarkan maksud dari istilah tersebut.

[3] Berasal dari kutipan terkenal Frank Zappa: ide terbaik hadir dari penyimpangan.

[4] The belly-side of contemporary life – a deserted husband, an unwed mother, a car thief, a pickpocket, a drug addict – but they write about it with a disturbing detachment, at times verging on comedy (https://granta.com/archive-access/8/)

[5] Foster, David William, 1997, “The Dirty Realism of Enrique Medina” dalam  Arizona Journal of Hispanic Cultural Studies, Volume 1, hal. 77-96

[6] hanya analogi, maksudnya karya Bukowski

[7] Aliran filsafat yang mengusung nilai-nilai luhur dengan hidup sederhana. Berasal dari kata kynikos, yang berarti “seperti anjing”

[8] Walaupun Bukowski selalu protes apabila dinyatakan sebagai Cynic, namun sayang sekali – pembacalah yang berkuasa

[9]Charles Bukowski, 1999, Letters, Vol 3, hal: 95

[10] ibid.

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?