Segala sesuatu yang ada di muka bumi ini, atau bahkan di alam semesta, terbentuk dari zat-zat yang telah jutaan tahun belum mampu di definisikan secara pasti oleh beragam makhluk yang ada dan pernah ada di dalamnya. Umat manusia pun pada paruh akhir era modern baru mampu meraba-raba bagaimana bumi dan semesta ini dapat terbentuk. Zat-zat ini kemudian diberi nama dan diteorisasikan oleh manusia-manusia yang konon intelek dan cerdas. Namun kita tidak pernah tahu pasti apa dan bagaimana zat-zat ini saling membentuk.

Sejarah nampak bermula dari sebuah ‘zat’ yang kita namai ‘ide’: ia membangun penjelasan tentang segala hal yang menjadi misteri bagi umat manusia. Melalui ide, progres peradaban dapat tercipta. Melalui ide, kita bisa menikmati tetek bengek yang mencirikan eksistensi peradaban manusia. Akan tetapi melalui ide juga, tetek bengek peradaban bisa hancur, hilang, dan musnah.

Adalah benturan ide tentang sesuatu (apakah itu tentang ketuhanan, politik kenegaraan, kesejahteraan, kebudayaan, dan lain-lain) yang membuat sesuatu yang sebelumnya ada menjadi tiada: hancur, terkikis oleh ide lain yang berlawanan. Disini lah manusia menemukan titik ironi yang paling akut. Di satu sisi ide-ide manusia membentuk cara untuk eksis dan bertahan hidup dalam sekelebat hidup di dunia, namun di sisi lain ide-ide ini pulalah yang mematikan eksistensi dan cara hidup manusia yang lain.

Ini bukan mengenai narasi Huntington yang diagung-agungkan oleh para ilmuwan dari Barat yang pragmatis. Ini mengenai bagaimana perbenturan ide, yang membuat kita hidup dan mati,  dapat menghasilkan bentuk kehidupan dan ide yang baru. Seringkali mesti melalui ketiadaan.

Ini adalah sebuah narasi anti-materi, yang merupakan realitas kita sebagai makhluk yang sendi-sendi terkecilnya merupakan bagian dari partikel-partikel alam semesta yang berbenturan satu sama lain.

Aang dan Aliyuna, kawan karib saya terkadang jatuh berlarut-kentut dalam perdebatan tentang bagaimana anti-materi bisa terejawantahkan dalam blog ini. Saya pribadi melihat benturan ide ini sebagai realitas yang mesti kita terima dengan gembira.

Ketika benturan ide bertransformasi menuju dimensi ketiadaan, di situlah kita semua menemukan titik persamaan: bahwa identitas kita setara sebagai partikel dari alam semesta yang tidak lagi mempedulikan identitas yang bersifat duniawi dan temporal. Jubah keagamaan, kebangsaan, status sosial sehari-hari, dan mazhab pemikiran akan menguap bersamaan dengan berjalannya waktu perbenturan. Sehingga dalam ketiadaan, saya bersyukur dalam tawa.. nothing else does matter in the end. What really matter is, the process how of each idea dances with other ideas through times…

5 COMMENTS

  1. “yang merupakan realitas kita sebagai makhluk yang sendi-sendi terkecilnya merupakan bagian dari partikel-partikel alam semesta yang berbenturan satu sama lain”. wew, keyen…

    ps: aang yang kentut pap, bukan gw hehehe

  2. Misteri Alam Raya terus di Teliti dengan Texnologi Yang Sangat Canggih Dengan Sumber Biaya yang sangat besar

  3. aduuh bangsatnya org2, padahal akan mati jg kan. makin dinantikan artificial intelligence realitasnya seperti apa atau alien akan datang menginvasi hahaha

Kesan, Pesan ataupun Cacian Anda?